BUTUH BANTUAN - Panitia pembangunan musala di Huntap Dusun II Desa Bangga butuh bantuan agar segera rampung dan digunakan penyintas bencana banjir bandang. (Foto: Metrosulawesi/ Ozi)

Masjid di tepi jalan itu tertanam material pasir hingga kedalaman tiga meter. Sementara musala bagi warga hunian tetap (huntap) Dusun II tak kunjung rampung. Program “Sigi Religi” belum menyentuh musala kecil itu.

===

KONDISI ekonomi masyarakat di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi terpuruk akibat bencana banjir bandang 28 April 2019. Areal pemukiman di Dusun I dan Dusun II tertutup material pasir hingga kedalaman tiga meter. Lahan persawahan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat hancur. Irigasi rusak, tidak bisa digunakan. Areal perkebunan yang luas juga rusak.

“Kondisi ekonomi kami di Desa Bangga benar-benar terpuruk,” kata Hendrik, warga Dusun  II Desa Bangga, Sabtu 21 Agustus 2021.

Bahkan, kata dia petani di Desa Bangga yang dulunya punya banyak beras, kini harus membeli beras perliter.  Itu karena tidak ada lagi petani sawah di Desa Bangga. Tidak ada yang menanam padi setelah banjir bandang.

Di tengah keterbatasan ekonomi itu, warga di hunian  tetap (huntap) Dusun II bangkit membangun sarana ibadah. Sebab, masjid Masjid Al-Huda yang selama ini digunakan tertanam material pasir saat banjir bandang dua tahun silam.

Adapun masjid dan musala yang dibangun setelah banjir bandang berjarak sekitar satu kilometer dari huntap Dusun II.

“Salat subuh, takut anak-anak ke masjid. Kalau naik motor tidak masalah, tapi kalau jalan kaki takut karena melewati pohon kelapa,” katanya.

Karena itu, beberapa waktu lalu, sebanyak  56 kelapa keluarga penyintas banjir bandang berembuk dan sepakat membangun musala.

“Bangun musala untuk aktifkan salat lima waktu,” katanya.

Warga memilih lokasi pembangunan musala di sekitar hunian  tetap (huntap) Dusun II dan  diberi nama Al-Hidayah.

“Pada tanggal 8 November 2020, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan musala itu,” kata Hendrik yang sekretaris panitia pembangunan musala.

Ukuran bangunan musala hanya 6×7 meter. Tapi, sejak peletakan batu pertama sampai hampir satu tahun musalah itu tak kunjung rampung.

Pantauan Metrosulawesi, baru dinding dan atap yang hampir rampung. Belum ada daun pintu dan daun jendelanya. Kubah juga sudah siap dipasang.

“Sekarang yang sangat kami butuhkan untuk merampungkan musala ini adalah tehel untuk lantainya dan semen. Kalau  sudah ada segera dipasang sehingga musala ini bisa dipakai untuk salat. Kalau tukang tidak  dibayar, semua swadaya, gotong-royong,” ujarnya.

Ketua pembangunan musala Al-Hidayah, Muhammad Ikbal mengatakan, musala dibangun dengan urunan warga dan bantuan perorangan serta beberapa pihak. Ditanya soal bantuan dari pemerintah, dia mengatakan,

“Belum ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Anwar, warga Dusun II berharap musala segera rampung sehingga penyintas bencana banjir bisa nyaman beribadah.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas