Yudiawati Vidiana. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Selama masa pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 2.809 anak dari jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di Provinsi Sulawesi Tengah mengalami putus sekolah. Hal itu disebabkan ekonomi keluarga atau orang tua terpuruk, dan orang tua memaksa anaknya untuk menikah di usia muda.

Demikian dikatakan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, Yudiawati Vidiana, di ruang kerjanya, Selasa, 21 September 2021.

“Yang terbanyak itu menyumbang angka putus sekolah dari SMA negeri, dengan jumlah sebanyak 2.459 sementara dari swasta hanya 359 orang. Sementara dari jenjang SMK sebanyak 1.894 dengan rincian 1.283 dari negeri dan 611 dari swasta. Sedangkan untuk SLB tercatat sebanyak 112 anak putus sekolah, untuk SLB negeri hanya 43 orang, dan swasta 69 orang,” jelas Yudiawati.

Yudiawati mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak di Sulteng putus sekolah, diantaranya karena kondisi perekonomian orang tua.

“Pada masa pandemi saat ini proses pembelajaran tetap berjalan, namun tidak dilaksanakan secara tatap muka melainkan daring. Selama proses pendidikan berjalan, pembayaran atau pungutan di sekolah juga tetap dilakukan, sehingga mungkin tidak ada kemampuan dari orang tua membayar, maka anaknya tidak diteruskan untuk sekolah,” katanya.

“Di sisi lain, keluarga atau orang tua saat ini justru dalam posisi ekonominya terpuruk, dikarenakan banyaknya perkonomian rakyat terganggu di segala lini, sehingga inilah yang membuat anak itu putus sekolah,” ungkapnya.

Bahkan kata Yudiawati, faktor lain penyebab siswa putus sekolah karena orang tua memaksa anaknya untuk menikah muda, serta membantunya mencari usaha yang lain.

“Misalnya kebetulan orangtuanya ada di pesisir pantai mencari ikan, kemudian anaknya sedang tidak sibuk di rumah, maka diajaklah anaknya. Sehingga anaknya terpaksa bekerja, maka tidak memikirkan lagi untuk belajar, inilah yang biasa membuat anak-anak putus sekolah,” ujarnya.

Selain itu kata Yudiawati, karena metode pembelajaran daring sehingga anak di rumah malas. Apalagi mungkin jaringan internetnya kurang bagus, akhirnya anak itu memilih tidak sekolah.

“Ada juga karena kecanduan bermain game online sehingga bisa bermain hingga pagi. Maka di waktu pagi untuk masuk belajar secara daring tidak bisa bangun karena begadang. Olehnya itu kami berharap kondisi seperti ini tidak terus berlanjut. Sebab sesuai informasi mungkin hari ini (kemarin-red) surat Mendagri akan turun terkait turun PPKM level 3, berarti kita sudah bisa membuka sekolah melaksanakan PTM terbatas,” pungkasnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas