PENGUSAHA SUKSES - Haji Ismail, salah satu pengusaha kacang goyang yang sukses di Kota Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • Haji Ismail, Pengusaha Kacang Goyang Yang Sukses di Kota Palu

Berawal dari tahun 1991, membangun usaha produksi rumahan dengan hanya mengandalkan modal sekitar Rp300 ribu. Namun, seiring berjalannya waktu kini produk kacang goyang milik Haji Ismail semakin moncer.

Laporan: Fikri Alihana

SAAT Metrosulawesi menyambangi Haji Ismail di kediamannya yang sekaligus tempat untuk memproduksi kacang goyang, tepatnya berlokasi di Jalan Kunduri, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu belum lama ini, dia banyak menceritakan tentang pengalaman suka dan duka selama merintis usaha tersebut. Sebelumnya, ia bersama istrinya melakukan produksi kacang goyang dengan menggunakan cara yang manual.

“Dulu sangat terbatas sekali dari segi bahan dan alat produksi. Sedangkan jumlah yang kita hasilkan waktu itu sebanyak 400 bungkus dan awalnya dititipkan ke penjual di seputaran pasar Inpres Manonda,” tuturnya.

Sementara untuk harga yang ia ditawarkan kepada pembeli saat itu hanya sekitar Rp1.500 per kilogram. Ia mengungkapkan bahwa keuntungan yang didapatkan di tahun 1991 dalam sehari bisa mencapai Rp600 ribu.

“Kendala bangun usaha pertama kali memang begitu banyak tantangan dan rintangan, salah satunya adalah waktu mau menagih ke beberapa pedagang. Karena dulu barang masih pakai sistem titipan,” ungkap Ismail.

Lanjut dia, setelah setahun usaha produksi kacang goyang ini berjalan lancar. Dirinya berinisiasi membeli lokasi tanah yang ada di sekitar Jalan Belimbing, Kelurahan Kamonji seluas 7 x 25 meter persegi dengan harga Rp4 juta.

“Pertengahan 1992 saya beli tanah. Kemudian tahun berikutnya datanglah salah satu dari Dinas Perindustrian Kota Palu untuk melihat kondisi usaha ini. Dulu pesanan pelanggan lebih banyak dibanding dengan olahan yang jadi,” sebutnya.

Dirinya pun dibuat binggung karena pesanan dari para pelanggan begitu banyak. Sedangkan karyawan yang dipekerjakan masih sedikit. Sehingga ia disarankan langsung oleh pihak dinas untuk menambah modal usaha.

“Tahun itu kemampuan produksi dalam sehari menghasilkan 50 liter. Dari pada banyak pesanan tidak jadi, terpaksa saya mengajukan pinjaman di bank dengan memasukan surat tanah atas dasar penambahan modal usaha,” ucapnya.

Dirinya pun menerima tawaran tersebut sebagai langkah dalam meningkatkan industri. Di mana tahun 1993, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Unit Bumi Nyiur Palu membantu memberikan pinjaman awal sebesar Rp4 jutaan.

“Alhamdulillah dari pinjaman itu saat ini usaha kami semakin naik. Sekarang terbukti bahwa bank khususnya BRI telah banyak berkontribusi mendorong UMKM dalam sisi penambahan modal dan kini pinjaman saya sudah Rp500 juta,” jelasnya.

Kini, olahan kacang goyang yang diberi nama Prima Jaya milik Haji Ismail ini dapat memproduksi 500 kilogram sampai 1 ton per hari sesuai pesanan pelanggan. Dengan hitungan rata-rata keuntungan dalam sebulan mencapai Rp75 juta.

“Penjualan sudah ke daerah Buol, Gorontalo, Sulawesi Barat dan Tolitoli. Biasa juga ada pembeli yang ingin menjadikan pesanan kacang goyang sebagai ole-ole untuk dibawa ke Jawa, Kalimantan, hingga Sumatera” ujarnya.

Ia menambahkan untuk saat ini harga per bungkus kacang goyang cukup bervariasi sesuai ukuran mulai Rp40 ribu sampai Rp50 ribu. Selain itu, ia menyebutkan usaha tersebut juga telah mempekerjakan karyawan sebanyak tujuh orang.

“Alhamdulillah, secara tidak langsung saya sudah mampu membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran dengan memberikan pekerjaan kepada sebagian masyarakat untuk jadi karyawan,” ujarnya menambahkan.

Haji Ismail yang berusia hampir 59 tahun ini telah mengembangkan usaha kacang goyang sebagai ole-ole khas Palu. Bukan itu saja, dirinya bersama istri bahkan telah membiayai pendidikan ke tujuh anaknya hingga ke perguruan tinggi. (**)

Ayo tulis komentar cerdas