Dr. Hatija Yahya. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Hatija: Ini Bukan Ujian Nasional

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Hatija Yahya mengungkapkan, pelaksanaan assesmen nasional untuk tingkat Satuan Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) sedikit berbeda dengan Satuan Pendidikan Menengah Atas (SMA).

“Dimana untuk pelaksanaan assesmen nasional SMK diikuti oleh dua jenjang kelas dengan jumlah 45 peserta didik dari hasil seleksi secara random (acak) pada Kelas XI, sementara 45 siswanya lagi dari kelas X. Namun kalau di SMA itu tidak diambil siswa Kelas X tetapi hanya Kelas XI,” jelas Hatija, di ruang kerjanya, Selasa, 7 September 2021.

Kata Hatija, assesmen nasional itu digelar pada 20-23 September 2021, sehingga saat ini sedang dalam proses persiapan.

“Sekadar kita ketahui bahwa assesmen nasional ini bukan pengganti ujian nasional, meskipun tujuan utamanya assesmen nasional untuk mendorong perbaikan mutu pembelajaran dari hasil peserta didik itu sendiri. Namun tidak lagi mengevaluasi capaian secara individu. Olehnya itu assesmen nasional ini adalah untuk memetakan sistem mutu pendidikan berupa input, proses, dan hasil, jadi tidak mengevaluasi siswa itu sendiri,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Hatija, orang tua harus mengetahui tentang assesmen nasional ini. Jangan sampai anaknya dibimbing belajar lagi, untuk menghadapi assesmen nasional. Hal itu tidak perlu dilakukan, karena assesmen nasional ini untuk mengukur mutu pendidikan sekolah.

“Assesmen ini merupakan pengisian secara mandiri yang dilakukan selama empat hari, dan dibagi menjadi dua gelombang. Jadi satu gelombangnya diberikan dua hari untuk siswa. Untuk jenjang SMK itu 10 latihan diberikan waktu 10 menit, kemudian 90 menit itu literasi membaca, kemudian 30 menit ke depannya lagi survei karakter,” katanya.

Selain itu kata Hatija, di hari keduanya ada latihan numerasi dan soal berikutnya terkait survei lingkungan belajar.

“Pada prinsipnya bagaimana anak-anak itu membangun karakternya dengan mengukur hasil belajar secara emosional terkait dengan istilah sekarang profil pelajar Pancasila, di mana pelajar Indonesia memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yang didalamnya beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, bernalar kritis, mandiri, dan kreatif,” ungkapnya.

Menurut Hatija, tidak semua siswa mengikuti assesmen nasional ini, sebab yang menentukannya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, pihak Kemendikbud memilihnya dari sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Nama-nama siswa yang ikuti assesmen ini akan diumumkan sebelum hari H-nya, nanti juga akan ada cadangan apabila siswa yang terpilih berhalangan hadir karena sakit dan lain sebagainya,” ujarnya.

Hatija mengatakan, sekolah hanya perlu mempersiapkan perangkat, siswa tidak perlu dipersiapkan dan tidak perlu diajari menuju assesmen ini.

“Sebab yang dijawabnya itu harus sesuai rasa, nalurinya, maka pelaksanaan assesmen nasional ini tidak dilakukan intervensi siapapun, siswa jangan mau diintervensi,” tegasnya.

“Jadi siswa harus bicara saja. Karena jika kita tidak mendapatkan gambaran yang sebenar-benarnya, maka pemerintah akan salah melakukan intervensi dan salah memberikan kebijakan. Jadi kami berharap orang tua tidak perlu persiapkan anaknya, karena ini bukan ujian nasional,” ungkapnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas