PAHLAWAN NASIONAL - Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin berjalan melewati lukisan Tombolotutu, Pahlawan Nasional dari Sulteng, di Istana usai peringatan Hari Pahlawan, Rabu 10 November 2021. (Foto: Setpres)
  • Tombolotutu, Pahlawan Nasional Asal Sulteng dan Kegigihannya Melawan Belanda (3-Habis)

Pemerintah Belanda terus mencari Tombolotutu, namun tidak berhasil. Tombolotutu yang kala berada di tempat persembunyiannya di Kampung Tongkabo. Seperti apa kelanjutannya? Ikuti kisahnya berikut ini.

ADA tiga bulan lamanya, Tombolotutu bersama istri dan pengawalnya berada di Kampung Tongkabo. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Unauna. Di sini mereka disambut Raja Unauna, Lapalage Laborahima.

Awal Mei 1899, Tombolotutu kembali ke Moutong. Perahu yang ditumpanginya mendarat di Pantai Moi’an, sehingga tidak diketahui oleh Belanda. Tombolotutu kembali mengatur pasukannya untuk menyerang kedudukan Belanda di Moutong. Kala itu, Tombolotutu mendapat bala bantuan pasukan sukarela dari sejumlah penduduk desa. Mulai dari Molosipat, Olonggata, Salimpangut, Lala, Tuladenggi, Tompo hingga Taopa.

Sayangnya, kegiatan Tombolotutu itu diketahui oleh Belanda. Serdadu Marsose memutuskan menyerang lebih dulu sebelum Tombolotutu rampung mempersiapkan pasukannya. Penyerangan itu terjadi pada Juni 1899. Serdadu Morsose mendapatkan perlawanan ketat baik dari pasukan Tombolotutu maupun dari rakyat Moutong dan sekitarnya. Serangan serdadu Morsose kali ini gagal. Mereka tidak mampu menaklukkan pasukan Tombolotutu yang menggunakan strategi gerilya.

Perang antara serdadu Morsose dan pasukan Tombolotutu di Lobu ini berlangsung dua bulan. Tetapi, tidak membuahkan hasil. Sementara biaya perang terus membengkak. Residen Manado kemudian mengirimkan bala pasukan untuk membantu serdadu Morsose pada November 1899. Setibanya pasukan bantuan dari Manado dan Gorontalo itu, Belanda melakukan penyerangan besar-besaran. Semua kekuatan militer di Teluk Tomini dikerahkan untuk menyerang pasukan Tombolotutu. Serangan ditujukan ke Katabang Raja Besar di Kampung Lobu. Tujuannya untuk menghacurkan pusat logistik pasukan Tombolotutu. Namun, strategi gerilya yang digunakan pasukan Tombolotutu membuat pasukan Morsose Belanda tidak berkutik.

Upaya pasukan Marsose untuk mencapa Katabang Raja Besar pada tahun 1900 dilipatgandakan. Keinginan Belanda untuk menaklukkan Katabang Raja Besar makin terlihat setelah bala bantuan pasukan yang dikirim oleh Residen Manado Jellesma tiba di Moutong.

Pada tanggal 11 Oktober 1900, Jellesma mengirimkan 25 tentara. Pasukan itu berangkat dengan kapal Java dari Manado menuju Moutong. Mereka tiba di Kampung Lobu pada 14 Oktober 1900 saat fajar menyinsing. Mereka langsung mengepung Kampung Lobu yang dicurigai sebagai basis pasukan Tombolotutu. Sekitar 40-an warga Kampung Lobu melawan serdadu Marsose tersebut. Hanya dalam sehari, Belanda berhasil menghancurkan Kampung Lobu. Penduduk yang tersisa dipaksa tunduk kepada Daeng Malino. Perang ini disebut Perang Lobu II.

Strategi bumi hangus berhasil memecah kekuatan Tombolotutu. Sasaran utama bumi hangus adalah menguasai lumbung logistik, termasuk di dalamnya kebun, sawah, dan pelabuhan. Perang Lobu II dapat melumpuhkan kekuatan Tombolotutu dan banyak prajuritnya tewas.

Pasca Perang Lobu II, Tombolotutu lebih banyak berkonsentrasi mencari solusi atas kekalahannya dan terus berusaha mengkonsolidasikan kekuatan agar pada saat yang tepat dapat melakukan serangan balik.

Setelah Perang Lobu II, Tombolotutu menjadikan Bolano sebagai pusat pertahanan yang baru. Pusat pertahanan inilah yang menjadikan perang Tomboltutu menjadi sangat lama. Bantuan olongian dan magau Bolano sangat berarti bagi Tombolotutu.

Belanda kembali mengirimkan bantaun pasukan dari Manado untuk menyerang Tombolotutu di Bolano. Pasukan Belanda dari Manado tiba di Bolano pada akhir Oktober 1900 dan langsung melakukan penyerangan. Penduduk Bolano kala itu melakukan perlawanan dengan memanfaatkan apa yang ada, seperti batang bambu, pohon kayu, serta batu karang untuk menahan serangan pasukan Belanda. Namun, dengan persenjataan lengkap, setelah empat hari melakukan penyerangan Pasukan Belanda berhasil menembus pertahanan pasukan Tombolotutu dan menduduki Bolano. Tercatat 27 pasukan Tombolotutu terbunuh. Dan akhirnya Tombolotutu dan para tadulako memutuskan meninggalkan Kampung Bolano.

Kontrolir Dumas memerintahkan Daeng Malino agar pengikut Tombolotutu yang tertangkap dan orang Moutong yang dicurigai memberikan dukungan segera diadili, termasuk pemimpin Bolano. Daeng Malino melaksanakan permintaan Dumas.

Pengadilan adat pun dibentuk. Pada Februari 1901, beberapa orang dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman kerja paksa pada proyek-proyek pemerintah Belanda, seperti pembuatan jalan dan jembatan selama beberapa waktu di bawah pengawasan petugas keamanan.

Eddy Rumambi menyebutkan, setelah kekalahan perang di Bolano, Tombolotutu dan pasukannya bergerak menuju Tampapopa, suatu daerah pedalaman yang sulit dijangkau. Kala itu, istrinya Pua Pika sedang hamil dan terkadang harus ditandu. Untuk menghindari Belanda, Tombolotutu menjelajah rimba dan mendaki gunung hingga akhirnya tiba di Vuntuan Salae. Lokasi dimana menjadi tempat pertemuan Tombolotutu dan induk pasukan pimpinan Daeng Raka.

Sebelum sampai ke Tampapopa, Tombolotutu ingin bertemu dengan Olongian Boinampal dan Magau Tampapopa, Lapatau.

Sayangnya, tidak terlaksana karena Belanda telah membangun pos militer. Tadulako Lasamandang yang diutus ke Tampapopa, tanpa sepengetahuan Tombolotutu dan Daeng Raka, menyerang pos militer pasukan Belanda pada tengah malam. Dan berhasil membakar pos militer Belanda itu di Tampapopa. Pasukan Belanda mengalami kerugian dan dua tentaranya terbunuh.

Tombolotutu dipandang sebagai tokoh masyarakat Moutong yang sangat disegani dan dicintai rakyat, sehingga kematiannya menjadi target utama Belanda. Kategori berbahaya ini dilihat dari sudut pandang luasnya wilayah pergolakan, lamanya perang, dana, dan kemampuan tempur yang dimiliki. Keempat kategori itu mewarnai perlawanan Tombolotutu. (udin salim/habis)

Ayo tulis komentar cerdas