TUTUPI AIR GOT - Sederet sampah plastik di dalam jalur irigasi bekas banjir dua bulan lalu, di pertigaan Jalan Diponegoro dan Tajumbulu, Kota Palu, saking banyaknya menutupi air irigasi tersebut pada Minggu, 29 Agustus 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)

Palu, Metrosulawesi.id – Banjir heboh yang sempat merepotkan warga di Jalan Diponegoro, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah berhari-hari itu menyisakan sampah dan lumpur.

Puncak terjadinya luapan banjir hingga menutupi dua ruas Jalan Diponegoro hingga meringsek ke rumah warga dan warung makan, Rabu, 30 Juni 2021 lalu itu bersumber dari luapan air irigasi Jalan Tanjumbulu yang terhubung ke Jalan Diponegoro.

Sehari jelang peristiwa dua bulan lalu itu, tepatnya Minggu, 29 Agustus 2021, sumber lain banjir air limbah itu yakni sampah plastik, masih terlihat di dalam irigasi berlebar cukup besar tersebut.

Padahal saat mewawancara Nur Larisa selaku Kabid Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Dinas PU Palu, sampah serta sedimen di titik itu telah dikeruk menggunakan excavator selama tiga hari pascabanjir. Dengan fakta kini di lapangan, sangat diperlukan penanganan lanjut sisa-sisa penyebab banjir setinggi hampir satu meter itu. Karena tidak menutup kemungkinan, potensi terjadinya banjir masih tinggi, apalagi wilayah Kota Palu masih rutin diguyur hujan.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas