APAKAH polisi, tepatnya oknum polisi, yang berbaju hitam itu simbol kalau hatinya juga hitam? Polisi itu berpangkat brigadir. Berinisial NP. Hingga kini nama lengkapnya masih dirahasiakan oleh institusinya.

Siang itu, Rabu 13 Oktober 2021, ratusan mahasiswa berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Tangerang. Mereka bermaksud masuk ke dalam kantor bupati. Mereka ingin bertemu bupati untuk menyampaikan sebuah aspirasi.

Seperti biasa pengunjuk rasa, mereka memaksakan kehendak. Menolak kompromi, apalagi nasihat. Terjadilah kericuhan lantaran keinginan mereka dihalangi oleh para petugas kepolisian yang diturunkan khusus menghalau aksi ini. Kegaduhan tak terhindarkan. Polisi merangsek. Mahasiswa melawan. Saling dorong. Mirip tarian alam. Suasana jadi liar. Hampir tak terkendali. Puluhan mahasiswa ditangkap. Digiring naik ke mobil polisi yang memang sudah disiapkan.

Saat kericuhan makin meluas, Brigadir NP beraksi. Berinisiatif sendiri. Tanpa perintah komandan. Dengan wajah beringas dia menarik seorang mahasiswa keluar dari kerumunan teman-temannya. Bermaksudkah mengamankan? Tidak!

Menemukan mangsa, NP lalu memiting leher mahasiswa itu. Pitingannya sangat erat. Biasa, NP ini adalah polisi terlatih. Belum puas juga, polisi berbaju hitam ini mengangkat lalu membanting tubuh korbannya ke lantai dengan keras. Sangat keras. Mahasiswa UIN Maulana Hasanudin itu pun kejang-kejang. Mirip orang kesurupan. Menjadi tontonan yang mengenaskan. Sebuah refleksi kemarahan yang berlebihan. Seperti menyimpan dendam. Mungkin juga kebencian.

Dapat dipastikan Brigadir NP tidak memahami visi kepemimpinan komandan tertingginya, Kapolri Jenderal Sigit Listyo Prabowo. Jenderal Sigit selalu menyampaikan visinya, dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, harus memakai pendekatan humanis. Begitu seriusnya visi itu, tertuang dalam telegram Kapolri tertanggal 15 September 2021.

Atau boleh jadi Brigadir NP tidak tahu apa itu yang disebut pendekatan humanis. Ataukah memang sengaja melawan perintah tegas itu. Entahlah.

Setelah pemitingan hingga melahirkan kejang-kejang itu viral di media sosial, Brigadir NP, Kapolres Tangerang, Kapolda Banten, hingga petinggi di Mabes Polri, menyampaikan permintaan maafnya.

“Enak saja minta maaf.” Kawanku di kedai kopi merespon permintaan maaf itu.

“Minta maaf itu kan lahir dari niat baik, Bung.” Aku menjawab responnya.

“Iya, tapi jangan karena minta maaf, lalu tragedi pelanggaran HAM Berat terang benderang ini dihentikan, tidak diutus tuntas, dinda.”

“Dari sisi mana Bung melihatnya, sehingga berkesimpulan bahwa pemitingan leher dan pembantingan tubuh ini adalah pelanggaran HAM?”

“Jelas sekali pelanggaran berat, dinda. Mahasiswa itu sudah dalam penguasaan Brigadir NP, namun disiksa terus hingga kejang-kejang, lalu pingsan. Polisi yang tak berperi kemanusiaan.”

“Lalu apakah baju hitam yang dipakai polisi itu mencerminkan kalau hatinya juga hitam, Bung?”

“Benar, warna itu sama dengan warna hatinya, saat itu, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas