KECE: sebuah nama. Berpaham vivere pericoloso. Pepatah dari Italia. Hidup berbahaya. Hidup dalam bahaya. Hidup menyerempet bahaya.
Ketika Kece menghina Tuhan (Allah), Agama Islam, dan Nabi Muhammad, sesungguhnya dia sadar. Sadar akan tingkahnya yang tak benar. Tujuannya memang menghina. Membuat umat tersinggung. Marah. Hinaan itu pun dikoar-koarkan. Terus-menerus. Tak henti. Tak berujung.
Andaikan respon “merasa terhina” itu tak datang dari umat, boleh jadi dia kecewa. Koarnya padam sendiri. Lantaran protes umat datang, dia pun bersemangat menabur koar-koar hinaan. Hingga dia ditangkap di tempat persembunyiannya di Bali, lalu dimasukkan ke dalam sel Rutan Bareskrim Polri, dia merasa happy-happy saja.

Hidup dalam sel tahanan. Dijaga sejumlah petugas kepolisian. Rasa aman dari “perburuan” umat, tiba-tiba datang menghinggapi diri dan pikirannya. Kepada para tahanan di Bareskrim, Kece tak menyesali hinaan-hinaan yang telah didengungkan. Bahkan terkesan bangga. Tahanan lain menilai itu sebagai sikap arogan.

Seorang tahanan memerhatikan tingkahnya di kamar tahanan. Tahanan berwajah tampan itu berprofesi sebagai polisi. Pangkatnya jenderal. Namanya Napoleon Bonaparte. Kadang dipanggil Napo Batara. Dia ditahan dalam kasus penyuapan.

Diam-diam Napo Batara menyimpan amarah kepada Kece. Dia pun bersiasat menghajar dan menghina Kece dengan caranya yang dia sebut terukur.

Dini hari itu. Sunyi. Sepi. Lengang. Penjaga kamar tahanan tertidur nyenyak. Napo Batara masuk ke kamar kecil. Beberapa menit kemudian dia keluar. Menjinjing kantong plastik. Kantong itu disimpan di sudut kamarnya. Matanya menyapu suasana ke sekeliling. Aman. Dia melangkah pelan, tapi pasti, menuju ke sel tempat Kece. Lelaki tahanan baru itu sedang istirahat. Sendirian.

Mata Kece, tiba-tiba, memelotot, heran. “Ada apa Pak Napoleon Bonaparte masuk ke selku, dini hari ini?” Kece bergumam. Tak terdengar.

Tanpa bertanya dan menyampaikan sesuatu, Napo Batara mendaratkan tinju ke wajah Kece. Berkali-kali. Tak berkutik. Tak berdaya. Belum puas, Napo Batara menyuruh tahanan lainnya yang bersimpati dengan amarahnya itu untuk mengambil kantong plastik di kamarnya yang telah disiapkan.

Isi kantong itu dikeluarkan lalu dilumurkan ke wajah dan sekujur tubuh Kece. Bau busuk menyengat pun menyeruak ke ruangan. Tahanan yang mengambil kantong plastik itu baru tahu kalau yang dilumurkan ke Kece itu adalah tinja (tahi – kotoran manusia). “… siapa pun boleh menghina saya, tapi tidak untuk Allah-ku, Agama Islam, dan Nabi Muhammad.” Napo Batara menyumpahi Kece yang terkulai remuk di lantai sel, sembari memamerkan wajah amarah.

“Ini hukum alam,” kata kawanku di kedai kopi.

“Maksudnya, Bung?” Aku ingin dia lebih jauh menjelaskan tentang makna hukum alam itu.

“Penghina dihina. Siapa yang menghina akan mendapatkan hinaan. Itulah hukum alam. Si Kece menghina Islam. Tuhan menghadirkan Napo Batara untuk membalas hinaannya. Tidak main-main hinaannya. Hinaan berkelas. Wajah Kece dilumuri tinja atau tahi atau kotoran manusia ke wajahnya. Sebuah hinaan tertinggi dalam hidup.”

“Indonesia negara hukum. Tidak boleh bertindak seperti itu. Bukankah Napo Batara seorang jenderal polisi. Tentu dia paham hukum, Bung.”

“Iya, dia paham akan pelanggarannya. Karena itu dia bertanggung jawab. Sebagai umat, dia tak tahan tuhannya, agamanya, nabinya, dihina. Napo Batara memiliki keyakinan itu. Setelah meremuk si penghina itu, jangan heran, bila dia merasa bahagia. Telah menunaikan keyakinannya. Ini masalah keyakinan, dinda.”

Aku meneguk kopi panas yang baru saja diantar pelayan kedai kopi, seorang gadis berwajah manis, sembari merenungi kata-kata kawanku yang aku panggil Bung itu. (#)

Ayo tulis komentar cerdas