MENANTI PENGHUNINYA - Pintu masuk utama hunian tetap (Huntap) Kelurahan Duyu di Jalan Gawalise, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah untuk penyintas pascabencana 28 September 2018 yang terus menanti penghuninya karena sebagiannya urung ditempati, pada 23 Agustus 2021 lalu. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)
  • Calon Penerima Huntap Talise 551 KK
  • Calon Penerima Huntap Tondo II 1.227 KK

Palu, Metrosulawesi.id – Masyarakat Indonesia khususnya warga Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala serta Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah akan kembali memperingati tiga tahun bencana alam dahsyat 28 September 2018.

Sejak masa tanggap darurat hingga kini satu hari jelang momen syarat hikmah itu, Senin, 27 September 2021 masa rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) terus dilakukan. Beragam harapan terus dipanjatkan agar PR masa rehab rekon seutuhnya mampu tertuntaskan.

Rehab rekon di Kota Palu pasca tiga tahun bencana, meski terbilang lamban,  tetap menunjukkan geliatnya, seperti penyaluran dana stimulan perbaikan rumah rusak Warga Terdampak Bencana (WTB), dan pembangunan hunian tetap (huntap).

Sampai dengan hari ini, Minggu, 26 September 2021, jurnalis Metrosulawesi mengantongi data mutakhir skema program Huntap di Kota Palu, hasil dari wawancara dengan Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Palu, Bambang.

Dengan gamblang Bambang menunjukkan, WTB yang telah menghuni di seluruh Huntap di Kota Palu berjumlah 1.971 Kepala Keluarga (KK).

Bambang merincikan, angka penghuni hampir dua ribu itu masing-masing tersebar di Huntap Tondo 1 berjumlah 1.599 unit, Huntap Duyu sebanyak 230 unit serta Huntap Satelit Balaroa di angka 129 unit, ditambah Huntap Mandiri yang ditangani Dinas Perumahan dan Pemukiman Palu berjumlah 45 unit.

Rincian 45 unit itu tersebar mulai dari Huntap Mandiri Petobo 32 unit, Huntap Mandiri Duyu 2 unit, 3 unit di Huntap Mandiri Kayumalue, dan sebanyak 8 unit di Huntap Mandiri Panau.

Bambang mengungkapkan, hingga kini, sebanyak 52 unit Huntap Satelit Balaroa sudah dihuni oleh WTB.

“Jadi yang kami (BPBD Palu) tangani itu 1.971 unit yang WTB sudah huni. Itu untuk Huntap PUPR dan Buddha Tzu Chi atau Huntap Tondo 1,” ucap Bambang di salah satu tempat santai di Kota Palu.

Dari pemaparan Bambang diketahui bahwa masih ada tiga Huntap yang bermasalah, yakni Huntap Tondo II, Huntap Talise, dan Huntap Petobo.  Bambang mengatakan, untuk Huntap Tondo II serta Huntap Talise pihaknya masih sebatas tahap pengumpulan data oleh nama oleh alamat atau disebut by name by address (BNBA).

“Dua huntap itu kan belum dibangun karena masih bersengketa lahan, kan termasuk huntap untuk penyintas likuefaksi Petobo,” ujarnya.

Walaupun demikian, Bambang tetap membuka kran calon penerima huntap, termasuk untuk Huntap Tondo II yang hingga kini data BNBA validnya sebanyak 1.227 KK, dan calon penerima Huntap Talise tercantum 551 data BNBA valid KK.

Lebih jauh Bambang menjabarkan, BPBD Palu telah menyasar jumlah ideal keseluruhan WTB penerima Huntap di angka 4.000 sampai 5.000 KK.

Pria yang akrab disapa Bembi ini menyimpulkan, WTB atau penyintas bencana alam 28 September 2018 yang telah menempati berbagai Huntap Kota Palu sudah 50 persen.

“Sampai dengan hari ini estimasi saya untuk WTB menghuni huntap di Kota Palu kurang lebih 50 persen. Sesuai data di atas 1.971 unit tersebut,” kata Bambang.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas