BERMURAL KONSEP METAL - Bowo (tengah melukis) salah seorang penggagas Komunitas Penahitam Chapter Palu tengah menghidupkan acaranya lewat lukisan berkonsep metal, dalam gelaran acara satu bulan Penahitam Palu berdiri. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)

Palu, Metrosulawesi.id – Komunitas Penahitam Palu muncul dari permukaan sekaligus merayakan eksistensinya yang baru sebulan lahir  lewat acara kolektif pertunjukan seni.  Gelaran yang bertempat di salah satu kedai kopi di Jalan Anoa, Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Minggu malam, 31 Oktober 2021 ini menampilkan beragam kreatifitas seni seperti mural dan musik tradisional asli Suku Kaili, irama kental Lalove.

Secara umum, Penahitam, yang tersebar di 10 titik daerah Indonesia pada Oktober 2021 merayakan hari lahirnya yang telah berusia sepuluh tahun.

Meskipun menurut Bowo, pemuda asal Kota Palu sebagai salah satu pencetus Penahitam Palu menuturkan, Penahitam sebenarnya tak bisa memastikan tanggal berapa berdirinya.

“Namun yang jelas setiap Oktober tahun berjalan seluruh Komunitas Penahitam se-Indonesia merayakan. Ya perayaannya seperti penampilan seni (secara) kolektif begini,” ujar Bowo kepada jurnalis media ini seusai acara.

Selain bermural dengan konsep dan tema yang rumit, musik tradisional hingga modern, Penahitam Palu turut menyajikan atraksi musik dan lukis kental dengan idealisme seni tanpa sekat.

“Di samping itu juga dihadirkan pameran artwork atau kinerja seni, sajian musik experimental, serta kami sediakan lapak jualan bebas seperti stiker dan emblem band dan rokok kretek lintingan,” imbuh Bowo.

Baik Penahitam Palu hingga Penahitam umum, adalah ideologi searah berbasis segala macam karya seni bawah tanah atau underground, serta wadah kolektif bagi sesiapa saja yang tertarik dengan visi dan karya mereka.

Penahitam yang awal berdiri di Kota Malang, Jawa Tengah, sejatinya memaknai perayaan hari jadi ini dengan “Do with Your Friend” atau bisa diartikan merayakan bersama pertemanan.

Luapan dinamika hidup terkhusus di era urban saat ini munculkan berbagai perspektif dan sekat.

Opini itu layak disematkan kepada penggagas Penahitam Palu karena dengan tegas mereka menolak pembatasan sekat karya seni, bahkan mereka tak sungkan menolak korporasi dengan segala tawaran menggiurkan, tetapi membatasi luasnya karya seni itu sendiri.

“Kalau ditanya program besar ke depan setelah acara ini apa? Jawabannya hanya konsisten berkarya. Sampai karya itu minimal tidak disepelekan orang-orang,” lugas Bowo bersama enam rekan lainnya, sembari bersama mengembangkan Komunitas Penahitam Palu.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas