Herman, salah satu pengrajin rotan yang ada di Kelurahan Taipa, Kecamatan Palu Utara, mengaku usahanya sedang menurun drastis. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Dampak yang ditimbulkan pandemi covid 19, membuat omset pendapatan dari para pengrajin rotan mengalami penurunan 70 persen atau bisa juga dikatakan anjlok.

Herman, salah satu pengrajin di Kelurahan Taipa mengakui hampir setahun lebih penghasilan yang diperoleh sangat tidak menentu. Terkadang, ia hanya mampu menjual satu set kerajinan kursi dan meja.

“Sekarang tidak seperti dulu sudah susah, untung-untungan bisa menjual untuk makan sehari-hari. Biasa kadang juga tidak ada pembeli,” tuturnya, Selasa (12/10/2021).

Sementara itu, sebelum adanya pandemi kerajinan yang buatnya mampu meraup hingga Rp10 juta per bulan. Dalam sebulan, lanjut dia, bisa menjual lima sampai enam set kursi dan meja.

“Untuk harga kursi maupun meja cukup beragam mulai Rp2 juta dan Rp2,5 juta. Meskipun pendapatan menurun akibat pandemi, tapi saya tetap jalankan usaha ini,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga membuat hasil karya yang sangat bervariasi bentuknya. Herman menjelaskan untuk bahan baku rotan masih menumpuk. Namun, ia mengaku pembeli yang datang berkurang

“Usaha ini tidak beroperasi karna Omset menurun, jadi para karyawan yang ada di sini berjumlah tiga orang diberhentikan untuk sementara,” ujarnya.

Herman berharap agar pemerintah daerah dapat memperhatikan Dan membantu meringankan beban ekonomi masyarakat khususnya bagi para pengrajin rotan di Kota Palu.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas