UNGGAHAN BERITA KEBAKARAN RAMAI DIKRITIK - Pemberitaan Peristiwa kebakaran rumah di Jalan Lekatu, Kelurahan Tavanjuka, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu subuh, 22 September 2021 oleh ODGJ dikritik pemerhati kesehatan jiwa karena picu stigma buruk ODGJ. (Foto: Akun Instagram @damkar_kotapalu)
  • Ardi: Silahkan Beritakan, Tapi Jangan Dilabel

Palu, Metrosulawesi.id – Kebakaran rumah terjadi di Jalan Lekatu, Kelurahan Tavanjuka, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah sekira pukul 05.15 subuh hari Rabu, 22 September 2021.

Informasi tersebut berasal dari akun resmi Instagram Dinas Pemadam Kebakaran Palu atau @damkar_kotapalu dengan rinci menyebutkan kronologi kebakaran tersebut.

Tak lama kemudian, info itu dikutip oleh akun resmi media sosial Instagram @soalpalu sekaligus jadi produk pemberitaannya.

Baik akun IG @damkar_kotapalu maupun @soalpalu menyebutkan, sumber kebakaran berasal dari ulah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sengaja membakar rumah tersebut.

Namun info bahkan judul berita tersebut menuai kritik dari sebagian masyarakat, khususnya dari kalangan pemerhati ODGJ.

Seperti pernyataan I Putu Ardika Yana, salah seorang Psikolog asal Palu, Sulawesi Tengah, ketika dimintai tanggapan oleh jurnalis Metrosulawesi, perihal isi berita tersebut.

Dia mengeluhkan penyematan judul akun IG @soalpalu berjudul “Rumah di Jalan Lekatu Terbakar, Api Disulut ODGJ” yang dinilainya memicu stigma buruk berulang kali terhadap para penyandang ODGJ.

“Penyematan (penyandang ODGJ) itu kurang tepat dan tidak berempati. Bahkan justru melabelkan (stigma negatif kepada ODGJ),” ungkap pria karib disapa Ardi ini, Kamis siang, 23 September 2021.

Ardi sepakat bahwa ODGJ bisa melakukan pembakaran, tapi dia menekankan jangan sampai suatu berita menyematkan ODGJ sebagai ‘kambing hitam’ atau objek terhakimi dalam suatu masalah, seperti halnya kebakaran.

“Memang bisa (disematkan) karena itu hak redaksi media, tetapi jangan dilabel. Setidaknya atau minimal diberi keterangan (keadaan dan kondisi ODGJ tersebut),” lugas pemerhati kesehatan jiwa (keswa) ini.

Dia mengimbuhkan, tidak semua ODGJ tidak terkontrol dan meresahkan. Karena setiap penyandang ODGJ tidak semuanya bisa melakukan masalah antar sosial seperti pembakaran.

“Intinya gini, kan pembakaran terjadi dilakukan oleh seorang ODGJ, tetapi judul (berita) begitu setengah-setengah. (Karena) tidak semua ODGJ tidak terkontrol. Tidak semua ODGJ meresahkan. Mestinya beritanya imbang untuk menginformasikan. Contoh judul dari saya misal ‘kebakaran rumah kembali terjadi, dilakukan oleh ODGJ yang diduga kambuh’. Itukan meredam stigma di kalangan netizen atau masyarakat secara umum,” beber Ardi.

Lanjut Ardi, produk jurnalistik seperti judul berita sangat perlu diperhatikan, apalagi ketika judul menyebutkan identitas seseorang atau pihak.

Pendiri Sejenakhening.com, organisasi mandiri di bidang pelayanan kesehatan mental ini menuturkan, pemerintah daerah adalah pihak sentral dalam menangani hal ini. Terkhusus menangani permasalahan di tengah masyarakat yang berkaitan dengan ODGJ.

Karena terbukti, judul pemberitaan peristiwa tersebut seketika ramai memicu komentar netizen bernada miring bahkan utuh menghardik ODGJ. Bahkan banyak netizen menyebut nama ODGJ tersebut bagi mereka yang mengenalinya di kolom komentar dengan kebebasan akses bagi sesiapa pun.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas