SOSIALISASI - JBK Indonesia dan AJI Jakarta didukung oleh Save the Children Indonesia menggelar sosialisasi buku Pedoman Peliputan Bencana dan Krisis, Minggu 26 September 2021. (Foto: Tangkapan layar)
  • Sosialisasi Pedoman Peliputan Bencana dan Krisis

Palu, Metrosulawesi.id – Save the Children meminta kepada semua pihak memberi perhatian kepada hak anak sebelum, saat dan setelah terjadi bencana dan krisis. Lembaga yang sudah bekerja selama 45 tahun di Indonesia ini menyoroti peranan jurnalis peliput bencana dan krisis, termasuk pandemi Covid-19.

Dewi Sri Sumanah dari Save the Children mengatakan, anak termasuk kelompok rentan yang harus segera diberitakan saat terjadi bencana untuk mencegah dampak buruk yang lebih besar.

“Jarang sekali kita melihat berita berapa anak yang terdampak pada 3 kali 24 jam awal bencana. Informasi kelompok rentan, salah satunya anak, biasanya diberitakan 7 kali 24 jam setelah kejadian,” kata Dewi Sri Sumanah pada sosialisasi buku Pedoman Perilaku Peliputan Bencana dan Krisis secara virtual, Minggu, 26 September 2021.

Menurut Dewi Sri Sumanah, dalam peristiwa bencana alam, tiga hari setelah kejadian, media cenderung fokus memberitakan dampak bencana alam terhadap infrastruktur. Jarang, kata dia menayangkan berita tentang kebutuhan anak pada awal-awal kejadian.

Padahal, informasi yang menyeluruh, cepat dan tepat akan mempengaruhi respons pemenuhan hak-hak anak.  “Informasi secara menyeluruh, cepat dan tepat, juga adalah bantuan. Selamatkan nyawa dalam bencana,” katanya.

Dia juga memahami bahwa keterbasan data dan infomasi dari pemerintah menjadi kendala junalis di lapangan. Oleh karena itu, perlu kerja sama berbagai pihak untuk memastikan hak anak terpenuhi pada saat terjadi bencana dan krisis.

Sementara itu, buku Pedoman Perilaku Peliputan Bencana dan Krisis yang baru saja diterbitkan menurut Dewi, sangat penting terutama dalam memberikan perlindungan tehadap anak dalam pemberitaan. Misalnya, informasi gambar dan identitas anak harus hati-hati saat ditayangkan di media.

Buku pedoman ini telah selesai disusun oleh Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) Indonesia dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta didukung oleh Save the Children Indonesia.

Ketua Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK), Ahmad Arif mengatakan, hal yang penting dalam peliputan bencana dan krisis adalah keselamatan jurnalis. Masalahnya, sebagian media belum menyusun protokol bagi jurnalisnya. Kadang-kadang juga jurnalis abai dengan keselamatannya sendiri.

“Berulang kali jurnalis meninggal karena bencana,” kata Ahmad Arif.

Oleh karena itu, perilaku aman harus dimulai dari jurnalis yakni memiliki literasi bencana. Selain itu, jurnalis mesti memiliki kemampuan inividu menyerap, memahami, dan menggunakan informasi guna memperkuat kapasitas diri dan orang lain dalam menghadapi bencana.

Ahmad Arif menyarankan jurnalis memahami sumber masalah secara saintifik; memahami prinsip komunikasi risiko; dan memahami dan menerapkan pedoman perilaku dan keamanan dalam peliputan krisis dan bencana.

Adapun buku Pedoman Peliputan Bencana dan Krisis yang disusun oleh Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) Indonesia dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta didukung oleh Save the Children Indonesia diharapkan menjadi pedoman tentang hak dan kewajiban jurnalis dalam peliputan bencana. Buku yang ditulis Ahmad Arif, Erick Tanjung, Asnil Bambani, dan Afwan Purwanto diawali dari kerentanan bencana di Indonesia hingga peliputan pra bencana, saat bencana, dan setelah becana. Selain itu, kewajiban media dalam memberitakan bencana dan krisis.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas