ANDAIKAN di luar negeri, pejabat itu telah mundur. Bila tetap bertahan, maka akan dipaksa mundur. Kalau belum menyerah, boleh jadi akan dimundurkan. Tentu dengan cara paksa. Tapi bukan di luar negeri, melainkan di dalam negeri: Indonesia.

Lili nama pejabat itu. Lengkapnya Lili Piantuli Siregar. Wakil Ketua KPK itu banyak pihak memintanya mundur dari jabatannya. Alasan mereka, Lili telah menodai dan mempermalukan marwah KPK di mata publik.

Dalam sidang Dewan Pengawas (Dewas) KPK, Lili divonis bersalah melanggar etik.

“Menghukum terperiksa dengan berat…,” kata Ketua Majelis Etik, Tumpak Hatorangan Panggabean, saat membacakan amar putusan di Gedung ACLC KPK, Jakarta Selatan, Senin lalu.

Ada apa dengan perempuan berkacamata ini? Diam-diam telah memanfaatkan kekuasaannya yang sakral itu di jalan yang tak benar. Di jalan tak bermoral.

Lili, tak merasa bersalah sedikit pun, telah menghubungi pihak yang berperkara di KPK. Adalah M. Syahrial, Wali Kota Tanjungbalai, kasusnya sementara ditangani KPK, ternyata Lili mengarahkan terperiksa itu untuk mencari penasihat hukum yang dirujuknya. Bukan hanya itu, Lili juga “menjual” jabatan kerennya itu sebagai penegak hukum, untuk memperjuangkan uang jasa bagi adik iparnya, Ruri Prihatini Lubis. M. Syahrial pun mengindahkan semua itu, tentu agar kasusnya di KPK diredam.

Sesungguhnya Lili bukan hanya ternoda etik, tapi wajar untuk dipidanakan. Pasal 36 UU KPK tegas menyatakan: pimpinan KPK dilarang berhubungan dengan pihak yang berperkara. Ada ancaman hukuman lima tahun penjara. Dan Lili telah melanggarnya. Dia sering berkomunikasi dengan terperiksa M. Syahrial. Tanpa malu pada KPK dan pada dirinya sendiri.

“Agar KPK tidak tersandera, jalan terbaik adalah Lili harus mundur dari jabatannya sebagai petinggi KPK.” Kawanku di kedai kopi merespon pelanggaran berat yang telah dilakukan Lili.

“Maksudnya KPK tersandera, Bung?”

“Iya, bagaimana KPK mau memburu para koruptor di negeri ini, sementara seorang pimpinannya tidak bersih alias kotor. Lili hanya menjadi beban KPK. Dilematis, kan.”

“Kotor?”

“Ibaratnya, jika ingin membersihkan lantai, jangan gunakan sapu yang kotor.”

“Oh, jadi LiLi itu termasuk pimpinan KPK yang kotor, Bung?”

“Bukankah dinda telah menjawab pertanyaannya sendiri?”

“Aku tidak paham, Bung?”

“Jika belum paham, silakan tanya Pak Tumpak Hatorangan Panggabean, bukan pada rumput yang bergoyang, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas