PENAHAN BANJIR - Sabo dam di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Sulawesi Tengah. (Foto: Metrosulawesi/ Ariston Aporema Sorisi)

Sigi, Metrosulawesi.id – Pembangunan sabo dam I dan II di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, untuk mengantisipasi banjir bandang terus dilanjutkan.

Masalah lahan yang sempat menjadi kendala kini sudah tak ada lagi. Masyarakat sekitar sudah mengizinkan sebagian lahan mereka yang terkena atas proyek dua sabo dam di sungai di daerah itu.

Hal ini setelah Wakil Bupati (Wabup) Sigi, Samuel Y Pongi didampingi Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Sigi, H. Iskandar Nongtji bersama Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III, Balai Perumahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Sigi, Camat Kulawi dan Kades Salua serta warga, meninjau langsung lokasi pembangunan yang berdampak pada lahan warga, Senin, 30 Agustus 2021.

Di kesempatan itu Asisten II, H. Iskandar Nongtji langsung berkomunikasi dengan warga dan memberi batas lahan yang akan dipakai atas pembangunan sabo dam tersebut.

Mendengar penjelasan dari mantan Kadis PU Sigi itu, akhirnya warga mengizinkan pembangunan sabo dam upaya penanggulangan bencana alam banjir bandang dan aliran sedimen di Salua itu dilanjutkan.

Wabup Sigi, Samuel Y Pongi, Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Sigi, H. Iskandar Nongtji dan sejumlah pejabat terkait meninjau langsung lokasi pembangunan yang berdampak pada lahan warga, Senin, 30 Agustus 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Ariston Aporema Sorisi)

Di kesempatan itu Wabup Sigi, Samuel Y Pongi mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga setempat karena sudah mengizinkan pembangunan sabo dam untuk kepentingan masyarakat banyak.

“Hari ini sudah selesai persoalan di sini karena semua sudah mengikhlaskan tanah-tanah terkena proyek ini (sabo dam) untuk kepentingan masyarakat banyak,” ucap Wabup.

Ia berharap pembagunan sabo dam terus dilanjutkan dan segera teralisasi, sehingga banjir bandang yang sering terjadi di wilayah itu dapat teratasi.

Sebelumnya diketahui pembangunan sabo dam bantuan Japan International Cooperation Agency (JICA) itu terhenti karena perubahan desain, sehingga ada lahan masyarakat yang terkena proyek tersebut.

Reporter: Ariston Aporema Sorisi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas