Haliadi Sadi, SS., M.Hum., Ph.D. (Foto: Istimewa)

Oleh: Haliadi Sadi, SS., M.Hum., Ph.D.

Abstraksi

Pada tahun 1990, Sjarfien Moh. Saleh, dalam tulisannya yang berjudul“Na Isilaaman Ko Banggai” dinyatakan bahwa Kuburan Imam Sya’ban di Banggai berangka tahun 168 hijriyah, yang dikutip berikut:“Waktu meninggalnya IMAM SYA’BAN hari rabu jam 4 sore 168 H, berangkat meninggalkan dunia fana menuju alam baka, dan Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun” informasi yang dikumpulkan sebagai kesimpulan dari oral history masyarakat Lolantang Pulau Peling yang berada di Kabupaten Banggai Kepulauan. Hal itu menjadi sebuah temuan penting untuk melengkapi kedatangan awal Islam dalam historiografi Islam di Indonesia Timur yang termasuk dalam jalur rempah Nusantara. Studi ini akan mendalami oral history sebagai memory kolektif masyarakat Banggai yang tentu saja akan dikombinasi dengan sumber nisan kuburan Imam Sya’ban yang bertuliskan Arab Melayu (Aksara Serang). Hasil temuan tulisan dalam makalah ini akan menguraikan secara umum bahwa Jalur Pelayaran Banggai adalah jalur tertua di dari Barat Nusantara menuju Timur terutama Ternate dan juga sebaliknya. Selain itu, Kuburan Imam Sya’ban yang berangka tahun 168 H akan menjadi temuan baru di Kawasan Indonesia Timur terutama mengenai awal mula masuknya Islam di Kawasan Pulau Sulawesi bagian Timur.

I. Pendahuluan

H. J. De Graff dalam Ahmad M. Sewang mengatakan bahwa Islam disampaikan di Wilayah Asia Tenggara melalui tiga cara, yakni oleh pedagang muslim yang damai, Da’i atau orang suci (wali) dari India dan Arab mengIslamkan orang-orang yang belum beragama, dan Muslim melalui panaklukan atau perang terhadap negara penyembah berhala.1 Hal yang sama terjadi di Sulawesi Tengah, yakni Islam dibawakan oleh para pedagang Muslim, dana tau Ulama ke Sulawesi Tengah sebagai orang suci dengan tujuan mengIslamkan raja dan penduduk termasuk di wilayah Banggai. Proses Islamisasi yang dikemukakan oleh H. J. De Graff dapat dijadikan sebagai acuan untuk menganalisis Islamisasi di Sulawesi Tengah. Penjelasan ini ditandai oleh keberadaan pedagang muslim yang datang di wilayah Sulawesi Tengah dibuktikan dengan ditemukannya keramik kuno yang berasal dari Dinasti Ming dan mata uang yang berlukiskan huruf Arab. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam dibawa oleh para pedagang Muslim ke Sulawesi Tengah secara damai. Meskipun Islamisasi di Sulawesi Tengah tidak terdapat catatan tertulis mengenai jumlah penduduk Sulawesi Tengah yang masuk Islam melalui jalur perdagangan. Namun pernikahan antara raja dengan keluarga pembawa Islam merupakan bukti bahwa sudah ada orang Sulawesi Tengah yang memeluk Agama Islam sejak lama.

Penerimaan Agama Islam di beberapa tempat Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, Islam diterima terlebih dahulu oleh lapisan  masyarakat bawah, kemudian berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas (elite) atau penguasa kerajaan. Kedua, Islam diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan kemudian disosialisasikan dan berkembang kepada masyarakat. Proses islamisasi di Sulawesi Tengah tampak pada pola kedua yakni Islam diterima oleh elite kerajaan seperti putera raja kemudian disosialisasikan kepada masyarakat golongan bawah sebagai hasil interaksi mereka dengan para pedagang muslim. Pedagang Muslim yang menyebarkan Islam di seluruh Nusantara, sebagaimana ditegaskan J. Noorduyn bahwa: Faktor yang lebih menentukan penyebaran agama Islam di Indonesia dipandang dari sudut sejarah dan geografi. Menurut pandangan yang berlaku, ialah perdagangan luar negeri dan perdagangan antar Indonesia. Orang-orang yang pertama-tama membawakan agama ini ke pelbagai daerah di Indonesia adalah saudagar-saudagar India dan Iran, kemudian orang Melayu dan orang Jawa.2

Menurut buku Haliadi Sadi dan Syamsuri bahwa agama Islam masuk ke Sulawesi Tengah dalam tiga tahapan utama, yakni tahapan mitologis, ideologis, dan tahapan ilmu pengetahuan. Agama Islam di Sulawesi Tengah dibawa oleh seorang ulama yang bernama Datu Karama atau Abdullah Raqiy pada tahun 1606 dengan mengenalkan   agama  Islam   secara  mitologis. Kemudian, agama  Islam dikembangkan oleh orang-orang Sulawesi Selatan termasuk La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone dari Gorontalo pada tahun 1842 termasuk juga Ahmad Lagong dan Pue Lasadindi dengan mengembangkan agama Islam secara ideologis. Selanjutnya, agama Islam dikembangkan oleh Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri dengan memperkenalkan agama Islam sebagai Ilmu Pengetahuan pada Perguruan Alkhairat pada tahun 1930 termasuk murid-muridnya yang terkenal seperti Dg. Maria Djaelangkara, KH. Awad Abdun, KH. Syakir Hubaib lalu menyusul  Muhammadiyah dan Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) di Sigi dan Sulawesi Tengah.

Sebuah refleksi yang dilakukan oleh Hasdin Mondiga yang berjudul: “Satu Abad Runtuhya Peradaban Banggai Fase Awal Kebangkitan.” Hal ini menarik untuk dibahas karena penulis teringat pada buku yang dikarang oleh Asvi Varman Adam yang berjudul “Seabad Kontroversi Sejarah,” disana diwacanakan dalam dua argument besar, yakni: Kontroversi Dalam sejarah Indonesia dan Dekonstruksi Sejarah Indonesia.3 Ide itu kalau dibawa pada rekonstruksi sejarah Banggai, maka kontroversi sejarah Banggai terletak pada tiga raksasa atau gurita yang menggerogoti ke-banggai-an, yakni Belanda, Jepang, dan negara pasca kolonial alias Indonesia (baca: Orde Lama dan Orde Baru). Sedangkan, dekonstruksi sejarah Banggai diarahkan pada penguatan nilai-nilai lokal yang telah mengakar selama kurang lebih empat (4) abad dan menyatukan teritorial Banggai di daratan maupun di Lautan (Tano Bolukan).

Ada banyak teori tentang bagaimana sejarah berubah. Ada teori yang dilihat dari pelakunya, caranya, dan arahnya. Berdasarkan pelakunya, ada dua teori yang bertentangan, yakni; teori orang besar (hero workship) dan teori tentang massa. Berdasarkan cara sejarah berubah ada dua teori, yakni: revolusi dan evolusi. Sedangkan, berdasarkan arah pergerakan sejarah, ada empat macam, yakni:  Pertama, sejarah sebagai gerak maju (the idea of progress, linear); Kedua, sejarah sebagai gerak mundur (kejatuhan); Ketiga, sejarah sebagai siklus (lingkaran abadi,  eternal return); Keempat, sejarah sebagai gerak bergantian seperti musim (tumbuh,  berkembang, layu, dan jatuh).4 Perkembangan atau sejarah ke-Banggai-an baik dari perspektif peradaban dan kebudayaan kami memilih perkembangan atau transformasi sejarah sebagai siklus (lingkaran abadi atau eternal return).

Hasdin Mondiga melihat bahwa fluktuasi nama Ping-Yai (Abd ke-11), Benggawi (abd ke-14), Tano Bolukan (abd ke-15), dan Kabupaten Banggai Kepulauan (kini) yang hadir dalam bingkai Indonesia dengan menyisakan “berbagai kemerosotan, penghinaan, penghisapan, dan penindasan.”5 Pemikiran mengenai satu kesatuan Banggai terpecah dan terpetakan oleh sebuah kolonisasi Belanda, Jepang, dan Indonesia hingga kini. Kita tidak pernah menyadari bahwa konsep-konsep lokal (local genius) akan menjadi sebuah konsep tata Negara yang memadai  untuk  sebuah  cita-cita  bersama  seperti  ide  Banggai  Darusalam yang menurut penulis bukan sekadar kabupaten, kenapa tidak menjadi sebuah ide “Propinsi Banggai Darussalam.”

Pengalaman sejarah banggai sebagai sebuah kerajaan telah berdiri sejak paruh akhir abad ke-16 dimulai dari Raja Maulana Prins Mandapar (1571-1601), lalu menyusul raja lainnya seperti Mumbu Doi Kintom (1602-1630), Mumbu Doi Benteng (1630-1650), Mumbu Doi Balantak Mulang (1650-1689), Mumbu Doi Kota (1690-1705), Mumbu Doi Bacan Abu Kasim (1705-1749), Mumbu Doi Mendono (1749-1753), Mumbu Doi Padangko (1754-1763), Mumbu Doi Dinadat Raja Mandaria (1763-1808), Mumbu Doi Galela Raja Atondeng (1808-1815),  Mumbu Tenebak Raja Laota (1815-1831), Mumbu Doi Pawu Raja Taja (1831- 1847), Mumbu Doi Bugis Raja Agama (1847-1852), Mumbu Doi Jere Raja Tatu Tonga (1852-1858), Raja Soak (1858-1870), Raja Nurdin (1872-1880), Raja H. Abdulazis (1880-1900), Raja H. Abdurrahman (1901-1922), Raja Awaluddin (1925-1939), Raja Nurdin Daud(Anak-Anak simbolis), dan Raja HAS.Amir (1941- 1957). Dari 21 (dua puluh satu) wangsa yang memicu proses perjalanan masyarakat Banggai sebagai satu kesatuan teritorial yang berdaulat, beradab, dan berbudaya terobrak-abrik oleh munculnya Negara Pasca Kolonial. Pada kertas kerja ini akan diuraikan satu kuburan penting sebelum Kerajaan itu muncul, yakni Kuburan Imam Syaban di Lolantang Banggai Kepulauan.

II. Gambaran Umum Sejarah Banggai

Secara demografis, Banggai pada tahun 1920 memiliki penduduk sejumlah 76.633 jiwa sepuluh tahun kemudian yakni di tahun 1930 penduduk Banggai itu berjumlah 95. 515 jiwa. Keadaan itu berubah lagi pada tahun 1961 bahwa penduduk Banggai berjumlah 144.879 jiwa.6 Jadi, transformasi penduduk Banggai selama  kurang lebih 40 tahun mengalami peningkatan dari 76 ribu jiwa menjadi 144 ribu.

Keadaan itu menunjukkan bahwa tingkat mobilitas penduduk Banggai sangat tinggi dan perubahan itu harus diselingi oleh kebijakan yang pro pada mobilitas yang tinggi, dengan demikian sejarah lokal mengajarkan bahwa dinamika lokal yang dinamis harus mendapat perhatian yang serius terutama penulisan sejarah berdasar analisis historis yang maksimal dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.7

Penduduk Banggai seperti itu, dimulai dari adanya kesatuan adat Banggai yang dipimpin oleh Tomundo Ghana-Ghana, Tahana-Tahani, Adi Kalut Pokalut, Adi Moute, dan adi Lambal Po Lambal sebagai peletak dasar peradaban lama Banggai di Banggai Lalongo. Konsep Basalo Sangkap yang berasal dari kata “babasal” (orang besar) yang berkuasa, mereka ini sebagai yang empunya tanah di  Katapean di Monsongan, Singgolok di Gonggong, Boobulau di Dodung, dan  Kokini di Tanobonunungan. Mereka ini adalah disebut “Barakat Sangkap” yang terdiri atas Putri Nusapa, Abu Kasim, Abdul Jabbar, dan Putri Saleh. Mereka ini masih dianggap sebagai sesuatu yang keramat di Banggai yang berarti mereka memiliki kelebihan dibanding dengan manusia lainnya. Demikian juga hubungan Banggai dengan Ternate menyisakan sesuatu yang khas di Banggai seperti adanya konsep-konsep Sangaji, Bobato, dan lain-lain. Selanjutnya kebudayaan Banggai menampilkan adanya tarian Osulen-Balatindak, nyanyian Baode, Bakidung, Paupe, Balasiga, Batolunikon, juga alat-alat musik Tatabua, Batong, Kulintang, dan Bakanjar. Kesemua peradaban dan kebudayaan Banggai diatur dalam hukum adat  Banggai yang telah dijelaskan secara panjang lebar oleh JJ. Dormeir.8

Transformasi peradaban dan kebudayaan Banggai kelihatan pada tahapan berikut: Pertama, Pada awal abad ke-20 (baca: tahun 1908) Hindia Belanda membagi daerah di Indonesia menjadi dua bagian utama yakni daerah yang dikontrol langsung (Rechtsreeksbestuursgebied atau Governementslanden) dan daerah yang tidak langsung dikontrol (Zelfbestuurslandschappen atau Vorstelanden). Daerah yang dikontrol langsung dibagi lagi menjadi afdeelingen dan sub bagiannya onder afdeelingen. Daerah Sulawesi Tengah termasuk Banggai Kepulauan masuk dalam wilayah Gubernur Makassar yang terdiri atas Afdeling Oost Celebes dan Afdeling of Midden Celebes, meliputi onder afdeling-onder afdeling. Pada waktu ini, onder afdeling Kolonodale dan onder afdeling (oa) Banggai masuk dalam wilayah Afdeling Oost Celebes dengan ibukota di Bau-Bau di Pulau Buton.

Pada tahun 1919 wilayah Sulawesi Tengah dibagi dua afdeling yakni afdeling Donggala: oa Donggala, Tolitoli, dan Palu; afdeling Poso terdiri atas: oa. Poso, oa. Parigi, oa. Kolonodale, dan oa. Banggai di Banggai. Ketiga, 1926 lanschaap Banggai dibagi menjadi oa. Banggai Darat di Luwuk dan oa. Banggai Laut di Banggai yang masuk dalam Keresidenan Manado. Keresidenan Manado di Sulawesi Tengah terdiri atas oa. Donggala (Banawa, Tawaeli), Palu (Palu, Sigi Biromaru, Dolo, dan Kulawi), Poso (Tojo Una-Una, Poso, Lore), Parigi (Parigi, Moutong), Kolonodale (Mori, Bungku), Banggai (Banggai Darat di Luwuk, Banggai Laut di Banggai), Tolitoli, dan Buol. Inilah sumber inspirasi dari pembagian wilayah pemekaran Banggai Kepulauan di tahun 1999. Keempat, 1938 Sulawesi Tengah terdiri atas oa. Donggala (Banawa, Tawaeli), Palu (Palu, Sigi Biromaru, Dolo, Kulawi), Poso (Tojo, Poso, Lore, Una-Una), Parigi (Parigi, Moutong), Luwuk (Kerajaan Banggai Laut di Banggai dan Banggai Darat di Luwuk), dan Tolitoli (Kerajaan Tolitoli). Kelima, 1942 pada pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, distrik diganti menjadi GUN, kepala distrik menjadi GUNCO, Raja menjadi SUCO dan satu hal yang perlu mendapat catatan adalah ibukota Banggai dipindahkan ke Luwuk.

Undang-Undang No. 29 tahun 1959 dan SK Gubernur Kepala Daerah Sulawesi UtaraT engah tanggal 4 Pebruari 1961 no. 01/Pem/1961, wilayah Banggai dibagi dalam: Kewedanan Banggai Darat dan Banggai Kepulauan. Banggai Darat terdiri atas: Kecamatan Luwuk (distrik Luwuk, Batui, Kintom, Bonebabakal, dan Balantak), Kecamatan Teluk Tomini (Bunta, Pagimana). Wilayah Banggai Kepulauan dibagi dalam: Kecamatan Banggai (distrik Banggai, Labobo Bangkurung, dan Totikum), Kecamatan Tinangkung (Distrik Salakan, Buko- Tataba, Bulagi, dan Liang). Ibukota berada di Luwuk.9 Kedelapan, Undang-Undang no.18 tahun 1965 dan Surat Keputusan Gubernur KDH. Tingkat I Sulawesi Tengah tanggal 15 Januari 1964 no. 25/1964 Kabupaten Banggai meliputi wilayah: Kecamatan Labobo Bangkurung ibukota di Mansalean, Kecamatan Banggai di Banggai, Totikum di Sambiut, Tinangkung di Salakan, Bulagi di Bulagi, Liang di Liang, Buko-Tataba di Buko, Batui di Batui, Bunta di Bunta, Kintom di Kintom, Pagimana di Pagimana, Luwuk di Luwuk, Lamala di  Bonebabakal, dan Balantak di Balantak. Sistem ini masih mengikuti pembagian pada zaman kerajaan Banggai dulu yakni tujuh wilayah Banggai Laut dan tujuh wilayah Banggai Darat. Masyarakat Banggai baik di darat maupun di laut mengenal dua Kota besar Banggai yakni Kota Banggai dan Kota Luwuk. Kedua kota inilah yang representatif menjadi Kota di wilayah dua Banggai. Ibukota Kabupaten Banggai di Luwuk. Sejak tahun 1964 Badan Penuntut Daerah Otonom masyarakat Banggai Kepulauan termasuk Dewan Hadat telah memperjuangkan Pemekaran Banggai untuk membentuk Kabupaten Banggai Kepulauan hingga tahun 1999, setelah pemekaran tercapai dengan munculnya UU no. 51 tahun 1999 (pasal 11) ibukota harus dipindahkan dari Kota Banggai ke Kota Salakan. Perpindahan ibukota secara sosio-kultural merubah secara revolusioner (bukan secara evolusi) terutama kejadian 28 Pebruari 2007 dengan empat orang korban masyarakat Kabupaten Banggai Kepulauan.

III. Islam Awal di Indonesia

Sejarah masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia terus muncul perdebatan hingga saat ini karena adanya temuan-temuan baru. Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Agama Islam yang dipercaya sebagai awal mula Islam datang ke Nusantara ditemukan di daerah penghasil batu kapur yaitu Kota Barus (Sibolga-Sumatera Utara) sudah digunakan oleh Firaun di Mesir untuk proses pemakaman Mumi Firaun. Berdasarkan hal tersebut membuktikan jika jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah berhubungan dengan dunia luar. Ada kemungkinan Islam sudah masuk di Nusantara terjadi pada masa Kenabian atau sejak masa hidupnya Nabi Muhammad.

Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di  kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad  Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Mereka berargumen akan fakta bahwa banyaknya ungkapan dan kata-kata Persia dalam hikayat-hikayat Melayu, Aceh, dan bahkan juga Jawa.10 Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Kalau Ahli Sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Indonesia mulai abad 13 adalah tidak benar, Abdul Malik Karim Amrullah berpendapat  bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan  kelompok   bangsa   Arab   yang   telah   bermukim   di   Pantai Barat Sumatera (Barus).11 Pada saat nanti wilayah Barus ini akan masuk ke wilayah kerajaan Sriwijaya.  Pada  tahun  30  Hijriyah  atau  651  M  semasa  pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan (644-656 M), memerintahkan mengirimkan  utusannya  (Muawiyah  bin  Abu  Sufyan)  ke  tanah  Jawa  yaitu  ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah  raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam.12 Namun menurut Hamka sendiri, itu terjadi tahun 42 Hijriah atau 672 Masehi.

Sementara itu pada tahun 718 M raja Srivijaya Sri Indravarman setelah pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) (Dinasti Umayyah)  pernah berkirim surat dengan Umar bin Abdul Aziz sekaligus berikut menyebut gelarnya dengan 1000 ekor gajah, berdayang inang pengasuh di istana 1000 putri,  dan anak- anak raja yang bernaung di bawah payung panji. Baginda berucap terima kasih akan kiriman hadiah daripada Khalifah Bani Umayyah tersebut. Dalam hal ini, Hamka mengutip pendapat SQ Fatimi yang membandingkan dengan The Forgotten Kingdom Schniger bahwa memang yang dimaksud adalah Sriwijaya tentang Muara Takus, yang dekat dengan daerah yang banyak gajahnya, yaitu Gunung Suliki. Apalagi dalam rangka bekas candi di sana, dibuat patung gajah yang agaknya bernilai di sana. Tahun surat itu disebutkan Fatemi bahwa ia bertarikh 718 Masehi atau 75 Hijriah. Dari situ, Hamka menepatkan bahwa Islam telah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah. Selain itu, fakta yang juga tak bisa diabaikan adalah bahwa adanya kitab Izh-harul Haqq fi Silsilah Raja Ferlak yang ditulis Abu Ishaq al-Makrani al-Fasi yang berasal dari daerah Makran, Balochistan menyebut bahwa Kerajaan Perlak didirikan pada 225 H/847 M diperintah berturut-turut oleh delapan Sultan.

Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di  sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah   penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada  abad  ke-8,  disinggahi  oleh   kapal-kapal   yang   antara   lain   berasal   dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat. Berdasarkan perkembangan tersebut, sesuai angka tahun berarti setelah barus, Islam kedua di Indonesia ada di banggai yakni Imam Syaban yang berangka tahun 168 Hijriyah yang bertepatan dengan 792 Masehi.

IV. Imam Sya’ban di Banggai: Temuan Baru Islam di Indonesia

Sejarah Agama Islam di Pulau Banggai atau Kerajaan Banggai memiliki keunikan sendiri dan juga mengalami kesamaan dengan masuknya Islam di wilayah lain Sulawesi Tengah yang ditanadai dengan adanya kuburan tua yang keramat. Ada beberapa kuburan tua di wilayah Banggai antara lain di Salakan, Lolantang, di Toi-Toi yang pusaranya bertulisan huruf Arab Melayu “ALI AKU DA’I 169 hijriah, dan selain itu pusaran yang berterakan “Imam Sya’ban.”13 Demikian juga, di pedalaman antara Mbolombog dan Solongan ada juga sebuah kuburan yang panjangnya berukuran ± 7 meter panjangnya dan ± 5 Meter lebarnya, menu rut keterangan kuburan ini adalah kuburan seorang wanita yang bernama MALIKIN NUH. Selain itu, ada Kuburan yang terdapat di Baakoyo (Kecamatan Bulagi) kuburan dari ulama MAULIA sedangkan rekan lainnya bernama masing-masing MALIA, MAMULIA, MATOWA, MAKOMA, mereka yang menyebarkan agama Islam di Bulagi. Pulau Banggai juga terdapat sebuah onggokan tanah di bagian arah pengunungan dari Lonas yang diinformasikan bahwa ada sebuah pekuburan seorang Mubaligh (penyebaran agama Islam) yang berasal dari negeri Arab yang bernama Hamza Abubakar. Beliau menurut masyarakat setempat dijelaskan adalah cucu dari Saidina Abubakar Siddiq R.A. Akhirnya di Wilayah Liang diceritakan bahwa dahulu perna bermukim seorang yang bergelar Nabi dan kini kuburan tersebut masih ada di wilayah Basosol. Kuburan Tomundo Makatolon di Bungin Desa Boloyi Kecamatan Bulagi terdapat sebuah kuburan tua, dahulu daerah ini dinamakan Masigikarena Tomundo Makatolon ini pernah membagun sebuah rumah ibada  (Masjid), nama asli Tomundo Makatolon adalah Addin yang berasal dari Jawa. Cerita yang sama juga tersebar di beberapa tempat yang menceritakan kuburan tua yang keramat seperti di Kampung Mansalean Pulau Labobo, di Bokan, di Mondono Kecamatan Kintom, di Kampung Pala Pagimana, dan di Toima Kecamatan Bunta.

Tulisan ini akan menguraikan Kuburan Imam Sya’ban di Daerah Toi-Toi PulauPeling Kabupaten Banggai Kepulauan yang berangka tahun 164 hijriyah. Petunjuk angka tahun 164 hijriah pada batu nisan sebagai tanda hari wafatnya pemilik kubur sehingga dapat dipastikan bahwa Islam masuk ke daerah ini berkisar  ± 12 abad. Islam masuk dan telah mengenal Agama Islam pada sekitar tahun 705 Masehi atau abad ke-VIII.

Secara arkeologis kuburan Imam Sya’ban berbentuk perahu dengan tulisan Arab Melayu di bagian depan Nisan maupun bagian belakang nisannya. Nisan bagian depan bertuliskan: “Nisan ini mengigatkan bagi siapa saja, Pesan kepada handai Tolan dan kepada sesama manusia, Manakala hendak bertahlil di kuburnya harus kerena Allah dan Rasulnya, dan Tahun 168 Hijriah Imam SYA’BAN meninggal dalam kubur.” Sementara bagian belakang bertuliskan: “Waktu meninggalnya IMAM SYA’BAN hari rabu jam 4 sore 168 H, Berangkat meninggalkan dunia fana menuju alam baka, dan Inna Lillahi Wainna Ilaih  Rojiun.”

Dua gambar tersebut menujukkan nisan di Kepala dan nisan di kaki. Nisan Kepala: “Nisan ini mengigatkan bagi siapa  saja,  Pesan  kepada  handai  Tolan dan kepada sesama manusia, Manakala hendak bertahlil di kuburnya harus kerena Allah dan Rasulnya, dan Tahun 168 Hijriah Imam SYA’BAN meninggal dalam kubur.” Nisan di Kaki: “Waktu meninggalnya IMAM SYA’BAN hari rabu jam 4 sore 168 H, Berangkat meninggalkan dunia fana menuju alam baka, dan Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun.” Kuburan Imam Sya’ban di Daerah Toi-Toi Pulau Peling Kabupaten Banggai Kepulauan yang berangka tahun 168 hijriyah. Petunjuk angka tahun 168 hijriah pada batu nisan sebagai tanda hari wafatnya pemilik kubur sehingga dapat dipastikan bahwa Islam masuk ke daerah ini berkisar ± abad ke-8. Islam masuk dan telah mengenal Agama Islam pada sekitar tahun 672 Masehi atau abad ke-VIII. Sementara itu, bentuk kuburan yang menyerupai perahu dapat dilihat sebagaimana gambar di bawah ini.

“Dengan ini dapat disimpulkan bahwa basis penyebaran Islam pertama di wilayah indonesia timur atau mungkin sampai pada Indonesia bagian Barat dimulai dari kerajaan banggai. Selain itu, jika kita melihat dari situs yang ada maka ini bisa disimpulkan sebagai salah satu situs Islam tertua di Indonesia. Sebab pada penulisannya menggunakan Arab Melayu dan sepertinya bisa dikatakan sebagai peninggalan tulisan arab melayu yang tertua di nusantara, sedangkan dari sekian banyak situs yang ada termasuk situs yang berada di daerah Sumatra lebih banyak menggunaka tulisan Arab dengan motif Persia. Jika kita mempelajari sejarah, Persia/iran sendiri baru masuk sebagai wilayah kekhalifaan muslim pada zaman khalifah Umar Bin Afan yaitu sekitar + 16 H, dan kerajaan kecil Islam di Persia baru mulai berkembang saat kekhalifaan di baghdad mulai melemah yaitu sekitar abad ke-3 H atau abad ke IX M, sedangkan untuk peradaban Islam Persia yang mempunyai pengaruh besar di dunia islam baru dimulai sekitar abad ke-XIII M yaitu sejak berdirinya kerajaan safawi. jika demikian maka, kerajaan Islam Persia/Iran masih sangat muda jika kita harus menyimpulkan sebagai penyebar Islam di nusantara.  sedangkan kalau kita lihat tahun

Memory kolektif masyarakat Banggai ini merupakan informasi penting  untuk masuk dan berkembangnya Islam awal di Indonesia Timur terutama di Kepulauan Banggai Sulawesi Tengah. Hal ini didukung oleh tulisan yang belum diterbitkan oleh Sjarfien Moh. Saleh, dalam tulisannya yang berjudul “Na Isilaaman Ko Banggai” pada tahun 1990. Informasi ini merupakan sumber sejarah penting untuk masuk dan berkembangnya Aghama Islam di Provinsi Sulawesi Tengah maupun di Indonesia. Namun, informasi ini memiliki tantangan yang penting sebagai salah satu sumber oral history maupun sumber manuskrip karena dua alasan utama, yakni: Pertama: belum dijangkau oleh sumber tertua untuk banggai terutama  catatan Negara kertagama. Catatan Negarakertagama disebutkan bahwa Benggawi (Banggai) pernah bergabung dengan Kerajaan Majapahit setidaknya seperti yang tertulis dalam Negarakertagama, kitab dengan tarikh tahun Saka 1287 atau 1365 M. Dalam karya gubahan Mpu Prapanca ini, tepatnya pada syair nomor 14 bait ke- 5, tergurat rangkaian kata beraksara Pallawa dimana dicantumkan nama Benggawi sebagai salah satu wilayah yang berhasil disatukan oleh Majapahit. Nukilan naskah kuno yang ditulis dalam bahasa Sanskerta itu berbunyi sebagai berikut: Ikang Saka Nusa-Nusa Mangkasara, Buntun, Benggawi, Kunir, Galiayo, Murang Ling, Salayah, Sumba, Solor, Munar, Muah, Tikang, I Wandleha, Athawa, Maloko, Wiwawunri Serani Timur Mukadi Ningagaku Nusantara.

Kedua, tulisan manuskrip di kuburan tersebut menggunakan aksara serang atau Arab Melayu padahal aksara ini baru muncul di sekitar abad ke-12. Aksara Arab serang masuk ketika orang Bugis- Makassar telah menjadi Islam. Perkataan Serang ada beberapa pendapat, di antaranya adalah Mattulada (1985:10) yang mengatakan bahwa orang Bugis-Makassar pada awalnya banyak berhubungan dengan orang-orang Seram yang lebih dahulu menerima agama Islam. Di Seram sendiri memang huruf Arab-Melayu (Jawi) itulah yang dipakai dalam menyebarkan agama Islam. Dua tantangan ini yang kami maksud sebagai bentuk ujian bagi sumber lokal kuburan Imam Sya’bandi Banggai sebagai salah satu jejak Islam kosmopolitan dalam jalur rempah di Indonesia.

I. Kesimpulan

Kuburan Imam Sya’ban di Daerah Toi-Toi Pulau Peling Kabupaten Banggai Kepulauan yang berangka tahun 168 hijriyah. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 168 hijriah sudah masuk Islam di Banggai karena pada batu nisan sebagai tanda hari wafatnya pemilik kubur sehingga dapat dipastikan bahwa Islam masuk ke daerah ini pada 168 hijriyah setara dengan 792 Masehi atau abad ke-VIII. Sementara itu, selama ini yang menjadi patokan masuknya Islam di Indonesia adalah temuan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Haji) berpendapat bahwa pada 48 hijriyah atau setara dengan 672 Masehi sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah  bermukim  di  pantai  Barat Sumatera (Barus). Pada saat nanti wilayah Barus ini akan masuk ke wilayah kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M semasa   pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan (644-656 M), memerintahkan mengirimkan  utusannya (Muawiyah bin  Abu  Sufyan)  ke  tanah  Jawa  yaitu  ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam. Namun menurut Hamka sendiri, itu terjadi tahun 48 Hijriah atau 672 Masehi. Berdasarkan bukti- bukti ini berarti bahwa Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia pertama kali terjadi adalah di Barus tahun 48 Hijriyah atau 672 Masehi kemudian menyusul yang kedua Imam Saban di Banggai tahun 168 Hijriyah atau setara dengan 792 Masehi atau abad ke-VIII. Kalau jalur yang digunakan oleh Imam Syaban sebagai jalur rempah, berarti jalur hangat ini sudah berlangsung sekitar abad ke-8 sudah sampai ke Timur Nusantara atau Indonesia.

 *) Penulis adalah Dosen Sejarah Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah/ haliadisadi@gmail.com

Ayo tulis komentar cerdas