Kombes Pol. Didik Supranoto, SIK. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Masyarakat Diimbau Tak Beri Simpati pada Kelompok Teroris Poso

Palu, Metrosulawesi.id – Sepak terjang Ali Ahmad alias Ali Kalora akhirnya berhasil dihentikan oleh Satuan Tugas Operasi (Satgas Ops) Madago Raya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah, Sabtu 18 September 2021 lalu. Pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso dan para pengikutnya itu sangat meresahkan petani, di Kabupaten Poso, Parigi-Moutong dan Sigi.

Kasatgas Humas Ops Madago Raya, Kombes Polisi Didik Supranoto, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan rasa simpati sekecil apapun kepada kelompok ini (kelompok teroris Poso), karena mereka bukan pahlawan tetapi sebagai kelompok teroris yang selalu menyebar ketakutan.

“Jangan berikan bantuan logistik, makanan hingga informasi kepada kelompok tersebut, dan laporkan kepada Polri atau TNI apabila ada orang yang mencurigakan yang mempunyai ciri-ciri fisik seperti gambar DPO yang telah disebar oleh Satgas Madago Raya,” katanya dalam keterangannya kepada Metrosulawesi, Kamis 23 September 2021.

Dalam catatan Kepolisian, Ali Kalora bernama asli Ali Ahmad alias Ali Kalora, dan nama Kalora disematkan pada dirinya karena merujuk pada tempat tinggalnya di desa Kalora, dan Ali Kalora lahir tanggal 30 Mei 1981 di Desa Gowa, Sulawesi Selatan.

“Ali Kalora menjadi pemimpin kelompok teroris MIT Poso pada 2016 silam, pasca tewasnya pimpinan sebelumnya, Santoso alias Abu Wardah. Bersama Basri, Ali Kalora memimpin kelompok teroris MIT. Namun setelah Basri ditangkap Pasukan Satgas Operasi Tinombala, Ali Kalora kemudian menjadi pemimpin tunggal dan menjadi target utama Operasi Tinombala,” jelasnya.

“Ali Kalora disebut-sebut sebagai teroris yang ahli merakit bom lontong dan memiliki kemampuan bertahan hidup dalam pelarian. Ali Kalora kerap menyamar sebagai warga biasa dan menjadi petani untuk menghindar dari kejaran pasukan pemburu teroris,” tambahnya.

Didik, yang juga Kabid Humas Polda Sulteng, mengungkapkan pasukan Satgas Operasi Tinombala hingga berganti nama menjadi Satgas Operasi Madago Raya, selalu meminta agar Ali Kalora menyerahkan diri, namun dirinya tidak mengindahkan.

“Hingga Ali Ahmad alias Ali Kalora, tewas tertembak bersama dengan anggotanya yang diketahui bernama Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama,” ungkapnya.

Didi juga mengungkapkan sejumlah kejahatan atau kekejaman di luar perikemanusiaan yang dilakukan Ali Kalora. Ini perlu dipublis agar masyarakat memahami perbuatan yang telah dilakukan.

Sederat kasus yang dilakukan Ali Kalora selama memimpin MIT Poso, yakni: Kasus pembunuhan di Desa Parigi Mpu Kabupaten Parigi Moutong pada tanggal 3 Agustus 2017 dengan korban Simon Suju; Kasus pembunuhan di desa Salubanga Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong tanggal 30 Desember 2018 korban Ronal Batau alias Anang; Pembunuhan di Pegunungan Penghulu Kanan Desa Berdikari Kecamatam Palolo Kabupaten Sigi tanggal 23 Mei 2019, korban Njue; Pembunuhan di Pegunungan batu tiga desa Tindaki Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong tanggal 25 Juli 2019, korban Tamar dan Patte.

Selanjutnya, pembunuhan di perkebunan dusun sipatuo desa Kilo Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso tanggal 7 April 2020, korban Rattapo alias Daeng Tapo; Pembunuhan di pegunungan Km.9 desa Kawende Kecamatan Poso Pesisir Utara Kab. Poso tanggal 19 April 2020, korban Ambo Ajeng alias Papa Angga; Pembunuhan di perkebunan Tahiti desa Sangginora Kecamatan Poso Pesisir Selatan Kab. Poso tanggal 9 Agustus 2020, korban Agus Balumba alias Papa Sela; Penemuan mayat di Jalan trans Poso Napu desa Maholo Kecamatan Lore Timur Kabupatem Poso tanggal 14 Agustus 2020, korban Eliyas Lapulalang.

Kemudian, pembunuhan dan pembakaran di dusun V trans lenovu desa Lembantongoa Kecamatan Palolo, Kabupqten Sigi tanggal 27 November 2020, korban 4 orang yaitu Nakka, Ferdy alias Pedi, Pinu dan Yasa; Pembunuhan di pegunungan Patiroa Desa Kalimago Kecamatam Lore timur, Kabupaten Poso tanggal 11 Mei 2021, korban 4 orang atas nama Lukas Lese Puyu, Paulus Papa, Simson Susa, Marten Solong.

Didi mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus memburu sisa empat DPO yang masih berada di hutan.

“DPO saat ini tersisa 4 orang dan tim satgas madago terus mengintensifkan pencarian, mohon doa dan dukungan masyarakat Sulteng agar tugas dapat segera diselesaikan,” tutupnya.

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas