BEKAS BANJIR - Petani di Desa Bangga membajak lokasi bekas banjir bandang lebih dari dua tahun silam. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)

Sigi, Metrosulawesi.id – Sejumlah petani di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi dilanda masalah baru. Derita akibat banjir bandang 28 April 2019 silam yang merusak sawah dan kebun belum juga usai, kini dihadapkan pada kelangkaan pupuk dan bibit jagung. Masalah ini dihadapi oleh petani yang tidak bergabung dalam kelompok tani.

“Bibit jagung sangat sulit didapatkan dengan harga murah. Padahal, rata-rata petani di sini tanam jagung,” ungkap Hendrik, salah satu petani ditemui di Desa Bangga, Sabtu 21 Agustus 2021.

Kalaupun ada bibit jagung, kata dia harganya susah dijangkau. Bahkan terkadang juga tidak ada di pedagang.

“Kadang beli dari desa lain seperti di Walatana,” kata Hendrik yang mantan ketua RT 3 Dusun II Desa Bangga.

Selain bibit jagung, petani juga sulit mendapatkan pupuk Urea dan Phonska. Padahal, dua pupuk itu yang sangat dibutuhkan, terutama untuk tanaman jagung.

“Saya kemarin tidak bisa beli pupuk karena tidak terdaftar dalam kelompok tani. Mau beli pupuk nonsubsidi harganya Rp300 ribu lebih. Kalau yang pupuk Urea subsidi hanya Rp110 ribu. Itu masalahnya,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semestinya pemerintah membeda-bedakan petani di Desa Bangga. Pupuk bersubsidi selayaknya diberikan kepada semua petani meskipun tidak terdaftar dalam kelompok tani.

“Tidak semua petani terdaftar dalam kelompok tani, sementara semua petani di Bangga terdampak  banjir bandang,” katanya.

Apalagi, kata dia kondisi ekonomi warga Desa Bangga yang mayoritas petani sedang jatuh sejak banjir bandang 28 April 2019 silam. Lahan persawahan yang menjadi tumpuan masyarakat juga hancur. Irigasi rusak, tidak bisa digunakan. Areal perkebunan yang luas juga rusak.

“Kondisi ekonomi kami di Desa Bangga benar-benar terpuruk,” kata Hendrik.

Selama lebih dua tahun setelah bencana itu, lanjut dia petani kesulitan memenuhi biaya produksi. Belum lagi ancaman gagal panen karena cuaca yang tidak menentu dan kondisi tanah. Karena itu, dia berharap pemerintah membantu petani dengan pupuk bersubsidi dan bibit tidak hanya kepada petani yang tergabung dalam  kelompok tani.

Saat ini, kata dia petani yang semula menanam padi beralih ke jagung dan cabai serta tanaman lainnya. Sebab, sekitar 50 persen sawah padi rusak karena tertanam material pasir dari banjir bandang, separuhnya lagi kering karena irigasi rusak.

“Syukur karena kelompok tani hampir semua dapat bibit kelapa. Tapi, jangan hanya itu. Bibit jagung dan cabai juga,” katanya.

Berbeda dengan Mohammad Ikbal, juga warga Dusun II yang tergabung dalam Kelompok Tani Ore Jaya. Menurutnya, khusus anggota kelompok tani punya jatah pupuk Urea dan Phonska.

“Tidak susah dapat pupuk bagi kelompok tani kami. Cuma memang dibatasi untuk satu hektar Urea 50 kilogram dan Phonska juga 50 kilogram. Itu khusus kelompok tani karena nama masuk dalam kelompok. Kalau tidak masuk kelompok tani memang tidak bisa beli pupuk bersubsidi,” kata Ikbal yang Bendahara Kelompok Tani Ore Jaya, Selasa 24 Agustus 2021.

Sementara itu, terkait bibit belum lama ini kelompok tani mendapatkan bantuan bibit kelapa dalam sekitar 1.000 pohon dan bibit jagung sekitar 500 kilogram dari pemerintah. Tapi, lanjutnya memang bantuan tersebut dikhususnya bagi kelompok tani. Sementara itu di Desa Walatana, desa tetangga Bangga, petani sedang menantikan bantuan bibit kacang.

“Saya dengar dulu ada perusahaan yang mau bantu bibit kacang. Tapi, sampai sekarang belum ada,” kata Tasman,  petani di Desa Walatana.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas