Arus Sidora. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Arus Sidora (AS) menegaskan tidak mengambil uang stimulan seperti informasi yang beredar selama ini.

“Tidak ada saya ambil itu uangnya ibu Warna dan suaminya Sahudin, tidak betul itu berita,” kata Arus Sidora ditemui di kantor Pengadilan Negeri Donggala, Rabu (25/8/2021).

Dia menjelaskan, Sahudin dan istrinya Warna adalah warga Desa Lalombi yang menerima bantuan dana stimulan rusak berat sebesar Rp50 juta.

Kemudian karena keduanya (Sahudin dan Warna) tidak mengerti urusan administrasi, Arus Sidora dimintai tolong membantu proses pencairan, belanja bahan dan sampai membuat LPJ (laporan pertanggungjawaban).

Arus Sidora juga menirukan perkataan Sahudin, dalam bahasa Kaili “Aku mannjani napa-napa hi, bantu aku no belanja doi (saya tidak tau apa-apa, bantu saya belanjakan uang).

“Dia minta saya belanjakan uangnya bantu dia (Sahudin dan ibu Warna), karena dia tidak tau berapa harga besi, semen, pasir, maka saya bantu belanja, tahap pertama 20 juta saya belanjakan bahan sebesar 16 juta rupiah, upah tukang 8,500,000, karena tidak cukup uang tahap pertama, uang pribadiku saya kasih 500 ribu ke ibu Warna dan suamainya,” sebutnya.

“Tidak ada saya ambil uangnya dorang dua itu (Sahudin dan Warna), dorang dua itu kan tinggal di gunung tidak paham urusan administrasi jadi dia minta ke saya langsung uruskan semua, tidak ada saya ambil uang stimulan 50 juta,” sebutnya.

Ditambahkannya, persoalan keterlambatan pembangunan rumah Sahudin dan Warna dikarenakan kendala teknis saja, misalnya medan atau akses jalan untuk memasukkan material ke lokasi harus melewati sungai, kemudian tukang yang juga memiliki kesibukan sehingga pembangunan rumah lambat terselesaikan.

“Sekarang sudah dilanjutkan pekerjaan rumah Sahudin dan ibu Warna, tukang sementara kerja di lapangan, kalau komiu (Anda) tidak percaya ini ko bicara dengan tukangku namanya Basir (sambil menyerahkan Handphonenya ke wartawan),” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, pasangan suami istri Sahudin dan Warna warga Dusun Marale Desa Lalombi harus rela tinggal di pondoknya (kebun) selama dua tahun, karena rumah bantuan yang diterimanya tidak selesai dibangun.

Ibu tiga anak ini menceritakan awalnya ia dan suami didatangi Arus Sidora mengatakan dana stimulan rusak berat sebesar 50 juta yang diterima sudah cair dan harus segera digunakan secepatnya.

“Saat didatangi itu saya bersama suami tak ada rasa kecurigaan sama sekali terhadap Arus Sidora, bahkan kami merasa bersyukur ada yang membantu, karena kami hanya tinggal di gunung tidak mengerti persoalan proses pencairan dana stimulan,” ujarnya.

“Saya ba terima bantuan stimulan 50 juta, tapi dana yang besar itu saya dikasih Arus sidora cuma 1,100,000. Pertama dia kasi saya 500,000 ribu, baru 600,000 ribu lagi dia kasih,” kisahnya.

“Dua kali itu suamiku dengan Arus Sidora pencairan, pertama 20 juta, yang kedua 30 juta, tapi rumahku tidak selesai dibangun, suamiku marah dengan Arus Sidora pak, kami ini memang tidak punya pendidikan, uang bantuan sudah habis tapi rumah kami tidak selesai dibangun, tolong kami pak, kami bersama keluarga selama 2 tahun tinggal di pondok di kebun, kalau mau memasak harus turun ke rumah saudara,” katanya.

Ibu yang berprofesi petani nila ini mengatakan selama membangun rumah itu, dia harus mengeluarkan uang hasil bertani sebesar 4 juta, padahal katanya lagi uang 4 juta itu untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk diberikan juga ke adiknya yang akan menikah.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas