Yohan. (Foto: Istimewa)

Oleh: Yohan*

PELAKSANAAN vaksinasi yang telah dilakukan sekitar 6 bulan yang lalu yang dominan melalui Vaksin Sinovac seakan-akan memberikan rasa aman bagi masyarakat, namun tidaklah demikian kenyataannya. Sejak bulan Mei 2020, jumlah kasus positif terpapar Covid-19 mengalami peningkatan di Provinsi Sulawesi Tengah, dan beberapa wilayah penyumbangan kasus positif Covid-19 di antaranya (Palu, Banggai, Poso, Sigi, dan Parigi Moutong) yang dominan dalam laporan Harian kasus terkonfirmasi. Daerah dengan stok pelayanan kesehatan yang relatif maju (seperti Kota Palu), tidaklah mampu mengatasi masalah meningkatnya kasus Positif Covid-19, dan bahkan jumlah kematian karena Covid-19 juga meningkat.

Sebuah pertanyaan yang patut diungkapkan “Apakah individu yang sudah menerima Vaksin (pada berbagai merek) baik Dosis 1-2 masih dapat terpapar Covid-19? Jawaban dari beberapa ahli ditemukan dengan penanda kata “Ya, masih ”, namun efeknya tentu lebih ringan dari pada individu yang belum menerima Vaksin (pada berbagai merek).

Kondisi inilah berkembang dan menjadi motivasi masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi, sementara kebutuhan vaksin yang meningkat, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan vaksin. Sebut saja pada Bulan Juni-Juli banyak masyarakat yang tersebar di Provinsi Sulawesi Tengah ingin divaksin namun pelayanan untuk vaksin masih terbatas, dan hingga saat ini (awal September 2021) jangkauan dan penjadwalan vaksinasi bagi masyarakat umum di 12 Kabupaten dan 1 Kota di Sulawesi Tengah belum mencapai ketentuan target yang disyaratkan.

Memang secara nasional dinyatakan bahwa program vaksinasi menjadi salah satu langkah krusial bagi pemerintah untuk dapat keluar dari pandemi Covid-19. Setidaknya pemerintah harus memberikan vaksinasi kepada 208 juta penduduk guna membentuk kekebalan komunitas atau herd immunity.

Pelaksanaan vaksinasi yang masih terbatas, tentunya berdampak pada mobilitas warga yang juga semakin ekstra hati-hati dalam berkegiatan di Sulawesi Tengah. Sementara aktivitas sektor pariwisata yang ada di Sulawesi Tengah tidak dapat dipisahkan dari mobilitas warga untuk mengunjungi sejumlah objek wisata yang tersebar di Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah pelaksanaan vaksinasi yang dicapai masih kurang dari persyaratan untuk mencapai herd immunity di Sulawesi Tengah.

Untuk mencegah lonjakan kasus, maka pemerintah pusat memutuskan beberapa wilayah di Sulawesi Tengah harus taat dengan protokol kesehatan (5M) dan (3T). Bahkan melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlangsung di sejumlah wilayah di Indonesia, dan dilanjutkan dengan adanya keputusan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Level 4 bagi beberapa wilayah di Sulawesi Tengah, yang sudah tentu memberikan efek dalam bentuk penurunan aktivitas sektor pariwisata, dan kondisi ini menyebabkan semakin melemahkan kontribusi UMKM bagi perekonomian di Sulawesi Tengah.

Bisakah aktivitas pariwisata dapat menggeliatkan aktvitas UMKM di Provinsi Sulawesi Tengah? Tentunya dalam waktu singkat belum dapat dipetik Hasilnya. Sebab upaya untuk melakukan vaksinasi belum mencapai target, dan jikapun mencapai target, maka dari segi periode vaksinasi pada jadwal pertama telah berlangsung sekitar 6 (enam) bulan tentunya ini akan menjadi pertimbangan dalam membuka akses wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung pada beberapa objek wisata, di antaranya yang terdapat di kabupaten: Donggala, Poso, Tojo Una-Una, Morowali Utara, Morowali, Banggai, hingga Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

Upaya menggeliatkan aktivitas pariwisata di masa Pandemi masih jauh dari harapan, sebab diperhadapkan pada risiko penularan di Sulawesi Tengah yang masih relatif tinggi untuk wilayah luar Jawa dan Bali, sehingga keberadaan UMKM di Provinsi Sulawesi Tengah belum dapat diharapkan peranannya dalam menopang perekonomian di setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah. Harapan yang harus dibuktikan adalah penanganan Covid-19 di Sulawesi Tengah harus dilakukan secara serius, terpusat, terawasi, dan memenuhkan posisi stok layanan kesehatan yang mantap, agar dapat menjadi sandaran dalam mempertimbangkan pembukaan kembali aktivitas masyarakat tetap harus dilakukan secara bertahap.

Point penting yang harus diperhatikan Pemerintah Daerah Provinsi hingga pada Kabupaten/Kota adalah komitmen untuk mewujudkan pembiasaan penerapan protokol kesehatan secara ketat, pemeriksaan, pelacakan, akselerasi cakupan vaksinasi yang lebih luas, dan kecukupan stok layanan kesehatan di Wilayah Sulawesi Tengah demi mendukung pembukaan aktivitas pariwisata dalam rangka menggeliatkan UMKM bagi perekonomian Sulawesi Tengah. Keyakinan bahwa aspek layanan kesehatan pulih terpenuhi, terjaga, dan tersedia, maka aktivitas pada sektor ekonomi di antaranya sektor pariwisata akan menggeliat dan memberikan dorongan bagi UMKM untuk berperan dalam memberikan kontribusinya bagi perekonomian di Sulawesi Tengah, dan tentunya dibutuhkan komitmen pemerintah pusat-provinsi-kabupaten/kota dalam penentuan dan pencapaian target penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib layanan dasar dan non layanan dasar, pilihan, dan unsur penunjang pemerintahan daerah dalam pencapaian target pembangunan di Sulawesi Tengah.

(*Yohan, staf pengajar pada Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas