Ilustrasi. (Foto: Ist)
  • Oknum Polda Sulteng Diadukan Dugaan Penipuan

Palu, Metrosulawesi.id – Masuk polisi dengan menyetor ratusan juta. Begitu kira-kira dialami 17 calon polisi yang ikut tes masuk polisi di Polda Sulteng tahun 2020 lalu. Kini Briptu AS, oknum polisi yang menerima dana itu dilaporkan ke Propam Polda Sulteng.

Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto yang dikonfirmasi media ini di ruang kerjanya, Kamis 7 Oktober 2021, membenarkan adanya pengaduan tersebut.

“Ya, ada tujuh laporan yang masuk. Sekarang masih dalam proses,” kata Didik.

Modus kasus ini terbilang unik. Dimana para calon polisi yang dinyatakan tidak lolos psikotest didekati Briptu AS dengan iming-iming akan dinaikkan nilai psikotest-nya sekaligus diikutkan pendidikan polisi dengan catatan menyetor uang minimal Rp230 juta. Bahkan, seorang korban dari Kabupaten Morowali menyetor uang Rp500 juta.

Untuk meyakinkan para korban Briptu AS mengumpulkan para korban di SMK 5 Palu. Di SMK tersebut para korban seolah-olah mengikuti kembali proses seleksi.

“Saat di SMK 5, AS membacakan soal kemudian kami menjawab soal tersebut. Saat itu dia bilang, cepat kerjakan karena hasil kerja kalian akan disetor kepada komandan,” jelas salah seorang korban kepada Metrosulawesi.

Setelah mengisi soal dan menyetor uang ratusan juta rupiah para korban dikarantina di salah satu penginapan di Jalan Kedondong Palu Barat dan selanjutnya diberangkatkan ke Surabaya.

“Kami dijanjikan mengikuti pendidikan polisi di Mojokerto. Tetapi selama tujuh bulan kami hanya ditampung di rumah kos di Surabaya,” tegas korban yang minta namanya tidak diberitakan.

Sewa rumah kos dan semua biaya saat di Surabaya ditanggung para korban. Briptu AS hanya menanggung biaya tiket pesawat ke Surabaya.

“Ketika di Surabaya kami menanggung biaya kos dan keperluan lainnya termasuk makan,” ungkap korban.

Di Surabaya Briptu AS memantau keberadaan para korban melalui temannya bernama I Wayan.

Korban tersebut masih berharap agar dananya dikembalikan oleh Briptu AS.

“Dana tersebut sangat saya butuhkan untuk biaya pengobatan ibu saya,” jelas korban.

Selain membawa ke Surabaya, untuk meyakinkan korbannya, Briptu AS membuat pernyataan dengan ditandatangani di depan salah satu notaris di Kota Palu. Surat pernyataan itu ditandatangani Briptu AS selaku pihak pertama dan salah satu korban selaku pihak kedua.

Dalam surat pernyataan yang copiannya diperoleh Metrosulawesi itu antara lain menjelaskan benar pihak pertama telah menerima uang titipan sebesar Rp200 juta dari pihak kedua. Selanjutnya disebutkan, pihak kedua akan mengambil uang titipan sebesar Rp200 juta tersebut pada Pihak Pertama pada minggu kedua bulan November 2020. Di akhir pernyataan itu disebutkan, apabila, pihak pertama tidak memberikan sejumlah uang titipan tersebut pada waktu yang telah ditentukan, maka pihak pertama telah melakukan pelanggaran hukum dan akan ditindaklanjuti kepada pihak yang berwenang.

Informasi lain yang diperoleh Metrosulawesi menyebutkan bahwa Briptu AS diduga menggunakan dana hasil penipuan tersebut untuk menjalankan bisnis jual beli ayam.

“Harga ayam Briptu AS mahal-mahal. Bahkan harga ayamnya sampai Rp100 juta per ekor. Ayam-ayam mahal itu dipelihara di sekitar Layana. Bahkan dia membangun kafe di Kota Palu. Kami beberapa kali diajak bertemu di kafe tersebut,” jelas korban.

Kini korban sudah mengadukan Briptu AS ke Propam Polda, dengan dugaan melakukan penipuan. Tidak diketahui sudah berapa saksi yang diperiksa. Yang pasti menurut Kabid Humas Polda Sulteng itu, prosesnya masih sedang berjalan.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas