BERSAKSI - Saudara termasuk korban, anak serta tetangga Alm. Arwansyah saat bersaksi di persidangan. (Foto: Metrosulawesi/ Sudirman)
  • Sidang Pembunuhan di Panti Asuhan Nurotul Munawarah Palu

Palu, Metrosulawesi.id – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, melanjutkan sidang pembuktian kasus dugaan pembunuhan yang menjerat terdakwa Moh. Rudin alias Daeng Cambang, Ardi Sodding alias Ardi dan terdakwa Rudi alias Daeng Tallik, Rabu, 22 September 2021.

Sidang  dipimpin ketua majelis hakim Zaufi Amri SH, didampingi dua hakim anggota Anthonie Spilkam Mona SH, dan Panji Prahistoriawan Prasetyo, SH. Dihadiri Sugandi SH sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan penasehat hukum para terdakwa.

Kasus dugaan pembunuhan yang menjerat ketiganya terjadi di JL. Sapta Marga, kelurahan Birobuli Utara, kecamatan Palu Selatan, kota Palu, tepatnya di Panti Asuhan Nurotul Munawarah, 20 April 2021 lalu.

Korban dari perbuatan para terdakwa yakni Arwansyah (48) yang meregang nyawa meski sempat dilarikan ke rumah sakit. Kemudian Saripuddin saudara dari Arwansyah  (Alm) yang mengalami luka berat di beberapa bagian tubuh bahkan  harus kehilangan kedua tangannya akibat benda tajam yang digunakan para terdakwa.

Sidang pembuktian yang dijalani ketiga terdakwa secara virtual agendanya pemeriksaan saksi. JPU menghadirkan tiga orang saksi, yakni saksi korban Saripuddin, kemudian Fahri anak dari Alm Arwansyah dan satu lagi Delvina Lestari tetangga dari korban Arwansyah. Ketiga saksi tidak punya hubungan apapun dengan para terdakwa.

Di hadapan majelis hakim, saksi korban Saripuddin tidak hanya memperlihatkan luka serta kedua tanganya yang telah cacat dampak dari perbuatan para terdakwa khusunya terdakwa Ardi Sodding. Dia juga menceritakan apa yang sempat diliatnya malam itu di lokasi kejadian.

“Kejadian itu pada tanggal 20 April 2021 tepat di bulan ramadan, sekitar pukul 18.30 Wita atau setelah buka puasa,” kata Saripuddin.

Kata Saripuddin, saat itu setelah berbuka puasa dia mendatangi rumah saudaranya(Alm) Arwansyah setelah sebelumnya menerima telepon. Singkat cerita, begitu tiba di rumah saudaranya tersebut, Saripuddin tidak menemukan saudaranya Arwansyah.

Selanjutnya dia melihat sejumlah orang telah berkumpul di panti asuhan yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah saudaranya. Begitu mendatangai panti asuhan itu korban mendapati saudaranya (Alm) Arwansyah telah tergeletak di tanah, masih diapit para terdakwa yang sedang memegang parang dan melakukan perbuatanya.

“Saya tidak tahu apa masalahnya. Begitu saya tiba saya mendapati saudara saya ini sudah tergeletak di pasir. Begitu saya hendak menolong dan akan menyentuh Arwansyah, tiba-tiba saya diserang dan dianiaya oleh Ardi menggunakan parangnya mengenai tangan kiriku,” ceritanya.

Begitu hendak berputar cerita Saripuddin, terdakwa Ardi kemudian menyerangnya lagi dengan parang dan mengenai tangan kanannya hingga terputus. Saksi kemudian mencoba menghidar dengan berusaha lari namun terdakwa Ardi semakin menjadi, mengejar dan terus menyerangnya. Sehingga selain kedua tangannya, di badan, pipih serta kepala juga menjadi sasaran parang dari terdakwa Ardi. Korban pun mengalami luka-luka yang sangat parah.

“Saat itu saya jatuh terbaring dan tinggal pasrah yang mulia. Untung saja ada tetangga seorang purn TNI bersama anaknya,  yang membantu dan menolong saya serta membawa saya ke rumah sakit,” sebutnya.

Yang tidak habis dibayangkan Saripuddin di bulan ramaddan para terdakwa benar-benar tega harus menganiaya hingga tewas orang yang sudah membantunya selama ini.

“Saya di rawat di rumah sakit kurang lebih dua minggu yang mulia. Biaya pengobatan pribadi, kurang lebih Rp 16 juta. Biaya yang ditanggung dari keluarga terdakwa tidak ada yang mulia,” tegasnya.

Apa pemicu masalahyang menyebabkan saudaranya meregang nyawa, kata Saripuddin dari informasi yang diketahuinya terkait tempat tinggal yang ditempati para terdakwa. Tempat itu ternyata adalah milik orang tua para korban yang kabarnya dibeli para terdakwa namun belum terbayar lunas.

“Yang mulia saya menerima keadaanku saat ini. Dan atas semua kejadian itu, saya berharap agar para pelaku dihukum setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat kepada saya dan saudara saya. Saya sudah cacat yang mulia, makan saja tinggal istri yang suap termasuk buang air istri yang bersihkan,” keluh Saripuddin.

Sementara itu, saksi Fahri, menerangkan kalau dirinya bersama salah satu adiknya saat itu sempat ribut dengan para terdakwa bahkan sampai dikejar para terdakwa. Namun keributan itu sejenak meredah. Begitu balik untuk meluruskan masalah apa yang sebenarnya terjadi, Fahri bersama saudaranya yang kembali ke Panti Asuhan malah mendapat sambutan yang lebih tidak baik. Dia yang datang bersama adik termasuk kakak tertuanya malah dikejar parang oleh para terdakwa.

“Saat itu kami terpisah pisah. Saya sudah tidak liat lagi selanjutnya bapakku dianiaya bagaiman hingga meninggal dunia termasuk om saya (Saripuddin),” cerita Fahri.

Sementara keterangan saksi Delvina di persidangan lebih membuat terang kejadian yang dialami oleh saksi Saripuddin termasuk apa yang sempat diketahuinya terhadap korban (Alm) Arwansyah. Terhadap keterangan saksi-saksi ini, para terdakwa membenarkan semuanya. Selanjutnya sidang kasus dugaan pembunuhan ini akan kembali digelar pekan mendatang dengan agenda yang sama pembuktian yakni pemeriksaan saksi.

Reporter: Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas