CUKONG, nama lengkapnya. Dipanggil Pak Cuk. Ada juga memanggilnya Pak Kong. Lelaki berkulit putih berpostur tubuh gemuk yang selalu memakai celana pendek ini tak senang dipanggil Pak Kong. Entah apa alasannya. Akhirnya, di negerinya, dikenal luas dengan nama panggilan Pak Cuk atau Pak Cukong.

Pak Cuk hidup di negeri dongeng. Negeri khayalan. Negeri antah berantah. Dia berobsesi menguasai perekonomian. Menjadi penggerak oligarki. Baginya, hanya kerajaan oligarki yang mampu membuat bangsanya maju. Paham demokrasi yang terus menghalangi dan mengintai langkah-langkah obsesinya, dia lawan dengan sebuah tekad: menghalalkan segala cara.

Pak Cuk hapal luar kepala: oligargi dan demokrasi tak mungkin hidup bersama. Oligarki pembunuh demokrasi. Pak Cuk sangat paham, demokrasi adalah isme yang merintangi langkah-langkah melajunya oligarki. Lantaran itu Pak Cuk terus berupaya menggerakkan kerajaan oligarki dengan cara menggenggam sendi-sendi kehidupan di negeri khayalan.

Begitulah Pak Cuk. Banyak kawannya. Tak sedikit lawannya. Dia menyadari konsep untuk memajukan bangsanya dengan sistem oligarki (praktik cukong) tidaklah mudah. Banyak rintangannya. Namun lantaran dia sudah meyakini manfaat untuk kelompoknya, maka ke depan dia terus menabur siasat agar lawan-lawannya dapat dirangkul. Bila tak mempan rangkulannya, maka Pak Cuk tak segan-segan melawannya dengan berbagai siasat dan cara, tentu agar lawannya tak berkutik. Terkapar. Menyerah. Akhirnya, balik mendukungnya.

“Pernah ada partai politik yang memusuhiku, namun kini sudah takluk. Aku punya cara menaklukkan musuh…” Cerita Pak Cuk kepada kawan-kawannya di lobi hotel mewah sembari terbahak.

Agar oligarki menjejak di negerinya, memang pertama-tama yang digenggam adalah partai-partai besar. Pak Cuk ngerti, aturan di negerinya harus melewati pengesahan partai yang sedang berkuasa. Dengan menggenggam partai-partai, nyali perjuangannya akan hilang. Giginya kehilangan taring. Mirip singa ompong. Mengaum, tapi tak menakutkan. Undang-undang pun disulap untuk memudahkan cengkeraman oligarki versi Pak Cuk.

Bukan hanya partai yang dicabut taringnya, tapi juga lembaga-lembaga penegakan hukum dimandulkan. Semua orang di negeri khayalannya yang melawannya, begitu mudahnya dia bungkam. Dibui.

Pak Cuk cuek dengan suara-suara sumbang. Asalkan oligarkinya tetap berjalan, suara sekeras apa pun tak digubrisnya. Bila perlawanannya makin mengkhawatirkan, Pak Cuk hanya memberi kode ke aparat penegakan hukum yang digeggamnya itu, maka semua jadi beres.

“Pak Cuk, presiden ya di negeri khayalannya?” Tiba-tiba kawanku di kedai kopi mengomentari ceritaku.

“Bukan presiden. Dia penikmat dan pengatur kekuasaan oligarki di negerinya. Memangnya kenapa?” Aku menatapnya.

“Ceritanya seperti bukan dongeng. Seakan Pak Cuk itu orangnya ada. Nyata, begitu…”

“Itulah hebatnya dongeng masa kini. Dongeng masa dulu hanya untuk anak-anak, kini orang-orang dewasa pun menggemari dongeng.”

“Mengapa bisa begitu, dinda?”

“Mungkin karena cerita dongengnya diangkat dari kisah nyata, Bung.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas