MENANG di luar. Kalah di dalam. Simpulan itu tepat untuk para penyidik yang “ditendang” keluar dari Gedung KPK. Tendangan itu dibungkus dengan kalimat pembenaran: “….tak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)…”

Menang di luar lantaran kegigihan mereka memburu tikus-tikus rakus yang terus menggerogoti uang negara. Di tangan merekalah, para pecundang itu kini hidup dalam penjara.

Mereka tak peduli risiko yang akan dihadapi saat menggelar OTT (Operasi Tangkap Tangan). Bukan orang biasa yang mereka tangkap. Tapi orang luar biasa. Semuanya punya pengaruh. Ada bupati, walikota, gubernur, menteri, jaksa, hakim, polisi, tentara, wakil rakyat, pengusaha besar, dan banyak lagi dari profesi lain. Hanya satu yang belum pernah mereka tangkap: presiden!

Kalah di dalam lantaran tak mampu melawan para pejabat KPK yang berniat menyingkirkannya dari geduang merah putih itu. Berbagai macam bentuk perlawanan yang sah mereka lakukan, namun tak berkutik menerobos perlawanan yang lebih tangguh.

Jokowi sebagai presiden–pada mulanya memihak kepada para pejuang-pejuang pemburu koruptor ini–tetapi keberpihakan itu termakan oleh waktu. Kian hari kian melemah. Akhirnya, nasib itu mereka genggam dengan kesedihan yang teramat dalam.

Siang itu, 5 Oktober 2021, dengan raut wajah duka, mereka ke gedung tempat mereka, dulu, membangun skenario penangkapan koruptor. Namun kini mereka datang mengambil barang-barang pribadinya di kamar tempat kerjanya masing-masing.

Keluar dari Gedung KPK membawa tas dan kardus dengan langkah-langkah lunglai kehilangan nyali, seperti prajurit kalah perang.

“Dinda tahu, mengapa mereka kalah di dalam?” Kawanku di kedai kopi duluan bertanya.

“Tidak tahu. Kira-kira mengapa mereka kalah di dalam, Bung?” Aku balik bertanya.

“Mereka lupa memikirkan diri di dalam. Mereka terus memperkuat jurus perlawanan untuk lawan-lawan yang ada di luar. Mereka tidak tahu dan tak pernah menyangka kalau lawan, diam-diam, membesar di dalam. Begitulah, mereka memang tak pernah belajar strategi bagaimana melawan musuh yang ada di dalam.”

“Apakah siasat itu tepat disebut lawan atau musuh dalam selimut, Bung?”

“Nah, itu dia. Ternyata dinda makin cerdas, ya…”

Aku tertawa. Soalnya, seingatku, kawanku satu ini jarang sekali memuji teman bicaranya. (#)

Ayo tulis komentar cerdas