MEMULUNG - Tiyas, bocah tujuh tahun bersama neneknya mengumpulkan barang bekas di area perkantoran Donggala, Senin 25 Oktober 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

TIYAS, bocah perempuan itu setiap hari menemani neneknya memulung. Dia ingin bersekolah, tapi tak punya sepatu.

Laporan: Tamsyir Ramli, Donggala

Sebab ia tak punya perlengkapan sekolah.

“Ada juga adik laki-laki ku om masih TK, tidak sekolah juga, saya bertiga dengan nenek bacari kertas bekas, gelas aqua juga, saya mau sekolah ulang om, tapi tidak ada uang beli perlengkapan sekolah,” kisahnya.

Sementara sang nenek Sumiati (50 tahun) tidak bisa melarang kedua cucunya yang rela ikut berjalan hingga berjam-jam mengelilingi area perkantoran hanya untuk mengumpulkan barang bekas. Karena menurutnya kedua cucunya itu tidak ada yang menemaninya di rumah.  Hasil memulung ini tidak selamanya mendapatkan barang bekas yang melebihi dari target.

“Kalau kertas bekas harganya hanya Rp 1.000 per kilogram, kalau aqua gelas Rp 4000 per kilogram, tidak langsung saya jual juga, saya kumpul dulu sampai satu bulan baru saya jual.  Biasanya satu  bulan itu hanya Rp 150,”kisahnya.

“Tidak menentu juga penghasilan sebagai pemulung, tergantung barang rongsokan yang kami temukan,” bebernya.

Nenek yang sudah ditinggal suaminya mengatakan uang hasil memulung untuk kebutuhan membeli beras dan membayar listrik setiap bulannya.

“Kalau dapat uang Rp 150,000 per bulan, lima puluh ribu bayar listrik, seratus ribunya beli beras, tidak pernah saya terima bantuan dari kelurahan, kami dirumah itu cucu dan 3 anak saya,” tuturnya.

Ayo tulis komentar cerdas