REVOLUSI apa pun yang terjadi di Indonesia, praktik korupsi tak akan padam. Termasuk REVOLUSI MENTAL ala Jokowi. Hal itu kata kawanku di kedai kopi. Benar, gerakan revolusi yang digaungkan–kini usianya sudah hampir sepuluh tahun–itu, kejahatan korupsi kian menjadi-jadi. Mental mereka makin kuat. Kuat berbuat jahat.

Ketika rezim Soeharto tumbang, banyak yang meramalkan koruptor akan berkurang. Kalau hilang, tak mungkin. Salah satu alasannya, para koruptor yang telah menggurita negeri ini telah berusia tua. Kematian akan menjemput mereka. Hukum alam, mereka akan tergantikan oleh anak-anak muda negeri yang masih bersih.

Era reformasi datang. Anak-anak muda yang mendapat citra “bersih” itu memegang sendi-sendi penopang bangsa. Mereka dipersilakan merebut dan menduduki kursi eksekutif, legislatif, yudikatif. Dan “tif-tif” lainnya.

Apa yang terjadi setelah mereka menikmati kursi empuk? Ternyata makin memperkuat simpulan Mochtar Lubis–sastrawan wartawan–yang telah memvonis: korupsi di Indonesia telah membudaya!

Tuduhan itu didengungkan pada 1970-an. Artinya, kata-kata mujarab itu telah berusia hampur lima puluh tahun. Maknanya belum berubah. Bahkan kini makin diyakini kebenarannya.

“Aku setuju kalau ada sutradara yang membuat film dengan judul: YANG MUDA YANG KORUP. Aku yakin bioskop yang memutar film itu akan dibanjiri penonton, dinda.”

“Alasannya, Bung?”

“Lantaran kisah yang diangkat benar-benar terjadi di negeri ini. Mereka telah memaling uang rakyat dengan rakus. Coba lihat pelakunya: gubernur, bupati, menteri, hakim, jaksa, pengacara, penyidik, dan masih banyak profesi lainnya.”

“Siapa-siapa mereka itu, Bung?”

“Dinda jangan pura-pura tidak tahu. Ya, ada nama Nurdin Abdullah, Azis Syamsuddin, Juliari Batubara, Novanto, Imam Nahrawi, dan banyak deretan nama lainnya. Usia mereka masih muda-muda, loh, dinda.”

“Masih ada satu nama anak muda, Bung tidak menyebutnya?”

“Siapa itu, dinda?”

“Harun Masiku.”

“Ha… ha… ha… biarlah anak muda satu itu ditelan bumi, agar dia mendapatkan pengadilan yang sesungguhnya, dinda.”

“He he he… Tak boleh berdoa seperti itu, Bung.”
***
“Soal revolusi mental ala Jokowi, pada awalnya aku termasuk orang yang percaya akan keampuhannya. Sayang, revolusi itu terkikis oleh waktu. Menjadikan niat baik itu terdampar pada revolusi setengah hati.”

“Maksud dinda?”

“Sesungguhnya Jokowi ingin memperkuat KPK. Ingin melihat negeri ini bersih dari praktik korupsi. Namun akibat tarikan yang dahsyat di luar “kekuasaannya” sebagai presiden, kompromi politik pun terjadi. KPK, anak reformasi itu, akhirnya sengaja dilemahkan.

Orang-orang kritisnya yang ada di dalam, dibuang. Begitu, Bung.”

“Kasihan juga ya presiden kita, Jokowi.”

“Mengapa harus kasihan, Bung?”

“Lantaran tak mampu melawan kekuatan kompromi, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas