SKETSA - Tombolotutu. (Sumber: FKIP Untad)
  • Tombolotutu, Pahlawan Nasional Asal Sulteng dan Kegigihannya Melawan Belanda (1)

Peringatan Hari Pahlawan, Rabu 10 November 2021 menjadi hal yang tidak terlupakan bagi warga Sulawesi Tengah, khususnya keluarga besar Tombolotutu. Hari ini, Pemerintah RI menyerahkan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Tombolotutu, salah satu tokoh penjuang di Sulteng. Seperti apa sepak terjangnya melawan Belanda? Metro Sulawesi menurunkan tulisan berikut ini yang dikutip dari buku “Bara Perlawanan di Teluk Tomoni, karya Lukman Nadjamuddin dkk.

MENJELANG akhir abad XIX, situasi di Moutong makin tidak kondusif. Timbul berbagai konflik antar kelompok masyarakat dan elite. Pergantian raja tidak mampu meredam konflik tersebut. Pergantian raja mengindikasikan adanya berbagai kepentingan elite politik lokal para olongian, uleo, dan magau dan daerah vassalnya, serta kepentingan Gorontalo dan Belanda. Inilah yang membuat tatanan di Moutong terganggu.

Suksesi kekuasaan memosisikan Kerajaan Moutong makin berada di bawah hegemony Hindia Belanda. Dukungan Belanda terhadap Daeng Malino(Raja Moutong) menjadi alasan timbulnya perlawanan Tombolotutu. Belanda membuat kontrak perjanjian yang merugikan Moutong, khususnya di bidang ekonomi dan politik. Inilah yang kemudian menjadi sebab munculnya perlawanan Tombolotutu terhadap Belanda.

Meskipun secara ekonomi telah dirugikan oleh Belanda, namun hingga tahun 1897, tidak ada perlawanan dari kelompok elite atau rakyat biasa di Teluk Tomini, khususnya Moutong. Namun demikian, riak-riak politik yang memicu perlawanan sudah mulai muncul. Yaitu ketika Tombolotutu memulai perjalanan ke berbagai daerah kekuasaan Moutong guna memperoleh dukungan politik pada tahun 1896.

Menurut Edy Rumambi, Tombolotutu berkunjung ke wilayah Moutong menggunakan perahu naga-naga untuk menemui olongian, magau dan rakyat. Di setiap kunjungan Tombolotutu selalu mendapat sambutan hangat. Respons positif inilah yang dimanfaatkan untuk menggalang dukungan guna menentang kekuasaan Belanda.

Tombolotutu sangat dikenal di kalangan masyarakat bawah dan selalu menjalin kerjasama dengan para olongian dan magau untuk memobilisasi penduduk guna menentang Pemerintahan Hindia Belanda.

Upaya Tombolotutu rupanya tidak disadari Pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggap bahwa Moutong sebagai daerah aman yang dapat dikendalikan oleh kekuasaan Belanda dari Gorontalo.

Pewaris Tahta

Sebagai seorang keturunan bangsawan tinggi di kalangan kerajaan Moutong, Tombolotutu pertama kali mengobarkan perang di Moutong pada tahun-tahun pertama abad XX. Tombolotutu disebut-sebut sebagai pewaris tahta Kerajaan Moutong yang berdarah bangsawan, terutama dari pihak ibu. Tombolotutu memiliki aliran daerah Kaili dari garis keturunan ibu, sehingga sering disebut dengan nama Poidara atau menurut dinasti ibunya sebagai Poidarawati (Pua Darawati).

Di kalangan masyarakat Moutong ada pengakuan bahwa setelah Pondatu tidak lagi menjadi raja, maka yang layak menggantikannya adalah Tombolotutu. Namun Belanda tidak menginginkan itu terjadi. Belanda lebih memilih sepupunya, Daeng Malino, yang kala itu menjabat sebagai Marsaoleh Tinombo untuk menggantikan Pondatu. Daeng Malino diangkat sebagai raja pada April 1898 oleh Residen Manado EJ Jellesme setelah menandatangani kontrak politik.

Perlakuan Belanda itu memicu sikap tidak bersahabat Tombolotutu. Dan oleh Kurais DP Masulili dan Eddy Rumambi memandang sebagai sikap ksatria.

Tombolotutu memiliki posisi dan pengaruh yang kuat di Moutong. Selain karena garis keturunan atau geneologisnya yang melegitimasi sebagai pewaris tahta, darah Bugis yang mengalir menjadikannya sosok yang disegani di kalangan komunitas Bugis yang berdiaspora di Moutong dan sepanjang pantai Teluk Tomini.

Ketika pelantikan Daeng Malino diumumkan pada 3 Juni 1898, beberapa kelompok orang-orang dekat Tombolotutu mengambil sikap tegas. Mereka menganggap pelantikan itu tidak sah, karena menurut tradisi Kaili, keturunan garis ibu lah yang lebih diutamakan daripada ayah. Karena itu Daeng Malino harus diturunkan dan Tombolotutu atau Poidarawati (sumber lokal disebut Pua Darawati) harus dilantik sebagai raja.

Eddy Rumambi menyebutkan pengangkatan Daeng Malino menjadi raja Moutong terjadi pada 11 Mei 1898. Namun, Haliadi dkk menyebut Daeng Malino diangkat menjadi Raja Moutong pada 14 Mei 1898. Terlepas dari perbedaan itu, baik Eddy maupun Haliadi dkk menjelaskan bahwa setelah dua peristiwa penandatangan kontrak politik dan pengangkatan Daeng Malino, kondisi sosial politik di Teluk Tomini terganggu. Inilah yang menjadi awal perlawanan Tombolotutu.

Bagi Tombolotutu, sikap Daeng Malino yang menerima kontrak politik buatan Belanda dan juga kehadiran konsesi pertambangan menjadi simbol kelemahan yang tidak bisa dibiarkan. Daeng Malino dianggap tidak mampu mempertahankan integritas Moutong sebagai kerajaan yang merdeka dari dominasi kolonial.

Komitmen moral itulah yang menjadikan sosok Tombolotutu diterima semua kalangan, baik elite maupun masyarakat luas. Hal ini relevan dengan semboyan Timbolotutu “natuvu noberoka, namate maupa (hidup penuh berkah, mati meninggalkan nama)”.
Pada 16 September 1898, Tombolotutu diundang ke Moutong oleh Daeng Malino. Saat itu, Tombolotutu sedang mengorganisir pasukan di Katabang Raha Besar, Kampung Lobu, Moutong. Edu Rumambi menyebutkan, awalnya Tombolotutu menolak undangan itu karena menduga ada yang tidak beres. Namun karena desakan keluarga dan kerabat, Tombolotutu pun akhirnya menghadiri undangan itu.

Dikawal beberapa tadulako, Tombolotutu yang bergelar Pua Darawati itu datang ke tempat pertemuan. Daeng Malino beserta rombongan yang melihat kedatangan Pua Darawati langsung berdiri untuk menjemput. Melihat situasi yang mencurigakan, tangan kanan Pua Darawati langsung memegang hulu keris Lacori, sedangkan tangan kirinya siap untuk menjabat tangan Daeng Malino.

Sikap Pua Darawati itu mengisyaratkan bahwa tangan kanan yang memegang hulu keris sebagai kesiapsiagaan. Sedangkan tangan kiri yang menjabat tangan Daeng Malino sebagai isyarat tidak mengakui status Daeng Malino sebagai raja. (udin salim/bersambung)

Ayo tulis komentar cerdas