Atlet Sepak Takraw Wanita Sulawesi Tengah, Akyko Micheel Kapito. (Foto: Instagram Akyko Kapito)

Palu, Metrosulawesi.id – Sangat disayangkan, Akyko Micheel Kapito salah satu atlet Sepak takraw berprestasi, terpaksa tidak dapat membela Provinsi Sulawesi Tengah dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), di Papua Oktober mendatang.

Padahal Akyko yang sibuk dengan kesehariannya sebagai personil Sub Detasemen 2 Gegana Brimob Polda Sulteng ini, mantan atlet Asean Games tahun 2018 silam dan berhasil menyabet medali emas. Akyko terpaksa dicoret dari tim Sepak Takraw PON Sulteng, karena dianggap melanggar aturan dan tidak disiplin.

Lantaran dinilai tidak disiplin, sehingga Persatuan Sepak Taqraw Indonesia (PSTI) Sulawesi Tengah mengeluarkan surat keputusan resmi, Nomor 10/PENGPTOV.PSTI-ST/III/2021 perihal Degradasi Atlet PON, tertanggal, 15 Maret 2021.

Pelatih Sepak Takraw Putri Sulteng Sandrina L Kaliey, saat ditemui sejumlah media di sela – sela latihan terpusat di Gedung Olahraga(Gor Siranindi) Palu, Selasa (7/9/2021), menuturkan, dikeluarkannya surat keputusan tersebut, merujuk yang bersangkutan tidak pernah bergabung latihan bersama tim sepak takraw putri Sulteng beberapa kali.

“Akyko selama dua bulan pernah tidak hadir latihan, padahal takraw itu bekerja secara tim bukan perorangan. Sehingga dilakukan rapat pengurus, selanjutnya dilakukan pemanggilan namun tidak diindakan sehingga keluarlah keputusan degradasi dan mecoret dia dari kontigen Sulteng,” jelasnya.

Di dalam SK PSTI Sulteng, kata Sandrina, tertulis; Keputusan ini diambil karena yang bersangkutan tidak pernah bergabung dalam latihan Sepak Takraw Putri Sulawesi Tengah, persiapan PON XX/2021 sejak dikeluarkannya surat panggilan latihan dan tidak mengindakan undangan KONI Sulteng dalam rangka pengambilan keperluan atlet.

“Padahal sebelum berjalannya puslatda pihak PTSI sudah melayangkan pemberitahuan pada bulan Januari secara pribadi ke Akyko bahkan pemberitahuan ke kesatuan Brimob Polda Sulteng,” ujarnya.

“Dengan dicoretnya Akyko dan dikeluarkannya SK pada bulan Maret 2021, hanya ada empat atlet takraw putri yang akan mewakili Sulteng di ajang PON Papua. Memang kami sangat membutuhkan dia(Akyko), namun dengan kondisi saat ini, tidak bisa dipaksakan juga,” terangnya.

Dia menyebutkan, jadi atlet yang tersisa untuk kontingen sepak takraw Putri Sulteng ada empat yakni , Nur Isni Chikita posisi (umpan dan tekong) , Mauren N. Ngkeri (smash dan umpan), Widya Andrini ( umpan dan smash), dan Shanty T Perry ( tekong dan umpan).

Sementara itu, Akyko mengaku, ia tidak mangkir atau tidak disiplin dari latihan seperti yang diketahuinya dari beberapa pemberitaan maupun informasi di social media.

Akyko merasa dirugikan oleh pemberitaan sejumlah media yang tidak mengonfirmasi ke dirinya. Media seenaknya menuding mangkir dari latihan. Padahal tudingan sepihak itu, dinilainya tidak benar.

Walau demikian, ia tidak ingin lagi memperpanjang polemik ini. Ke depan jika daerah masih membutuhkan tenaganya ia siap kapan saja. Doktrin di kesatuannya, yang harus mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Pelatih tim sepak takraw putri Sulteng, Sandira Kiley. (Foto: Handover)

‘’Saya siap kapan saja jika daerah ini membutuhkan tenaganya. Karena itu, ia berharap polemik ini disudahi. Tak perlu diperpanjang lagi,’’ urainya.

Menurutnya, saat latihan tim takraw Sulteng, ia sedang mengikuti pelatihan Wanteror Dasar 2021 pada Maret 2021. Lagipula saat mengambil latihan Wanteror Gegana tersebut, ia sudah memperkirakan tidak berbenturan dengan jadwal Puslatda.

Akyko menjelaskan, sebenarnya masalah ini sudah selesai. KONI Sulteng sudah melakukan mediasi antara dirinya dengan PSTI dan semuanya sudah selesai.

”Saya anggap ini sudah selesai,” tutupnya.

Terkait dengan tidak diberangkatkankanya Akyko, Wakil Komandan Satuan (Wadansat) Brimob Polda Sulteng, AKBP Denny Jatmiko, kepada sejumlah wartawan saat di ruang kerjanya menjelaskan, dari kesatuan Brimob secara internal sangat mendukung sekali ketika ada kegiatan yang berprestasi seperti bidang olahraga dan lainnya.

“Jadi untuk permaslahan Akyko, kami tidak menyentuh KONI karena kami tidak mengetahui problem internal mereka. Tetapi untuk semua atlet bahkan pelatih, seluruhnya diberikan dukungan moril serta izin dari kesatuan dan diberikan rekomendasi khusus,” jelasnya.

Kata Denny, dari pihak kesatuan tidak ada perbedaan perlakuan bagi angota yang berprestasi, seluruhnya tetap mendapatkan dispensasi bagi anggota yang memiliki kelebihan khusus di luar kesatuan dinas.

Pihak Kesatuan Brimob Polda Sulteng pun, tidak pernah melarang bahkan menahan jika adanya anggota yang ingin mengembangkan minat olahraga maupun kelebihan lainnya.

“Semasih itu memberikan dampak positif dan demi kemajuan karir dalam berprestasi,semuanya tetap mendapat dukungan dan suport dari kesatuan Brimob itu sendiri,” pungkasnya.

Lebih jauh, kata Deni, apa yang terjadi saat ini yang jelas pihak Brimob tidak mau menyentuh urusan internal KONI, sebab mereka punya sistem tersendiri. Meskipun Akyko merupakan anggota kesatuan Brimob.

“Kami tidak akan mengintervensi hal tersebut, dan tetap mengikuti aturan dan keputusan dari pihak KONI. Bagi para anggota yang berprestasi silahkan tunjukan kemampuan kepada pimpinan dan kesatuan, kami akan selalu mendukung,” tegasnya.

“Dari kesatuan Brimob Polda Sulteng sendiri ada beberapa yang masuk dalam cabang olahraga dan akan berkompetisi pada PON Papua nantinya, diantaranya ada Dayung, Yudo dan Sepak Takraw, dan dari pihak Brimob sendiri, saat ini terus melakukan pengembangan sarana dan prasaran olahraga di Mako Brimob untuk mendukung anggota yang ingin berprestasi,” tutupnya.

Reporter: Djunaedi
Editor: Indra Yosvidar

Ayo tulis komentar cerdas