KAWANKU di kedai kopi balik menatapku. Matanya tak berkedip. Sorotannya tajam. Bak mata burung elang. Seakan hendak mencengkramku. Aku yakin dia tidak kesurupan. Hal itu dilakukan setelah dia membaca berita di koran terbitan Jakarta.

Kedai kopi ini memang berlangganan koran terbitan nasional itu. Pada awalnya aku kira dia marah kepadaku. Ternyata tidak. Ekspresi wajahnya mencercerminkan kegetiran dalam pikirannya. Dia tak habis pikir mengapa provinsi penghasil emas terbanyak di negeri ini terus bergolak. Menggugurkan prajurit-prajurit terbaik bangsa ini.

“Dinda, suasana makin mencekam. Dari kopral hingga jenderal telah gugur. Ditembak. Ada juga ditebas parang. Tragis. Tragedi ini tidak bisa dibiarkan.”

“Aku tidak paham. Apa yang mencekam, dan tragedi apa yang Bung maksud?”

Kawanku makin mendekat. Dia lalu menyodorkan koran itu. Menunjuk judul berita di halaman pertama. “Coba baca berita ini, dinda. Mencekam, kan?”

“Oh, ini membuat Bung menatapku tajam?’

“Iya, telah terjadi musim gugur di Papua. Prajurit kita berguguran oleh tingkah para teroris yang bermarkas di hutan-hutan Papua.”
“Bukankah musim seperti itu sudah biasa di Papua, Bung.”

“Maksudnya, dinda?”

“Musim gugur itu pernah terjadi pada semua masa. Iya, masa kekuasaan Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono, dan kini Joko Widodo. Aku setuju istilah musim, Bung, karena pergolakan yang melahirkan gugurnya kedua belah pihak, seperti ada masanya. Musim itu kadang jeda, kadang bangkit. Kini terjadi lagi musim, musim gugur. Mirip proyek.”

“Musim ini harus diakhiri. Tidak boleh berlanjut, dinda.”

“Sejak dulu hingga kini pemerintah selalu berpikir seperti itu. Pikiran dan tindakan selama ini tampaknya tak mampu menghentikan datangnya musim gugur di Papua.”

“Menurutmu, mengapa bisa begitu?”

“Boleh jadi kebijakannya salah. Pendekatannya mau diubah. Pemerintah harus mencari jalan baru agar saudara-saudara kita yang kini memilih jalan memberontak yang bermarkas di hutan belantara itu, merasa bagian anak bangsa, sadar akan kekeliruannya lalu meletakkan senjata.”

“Jadi prajurit kita sebaiknya lunak kepada pemberontak itu.”

“Bukan lunak. Tetap waspada dan tegas. Apa salahnya menawarkan dialogis kepada tokoh-tokoh mereka. Selama ini yang diajak berdialog adalah tokoh adat dan tokoh pemerintah Papua, padahal mereka itu tidak dihormati dan tidak didengar oleh para pemberontak, para teroris.”

“Caranya bagaimana, dinda?”

“Belajarlah pada GAM, Gerakan Aceh Merdeka. Pergolakan Aceh berakhir karena ada dialog, kan?” (#)

Ayo tulis komentar cerdas