CAKRA, tinggal di Jakarta. Lelaki berusia 55 tahun ini, bila melihat tentara Taliban menenteng senjata laras panjang di televisi, berkompoi di kota Kabul, seketika tubuhnya gemetar. Getarannya seperti mesin mobil tua yang baru saja dihidupkan. Denyut nafasnya seakan berlari maraton. Wajahnya makin menua lantaran kerutan yang dipaksakan.

Tak mampu menyembunyikan rasa kecemasannya. Ketakutannya, mirip pemburu rusa di hutan belantara yang tiba-tiba diadang oleh harimau lapar. Begitu takutnya, senapan yang ditentengnya jatuh sendiri. Tergelepar di tanah. Menatap tuannya yang kehilangan nyali.

Cakra membayangkan. Memvisualkan dalam benaknya. Seakan-akan nyata. Tentang kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Membuat dunia porak-poranda. Ribut. Tak ada lagi rasa aman di bumi ini. Termasuk bagian bumi yang ditempatinya, Indonesia. Semua itu tumbuh dan menjalar ke dalam diri Cakra. Menular ke sum-sum tulangnya. Otaknya mengental dengan sebuah simpulan dan keyakinan: Taliban adalah teroris! Hanya satu kata: teroris!

Dalam kesendiriannya, Cakra berdoa: Ya Tuhan, hancurkan Taliban, agar dunia damai. Jangan biarkan Taliban memporak-porandakan dunia ini, termasuk bangsaku. Ya Tuhan, aku sungguh mencintai negeriku: Indonesia. Jagalah!

“Cakra paranoid.” Kawanku di kedai kopi menyimpulkan Cakra telah terserang virus paranoid.

“Apa itu paranoid, Bung?”

“Penyakit yang susah ditemukan obatnya. Kalau Covid-19 ada vaksinnya, satu sampai tiga. Pranoid tidak ada, karena semacam penyakit mental akut. Para psikiater menyerah menghadapinya.”

“Aku kurang paham, Bung?”

“Pranoid itu adalah ketakutan berlebihan. Orang yang terkena paranoid mentalnya labil. Tak mampu melihat perbedaan dalam hidup ini. Tak ada secuil kebaikan di pihak lain, kecuali di pihaknya. Mereka memonopoli kebaikan dan kebenaran itu. Bermental egois. Manusia bodoh. Contohnya si Cakra itu.”

“Taliban telah merebut Kabul, Afghanistan. Mengapa banyak orang takut, Bung.”

“Orang-orang itu bodoh. Tidak paham. Taliban itu telah berhasil merebut negerinya dari penjajah: Amerika dan Nato. Apanya yang salah, dinda?”

“Tapi Taliban dituduh gerakan teroris, Bung.”

“Ha ha ha… Apa karena Taliban tidak menganut paham demokrasi, memilih paham Syariat Islam untuk negerinya, lalu dituduh teroris? Simpulan itu tidak adil, dinda.”

“Buktinya, Taliban, dulu, melindungi Alqaedah dan Osama Bin Laden, Bung?”

“Itu tuduhan Amerika. Setelah 20 tahun membentuk pemerintahan boneka di Afghanistan, Amerika tak dapat membuktikan tuduhannya, kan?”

“Pemerintahan Indonesia belum memberikan ucapan selamat atas berkuasanya kembali Taliban di Afghanistan yang akan menerapkan nilai-nilai Syariat Islam untuk negerinya. Mengapa, Bung?”

“Mungkin persoalan waktu saja. Kalau pemerintahan dan kabinet Taliban sudah resmi terbentuk, tentu ucapan itu akan disampaikan secara resmi. Indonesia tidak perlu takut dan ikut campur dengan penerapan Syariat Islam di negeri orang, sebagaimana Iran dan Arab Saudi. Bila ditakutkan pengaruhnya untuk negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, bagiku tak beralasan. Ideologi Pancasila sudah kuat dan mendarah-daging untuk bangsa besar ini.”

“Oh, begitu, Bung.”

“Iya. China saja termasuk negara pertama yang mengucapkan selamat untuk Taliban. Bahkan menyatakan: siap membina hubungan bersahabat dengan rezim Taliban dan siap menghormati pilihan rakyat Afghan. Kini media di China sudah tak lagi menyebut Taliban teroris.”

“Mungkin Bung benar. Mungkin Bung salah. Mari kita serahkan ke perjalanan waktu untuk membuktikan semua itu…”

“Silakan. Tapi jangan menjadi lelaki Cakra, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas