Basir Cyio. (Foto: Istimewa)
  • Ketua Senat Tanggapi Polemik di Untad

Palu, Metrosulawesi.id – Saat ini mencuat isu dugaan penyelahgunaan dana BLU Universitas Tadulako (Untad). Ketua Senat Untad, Prof Dr Ir H Muhammad Basir Cyio SE MS, menanggapi santai polemik tersebut.

Menurutnya, isu tersebut hanya riak-riak yang dihembuskan oknum tertentu menjelang Pemilihan Rektor 2022 mendatang. Riak-riak itu dinilai membawa keindahan tersendiri sebab yang melakukan bukanlah gambaran keseluruhan warga kampus.

“Saya, alhamdulillah sudah sangat terbiasa menghadapi dinamika kampus sejak lama. Ketika mau maju sebagai Calon Wakil Dekan Pertanian, lain lagi riaknya dari teman-teman. Ketika maju sebagai calon Dekan Pertanian, juga lain isu dan jenis jalan ceritanya. Dan saat maju sebagai Calon Rektor tahun 2010, kehangatan cuaca kampus lain lagi,” ucap Prof Basir saat menerima silaturahmi perwakilan warga Tondo di Palu, Senin 6 September 2021.

Dikatakan mantan Rektor Untad itu, menjelang Pilrek periode keduanya, juga kembali hangat. Saat ini, lanjut Prof Basir, terdengar lagi suara-suara yang menurut orang kurang enak didengar, tapi di mata Prof Basir hanya hal biasa saja.

Yang menarik, kata Prof Basir, saat bukan siapa-siapa lagi dan juga bukan bakal calon tapi menjadi target oknum yang menghembuskan isu-isu di Untad. Pihaknya banyak belajar di setiap pesta demokrasi, khususnya jelang Pilpres.

Di sana, kata Prof Basir, semua jenis fitnah dan cacian bisa didengar dan bisa dibaca. Kelompok satu fitnah kelompok lainnya, dan demikian sebaliknya. Kalau dibandingkan di kampus, masih sangat wajar.

Sisi positif dari polemik saat ini disebut semakin tajam dalam meneropong mana yang baru belajar, mana yang sudah lama tapi masih menggunakan cara konvensional, dan siapa penggerak di balik itu yang diyakini diketahui semua pihak.

“Mohon kita semua melihatnya secara tenang dengan suasana bathin yang kokoh, sebab yang riak-riak begini akan selalu berulang dalam musim empat tahunan, walaupun orangnya berubah-ubah karena mungkin sudah ada yang meninggal dan sudah ada yang lelah,” ujar Prof Basir.

Profesor bidang ilmu tanah itu mengaku saat ini memosisikan diri sebagai penonton. Diimbau semua pihak tetap tenang dan sabar melewati polemik dengan doa. Sebab diyakini doa dan orang yang tenang selalu mampu berpikir cerdas, dan tidak sporadik.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas