PENYERAHAN SERTIFIKAT - Bupati Morut Delis Julkarson Hehi pada acara penyerahan sertifikat kepada 344 guru yang baru saja mengikuti Program Induksi Guru Pemula (PIGP), Selasa sore. (Foto: Istimewa)

Morut, Metrosulawesi.id – Pelataran Kantor Bupati Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah, tiba-tiba hening. Ratusan guru dan pejabat yang duduk di kursi undangan terdiam.

Beberapa guru tampak tertunduk dan mengusap air mata. Itu terjadi pada acara penyerahan sertifikat kepada 344 guru yang baru saja mengikuti Program Induksi Guru Pemula (PIGP), Selasa sore.

Suasana itu terjadi saat Bupati Morut Delis Julkarson Hehi mengawali sambutannya dengan mengungkap begitu mulianya profesi seorang guru.

Secara khusus ia juga minta diputarkan Hymne Guru pada acara tersebut. Menurutnya, lagu wajib para guru ini penuh makna yang harus direnungkan.

“Setiap kali mendengarkan lagu ini, air mata saya menetes. Saya anak guru, papa saya guru, mama saya guru, semua pejabat yang ada di sini berkat kerja keras dan didikan para guru-guru kita semua,” jelas Bupati.

Ia kemudian mengutip beberapa bait dalam lagu tersebut. “Engkau bagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

Menurutnya, Hymne Guru ini mengingatkan kembali bahwa profesi guru begitu mulia. Guru menentukan masa depan bangsa.

“Di tangan bapak-ibu guru sekalian masa depan daerah kita dipertaruhkan, masa depan generasi bangsa ini ada di tangan bapak-bu sekalian,” ujarnya.

Bupati Delis juga mengisahkan selama beberapa bulan menjabat Bupati Morut, beberapa orang guru yang bermohon pindah tugas dari daerah pedalaman terpaksa dia tolak.

“Kenapa saya tolak? Saya ingin mengatakan bapak-ibu guru sekalian terutama yang dari daerah terpencil, daerah-daerah pesisir, dari daerah pegunungan, kalau bapak-ibu meninggalkan mereka, siapa yang akan mengajar mereka?,” katanya dengan suara pelan.

Ia juga menganjurkan mereka yang berniat pindah tugas untuk kembali berpikir dan membayangkan keadaan anak-anak sekolah yang akan ditinggalkan.

“Saya anjurkan kembali ke tempat tugas. Silakan tatap matanya murid-murid di pedalaman yang akan ditinggalkan. Kalau kita tinggalkan mereka alangkah berdosanya kalau kita tidak membagi ilmu kepada mereka yang sangat membutuhkan,” katanya lagi.

Bupati Delis selanjutnya mengemukakan, meski kondisi keuangan daerah masih terbatas, secara khusus guru-guru yang bertugas di pedalaman, dan guru-guru di pesisir akan mendapat perhatian khusus.

“Kami tahu di sini banyak bapak-ibu guru yang belum punya rumah tinggal di tempat tugas. Semoga ke depan, dalam rangka pencapaian program Morut Cerdas, kita bisa memprogramkan untuk memberikan tempat tinggal yang sewajarnya,” kata Bupati yang disambut tepuk tangan.

Sebelumnya, Koordinator Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Morut, Ebet Kristos, SPd, MPd, melaporkan berdasarkan pemantauan dan penilaian kepada peserta PIGP ditetapkan 10 orang guru SD dan 10 orang guru SMP sebagai peserta terbaik. Mereka menerima piagam penghargaan.

PIGP ini dilaksanakan selama satu tahun dengan tujuan agar para guru pemula dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah dimana SK penempatan pertama menjadi CPNS.

Selain itu, program ini juga membantu guru pemula agar mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional di sekolah.

“PIGP juga sebagai syarat bagi guru pemula untuk memperoleh SK jabatan fungsional guru,” jelas Ebet Kristos. 

Peserta program induksi guru pemula ini diikuti 344 orang dengan rincian guru pemula SD 120 orang dan guru pemula SMP 224 orang.  Acara penyerahan SK kepada para guru pemula itu turut dihadiri Wabup H. Djira K, Asisten I Victor Tamehi, Asisten II Ir. Ridwan, Asisten III Atra Tamehi, dan sejumlah pejabat lainnya.

Reporter: Alekson Waeo
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas