UCAPAN SELAMAT - Mulhanan Tombolotutu (kiri) mewakili keluarga didampingi Gubernur Sulteng H Rusdy Mastura (tengah) menerima ucapan selamat dari Presiden Joko Widodo (kanan) sesaat setelah menerima gelar Pahlawan Nasional untuk Tombolotutu di Istana Presiden, Rabu 10 November 2021. (Foto: Setpres)
  • Tombolotutu, Pahlawan Nasional Asal Sulteng dan Kegigihannya Melawan Belanda (2)

Kontrak politik yang ditandatangani Daeng Malino kala itu, menimbulkan dampak yang kurang bagus bagi kehidupan sosial, ekonomi dan politik di Moutong. Tombolotutu dan pengikutnya kecewa. Berikut lanjutan kisahnya yang dikutip dari Buku “Bara Perlawanan di Teluk Tomoni, karya Lukman Nadjamuddin dkk.

PADA bulan September dan Oktober 1898, terjadi perang di Lobu. Ketika itu serdadu marsose (disebut-sebut pasukan elite Belanda) lebih dulu menyerang Labuan Mandar di Moutong. Setelah itu dilanjutkan dengan menyerang Katabang Raja Besar di Lobu.

Perang itu bertujuan untuk menghentikan suplai logistik dari Laut Tomini. Sekaligus untuk memburu dan menangkap warga yang dicurigai sebagai pasukan Tombolotutu. Para serdadu marose tidak hanya menangkap warga, tetapi juga membumihanguskan perkampungan Labuan Mandar yang kala itu sebagai pelabuhan tempat keluar masuknya barang.

Saat perang terjadi, Tombolotutu dikawal dengan beberapa tadulako kepercayaannya mengatur pasukannya ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok berkekuatan antara 20 sampai 50 orang. Mereka dipersenjatai dengan sumpit, tombak dan perang.

Tombolotutu tahu serdadu marsose memiliki kelengkapan perang yang memadai, sehingga dapat melakukan serangan mendadak. Itulah sebabnya, Tombolotutu membagi pasukannya ke beberapa kelompok. Setelah itu dia memerintahkan pasukannya untuk menempati lokasi-lokasi strategis yang terlindung oleh hutan belantara, bukit dan lembah.

Serdadu marsose tidak mengetahui seberapa besar kekuatan pasukan Tombolotutu. Karena itu, mereka tidak langsung melakukan penyerangan terhadap pasukan Tombolotutu di Lobu.

Penyerangan terhadap pasukan Tombolotutu di Lobu baru dilakukan setelah serdadu marsoses mendapat tambahan kekuatan dari Gorontalo. Serangan itu dilakukan pada minggu kedua Oktober 1898. Eddy Rumambu menyebutkan, saat perang itu berlangsung selama dua pekan, posisi kedua pasukan tidak berubah, tidak maju atau mundur.

Melihat kekuatan pasukan Tombolotutu, serdadu Marsose mengubah siasat. Mereka menyatukan kekuatan dan mengarahkan serangan langsung ke pusat pasukan Tombolotutu yang berada di Kampung Lobu. Pertempuran sengit berlangsung selama lima hari. Akibat pertempuran itu, banyak pasukan dari kedua pihak yang tewas. Tidak hanya tentara, masyarakat sipil dan anak-anak pun ada yang meninggal. Untuk mengeliminir itu, Tombolotutu kemudian memerintahkan agar anak-anak, orang tua, dan perempuan diungsikan dari Kampung Lobu.

Pengalaman tempur serdadu Morsose yang didukung senjata modern membuat pasukan Tombolotutu kewalahan. Akhirnya pada hari ke-11 peperangan, pasukan Tombolotutu memutuskan untuk meninggalkan Katabang Raja Besar menuju ke pegunungan.
Kekalahan dalam perang Lobu pertama, membuat Tombolotutu kehilangan beberapa tadulako dan bala tentara. Pada akhir Juni 1900, Tombolotutu menemui saudara tirinya di Togean, Walea Kepulauan. Kedatangannya untuk menemu Makarau atau Poidaelolo dan Pawajoi. Pertemuan itu membahas situasi yang terjadi di Moutong dan upaya membebaskan Moutong dari penjajahan Belanda.

Dalam pertemuan Poidaelolo menyatakan, jika diperlukan, pihaknya bersedia menyiapkan pengikutnya untuk membantu Tombolotutu. Namun, pertemuan dan rencana perlawanan itu sampai ke telinga Kontroleur Poso FH Dumas. Setelah mendapat laporan itu, FH Dumas langsung menyiapkan kapal Serdang bersama sejumlah pasukan berangkat ke Walea pada Juli 1900.

Operasi penangkapan Tombolotutu pun itu dilakukan. Saat itu sempat terjadi pertempuran singkat, yang menyebabkan Poidaelolo bersama sejumlah pengikutnya berhasil ditangkap pasukan Belanda. Kala itu, Tombolotutu berhasil meloloskan diri dengan menggunakan sebuah perahu dan kembali ke Bolano. Selama di Bolano, Tombolotutu mendapat perlindungan dari Olongian Bolano.

Setelah situasi dipandang aman, diam-diam Tombolotutu kembali ke Kampung Lobu. Di sini Tombolotutu kembali mengkonsolidasi pasukan dan memilih Katabang Raja Besar sebagai pusat pertahanan.

Peristiwa pelarian ke Walea hingga kembali ke Bolano dan bergerak menuju Kampung Lobu diceritakan secara rinci oleh Eddy Rumambu. Dia menyebutkan, setelah kekalahan dalam perang di Kampung Lobu, Tombolotutu kembali menghimpun kekuatan dan menghubungi keluarga yang bermukim di Pulau Walea. Secara diam-diam berangkat ke Walea melalui pantai Moi’an untuk meminta bantuan pasukan yang sudah disiapkan oleh Pua Daelolo atau Makarau di Kampung Lebiti.

Tombolotutu dan rombongan tiba di Kampung Dolong, Pulau Walea Kodi. Setelah beristarahat beberapa hari, Makarau mengabarkan bahwa pasukan yang dipersiapkannya sudah berkumpul di Kampung Lebiti. Pasukan itu berasal dari Kepulauan Togean, Wakai, Walea (Walea Kodi dan Walea Bahi) dan Balantak.

Mendengar kabar itu, Tombolotutu sangat gembira dan langsung berangkat ke Lebiti untuk menemui pasukan tersebut. Sesaat setelah Tombolotutu berangkat ke Lebiti, sekelompok pasukan Marsose tiba di Kampung Dolong. Mereka mengira Tombolotutu masih berada di Dolong. Setelah tahu bahwa Tombolotutu sudah berangkat ke Lebiti, pasukan Marsose itu pun menyusul Tombolotutu ke Lebiti untuk menangkapnya.

Setibanya di Lebiti, Tombolotutu mendapat sambutan hangat dari seluruh pasukan dan penduduk sekitar. Dalam suasana kegembiraan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara tembakan meriam dari kapal perang yang diikuti pendaratan serdadu Marsose. Perkelahian terbuka antara serdadu Marsose dan pasukan Tombolotutu tak terhindarkan. Dengan menggunakan senjata tradisional berupa keris, tombak, kelawang, panah dan sumpit, pasukan Tombolotutu menyerang serdadu Marsose.
Pertempuran itu berlangsung seimbang. Pasukan Tombolotutu lebih banyak dibandingkan serdadu Marsose. Hanya kalah dalam hal persenjataan. Senjata pasukan Marsose lebih maju daripada senjata milik pasukan Tombolotutu.

Kala itu, serdadu Marsose kiriman Kontroleur Poso FH Dumas itu tidak berhasil menangkap Tombolotutu. Tombolotutu bersama istrinya Pua Pika dan sembilan pengawalnya berangkat dari tempat persembunyiannya di Pantai Pasokan, Pulau Walea Kodi menuju ke Kepulauan Togean. Tombolotutu sempat singgah di Dolong untuk pamit kepada kakaknya Makarau.

Perjalanan laut Tombolotutu kala itu hanya boleh dilakukan pada malam hari, agar luput dari mata-mata Belanda. Mereka berlayar menyusuri pantai melalui pulau-pulau kecil di Kepulauan Togean menuju Moutong. Setelah sebulan berlayar, Tombolotutu dan istri dan pengawalnya tiba di Kampung Tongkabo.

Eddy Rumambi mengatakan, kala itu Belanda terus memburu Tombolotutu. Mereka menyebar mata-mata untuk mencari keberadaan Tombolotutu di Walea Kepulauan. Akan tetapi tidak membuahkan hasil. Mereka tidak menemukan jejak persembunyian Tombolotutu. (udin salim/bersambung)

Ayo tulis komentar cerdas