PAMERAN MATA UANG - Staf Ahli Gubernur, Dahri Saleh, Plt Kadis Dikbud Sulteng Hj. Yudiawati V. Windarrusliana melihat gambar cap Kerajaan Moutong dalam pameran yang digelar Taman Budaya Gelar dan Museum Sulteng, Senin 27 September 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Syahril Hantono)

Palu, Metrosulawesi.id – Bagi masyarakat yang ingin melihat cap kerajaan Moutong dan Tawaili, sebaiknya berkunjung ke Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulteng. Mulai Senin 27 September 2021, gelaran Pameran Khusus Mata Uang dan Heraldika dibuka oleh gubernur yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Wilayah dan SDA, Dahri Saleh.

Pameran itu terbuka untuk masyarakat umum. Kemarin kalangan pelajar tingkat pertama, menengah, dan perguruan tinggi mendapat kesempatan berkunjung.

Meski terbuka untuk umum, pengunjung harus tetap disiplin protokol kesehatan (prokes). Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak wajib dipatuhi sebelum memasuki ruang pameran di auditorium Taman Budaya dan Museum Sulteng yang terletak di Jalan Kemiri, Kota Palu.

Sesuai namanya, pameran menampilkan informasi tentang uang, baik koin maupun kerja di dunia, termasuk sejarah uang zaman kerajaan di Nusantara sampai perkembangan uang terkini negara Indonesia. Arena pemeran juga menempatkan display khusus yang menampilkan uang-uang koin dan kertas kuno. Selain itu juga menampilkan sejarah lambang-lambang kerajaan masa lampau, termasuk kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah.

Mata uang masa lampau dikenal dengan sebutan Numismatika, sedangkan lambang-lambang disebut Heradika.

Plt Kadis Dikbud Sulteng, Hj. Yudiawati V. Windarrusliana menjelaskan, Numismatika terkait dengan pengumpulan dan riset terhadap sejarah mata uang. Sedangkan Heraldika, terkait ilmu atau seni menciptakan lambang atau simbol yang jadi ciri khas suatu kelompok, instansi, daerah dan sebagainya.

Yang menarik perhatian pengunjung, adalah adanya cap kerajaan Moutong dan Tawaili yang disimpan UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng. Cap berbentuk lingkaran Kerajaan Moutong tertulis “PADOEKA RADJA MOOETONG’’ pada bagian sisinya. Ada juga cap kerajaan Tawaili yang bertuliskan “VORST VAN TOWAILI”.

Kemudian terkait Heraldika, Taman Budaya dan Museum Sulteng menampikan lambang Kerajaan Banawa. Lambang itu dibuat dari kain berwarna merah, yang diduga kain khas daerah itu. Kemudian terdapat motif warna hitam pada bagin tengah dan motif lain pada empat sudut kain tersebut.

Staf Ahli Gubernur Bidang Pengembangan Wilayah dan SDA, Dahri Saleh mengapresiasi pameran mata uang dan heraldika, karena dapat membangkitkan semangat mempelajari sisi historikal dari mata uang yang tidak terpisahkan dengan peradaban manusia.

“Pengunjung pameran agar dapat memanfaatkan momen yang sangat berharga ini sebagai wahana komunikasi yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan serta nilai-nilai luhur, terutama untuk dunia pendidikan serta peningkatan wawasan sejarah dan budaya,” katanya.

Karena itu, menurut Dahri, pameran uang dan heraldika perlu menjadi agenda tahunan UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng, dan bisa berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata. Dia pun meminta pihak DPRD Sulteng dapat mendukungnya dari sisi alokasi anggaran kegiatan tersebut.

Wakil Ketua DPRD Sulteng, H Alimuddin Paada menyampaikan apresiasi orang-orang di Taman Budaya dan Museum Sulteng karena bisa mengumpulkan benda-benda peninggalan masa lalu. Dengan adanya pameran, para siswa dapat mengetahui sejarah tentang uang baik di dunia maupun di Indonesia.

Apresiasi juga disampaikan Plt Kadis Dikbud Sulteng Hj. Yudiawati V. Windarrusliana. Menurutnya, UPT Taman Budaya dan Museum juga ternyata mengoleksi uang koin dan kertas dari masa lampau, yang juga terdapat di negara lain.

Ada 7.500 koleksi di UPT Taman Budaya dan Museum Sulteng dapat menjadi sumber informasi bagi generasi muda Sulawesi Tengah. Dia berharap adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, kegiatan pameran akan terus berlanjut.

Reporter: Syahril Hantono
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas