Ilustrasi. (Grafis: Metrosulawesi)

Banjir yang menimpa puluhan desa di Kabupaten Sigi berkaitan dengan meningkatnya tren curah hujan di Sulawesi Tengah. Bukti nyata perubahan iklim jadi ancaman bagi warga bumi Mareso Masagena.

Laporan: Syamsu Rizal

SOLIH Alfiandy sibuk berkutat di depan layar komputer. Setiap hari, dia memantau fenomena alam di Sulawesi Tengah. Dinamika laut, atmosfer, gas rumah kaca, hingga kualitas udara tak luput dari pantauannya. Lebih dua tahun aktivitas itu dilakukannya sejak dirinya diangkat sebagai prakirawan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palu.

Alumnus Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMG) ini juga aktif menulis artikel tentang iklim. Sebanyak 12 artikel di antaranya sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah terakreditasi. Salah satunya artikel ilmiah berjudul “Tren Curah Hujan Berbasis Data Sinoptik BMKG dan Reanalisis Merra-2 Nasa di Provinsi Sulawesi Tengah”. Artikel itu dipublikasikan dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol.21 No.2, 2020.

Ditemui Metrosulawesi, Kamis 19 Agustus 2021, Solih menjelaskan kaitan banjir dan longsor dengan peningkatan tren curah hujan di Sulawesi Tengah. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat harus lebih waspada menghadapi fenomena alam saat ini.

Peningkatan curah hujan beberapa waktu ini, kata dia disebabkan adanya fenomena alam berupa MJO (Madden Julian Osscillation) dan Calvin Waves yang melintas di wilayah Sulawesi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi mencatat, sepanjang tahun 2016-2021, puluhan desa di Sigi dilanda banjir. Terbaru, di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Minggu 29 Agustus 2021 dilanda banjir bandang sekitar pukul 18.30 Wita. Sementara, pada hari yang sama tanah longsor menimpa Desa Salua, Kecamatan Kulawi. Keduanya diawali dari curah hujan tinggi.

Solih mengatakan, bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Sigi berkaitan dengan meningkatnya tren curah hujan sebagai dampak dari perubahan iklim. Dia menjelaskan, terjadi tren perubahan total curah hujan dan kejadian hujan ekstrem di Provinsi Sulawesi Tengah periode 1980-2017.

Dalam artikel yang ditulisnya bersama rekannya Donaldi Sukma Permana, dipaparkan bahwa selama 37 tahun, tren peningkatan total curah hujan tahunan di provinsi ini sebesar 11,96-38,25 mm per tahun. Sedangkan tren peningkatan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 0,1-4,8 mm per tahun.

Solih juga mengemukakan fakta ilmiah bahwa tren peningkatan total hujan tahunan berkisar antara 4,68-52,40 mm per tahun dengan tren tertinggi terjadi di lima wilayah, salah satunya sebagian Kabupaten Sigi.

“Sulawesi Tengah dengan data yang tersedia didapatkan bahwa tren curah hujan semakin meningkat, jumlah hujan bertambah, namun jumlah hari hujannya semakin berkurang. Artinya sampai sekarang kejadian hujan ekstrem semakin banyak,” kata Solih.

Curah hujan juga diproyeksikan terjadi tren peningkatan pada tahun-tahun mendatang. Solih mengatakan, proyeksi perubahan curah hujan dalam rentang waktu 2020-2049 di Lembah Palu, termasuk Sigi diproyeksikan bertambah 5-10 mm setiap musim atau kumulatif.

Perubahan iklim juga terkonfirmasi dari peningkatan suhu udara yang mengacu pada data yang tersedia empat stasiun meteorologi yakni; Mutiara Sis Aljufri, Palu; Kasiguncu, Poso; Sultan Bantilan,Tolitoli; dan Syukuran Aminuddin Amir Luwuk, Banggai. Data panjang tentang suhu udara di empat stasiun tersebut (1981-2020), tampak bahwa terjadi tren peningkatan suhu udara di Palu termasuk Sigi sebesar 0,35 derajat celcius per tahun.

“Itu sudah saya tulis artikelnya, tapi belum publish,” kata Solih yang baru-baru ini menyelesaikan studinya S2 Pertanian di Universitas Tadulako dengan tesis “Potensi Pergeseran Zonasi Agroklimat di Provinsi Sulawesi Tengah”.

“Kenaikan suhu ini akibat dari pemanasan global. Jadi, tren curah hujan meningkat, tren suhu udara meningkat karena peningkatan CO2. CO2 itu yang menyebabkan pemanasan global,” jelas Solih yang juga menulis artikel berjudul “Analisis Iklim Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan Data Pemantau Cuaca Otomatis BMKG yang dipublikasikan pada Juni 2020”.

Adapun suhu muka laut di wilayah Laut Sulawesi berkisar antara 27 sampai 30 derajat celcius. Artinya, kata dia penguapannya cukup tinggi. Kaitannya dengan sejumlah bencana banjir dan longsor di Sigi, Solih mengingatkan agar dilakukan mitigasi bencana alam terutama longsor dan banjir bandang.

Solih menjelaskan, tren peningkatan curah hujan terjadi karena pemanasan global. Dan, pemanasan global terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas CO2.

“Gas CO2 merupakan hasil pembakaran bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya” jelasnya.

“Peningkatan CO2 merupakan potensi gas efek rumah kaca yang bisa membangkitkan suhu panas bumi. Meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer dapat menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada iklim yang tidak stabil, sehingga pada akhirnya akan menyebabkan bencana alam,” jelas Solih.

Lanjutan Dampak Gempa

Peningkatan tren curah hujan diperparah dengan bencana geologi yang pernah melanda Sigi, Donggala, Parigi Moutong, dan Kota Palu pada 28 September 2018. Merujuk pada data BPBD Sigi, sepanjang 2016 sampai dengan 2017, hanya 2 kali terjadi banjir bandang. Tapi, sejak 2018 sampai dengan April 2020 sudah 9 kali banjir bandang.

Gempa dahsyat magnitudo 7,4 yang berpusat 26 kilometer utara Donggala, Sulawesi Tengah dengan kedalaman 11 kilometer, disertai 209 kali gempa susulan dan berakhir pada 30 September 2018. Akibatnya 77 lokasi longsor sebagaimana hasil survei yang dilakukan Kementerian PUPR yang dipublikasikan akhir tahun 2019.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa ada empat lokasi longsor berskala besar dengan volume 18 juta meter kubik dan yang berskala kecil sekitar 21 juta meter kubik sehingga total 39 juta meter kubik. Di Desa Poi misalnya, volume longsoran diestimasi sekitar 4,8 juta meter kubik. Longsor terjadi pada 5 Oktober 2018 atau tujuh hari setelah gempa besar. Beberapa bulan kemudian atau tepatnya Kamis 2 Juli 2020, material longsoran itu akhirnya meluncur ke pemukiman yang diawali dari hujan deras.

Desa Beka juga begitu. Dirwan, Ketua RT 14 Dusun 3 Desa Beka ditemui Rabu 18 Agustus 2021 menuturkan, longsoran di Gunung Kalaveru semakin melebar setelah bencana gempa 2018. Desa di Kecamatan Marawola ini dilanda banjir bandang pada 26 Maret 2021, diawali dengan hujan deras di gunung.

Kepala Desa Beka, Mohammad Fitrah mengungkapkan teridentifikasi bahwa banyaknya longsoran di pegunungan di desanya dipicu oleh gempa magnitudo 7,4 pada 2018 silam.

“Pihak Balai Wilayah Sungai bilang bahwa di bagian hilir, dasarnya Desa Beka ini, sampai radius 2 kilometer ke sana, tinggi elevasi sedimen mencapai 400 meter, jika tidak ditangani habis kampung ini,” katanya.

Saat Metrosulawesi mengunjungi pegunungan yang dimaksudkan Rabu 18 Agustus 2021, tampak sejumlah pekerja masih membangun bronjong di hulu Sungai Kalipondo. (*)

Ayo tulis komentar cerdas