BUTUH BANTUAN - Ningsih, warga tak mampu yang divonis menderita tumor marker terbaring di kostnya. (Foto: Istimewa)
  • Nasib Ningsih, Penderita Tumor Marker Yang Mengandalkan SKTM

Ini bukti bahwa si miskin masih sulit mendapatkan layanan kesehatan. Ini dialami pasangan muda asal Desa Tonggolobibi Kecamatan Balaesang, Donggala, Apit dan istrinya Ningsih. Mereka terpaksa bolak-balik di RSUD Undata karena tak mendapat layanan maksimal.

NINGSIH divonis oleh dokter menderita tumor marker, sehingga butuh penindakan secepatnya. Tetapi di tengah keinginan besar untuk sembuh dari penyakit tumor marker pasangan yang telah dikarunia satu anak ini kesulitan dalam biaya pengobatan.

“Kami hanya punya SKTM (surat keterangan tidak mampu) saja pak. Jadi kesulitan dalam mengobati istri saya yang divonis tumor marker,” kata Apit suami dari pasien yang dihubungi via ponsel 0853973449XX Selasa 5 Oktober 2021.

Apit menjelaskan awal dari munculnya penyakit yang diderita istrinya ketika selesai melahirkan anak pertama. Pada saat itu perut istrinya tidak mengecil, bahkan membesar seperti orang hamil. Sehingga pada saat itu ia membawa istrinya ke Puskesmas untuk memeriksakan kondisi perut istrinya.

“Di Puskesmas, kami diberi rujukan ke RS Undata untuk segera ditindaki,” sebutnya.

“Pak selama di RS Undata kami belum ditindaki, perawat IGD Undata (lupa namanya) bilang istriku masih kuat jalan. Kemudian dibilang lagi dokumen belum lengkap. Rawat jalan saja,” kata Apit mengutip salah seorang perawat di IGD RSUD Undata.

“Dari pada kami pulang ke Baleasang. Saya hanya pilih kost depan rumah sakit Undata,” ujarnya.

Hingga saat ini, kata Apit, istrinya masih menjalani rawat jalan di RSUD Undata. Di sisi lain katanya, dia sudah kehabisan biaya untuk memenuhi keperluan, termasuk biaya kost.

“Kami tidak punya dana. Kami butuh biaya pak. Siapa tahu ada dermawan yang bisa membantu,” tambahnya.

Muzakir Ladoali. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Terpisah Kadis Sesehatan Donggala, Muazkir Ladoali, yang dimintai keterangan perihal kasus yang dialami Ningsi itu, menjelaskan sudah mengetahui informasi tersebut. Dan menyangkut bantuan pengobatan, Pemda Donggala katanya, tidak kehabisan dana dalam membantu kesehatan masyarakat kurang mampu.

Hanya saja mantan Kadis DLH ini, ada proses administrasi yang harus dipenuhi, karena Pemda sudah bekerjasama dengan tiga rumah sakit di Kota Palu untuk membantu pasien kurang mampu.

“Dana kesehatan kurang mampu masih ada, dananya melekat di DPKAD, Dinkes hanya melengkapi dokumen persyaratan saja. Jika sudah lengkap silakan memilih tiga rumah sakit rujukan yang sudah ber-MoU dengan pemda. Tiga rumah sakit itu Undata, Madani dan Umum,” jelasnya.

“Keluarga pasien harus mengurus dulu ke Puskesmas selanjutnya ke kami di Dinkes, baru ke rumah sakit yang dipilih sebagai tempat rujukan,” bebernya.

Ditambahkannya, selama ini kasus warga kurang mampu yang sakit tidak pernah mengalami kendala dalam pembayaran.

“Bukan hanya kasus ibu Ningsih saja, sebelumnya-sebelumya juga sudah banyak Pihak rumah sakit yang mengklaim ke kami biaya perawatan pasein kurang mampu, tidak ada masalah, semua dibayarkan oleh pemda, dana cukup. Cuma itu tadi ada prosesnya,” tutupnya.

Dikutip dari alodokter.com, Tumor marker adalah zat yang dapat ditemukan di dalam tubuh sebagai penanda adanya tumor atau kanker. Pemeriksaan tumor marker umumnya dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan untuk deteksi dini (skrining) kanker, diagnosis kanker, serta menentukan pengobatan kanker dan keberhasilan terapi kanker.

Tumor marker adalah sejenis zat atau antigen yang diproduksi oleh sel kanker. Zat ini bisa ditemukan di dalam darah, urine, tinja, dan jaringan tubuh lain. Kadar tumor marker yang tinggi dapat menandakan adanya penyakit, khususnya kanker.

Meski demikian, tingginya kadar tumor marker tidak mutlak menandakan bahwa terdapat penyakit kanker. Hal ini karena beberapa sel tubuh yang normal juga dapat menghasilkan tumor marker.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas