BERI KETERANGAN - Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, Dr. Hatijah Yahya. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Masih guru SMA/SMK di Sulawesi Tengah belum mengikuti vaksinasi Covid-19. Hal itu sebabkan karena berbagai faktor salah satunya ketersediaan dosis vaksin di sejumlah kabupaten yang ada sangat terbatas.

“Jadi jangankan siswa, guru saja masih banyak yang belum mengikuti vaksinasi. Persoalannya kedatangan vaksin ke Sulteng tidak lancar, sehingga guru-guru kita belum 100 persen mengikuti vaksinasi. Bahkan masih ada beberapa kabupaten sangat rendah progresnya,” ujar Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng, Dr. Hatija Yahya, saat dihubungi Metro Sulawesi, Senin, 23 Agustus 2021.

Hatija mengatakan, jika vaksinasi siswa menjadi ketentuan baru untuk bisa melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), maka sampai kapan PTM akan diberlakukan, sementara tidak ada pelaksanaan vaksinasi masif di Sulteng.

“Jumlah siswa kita di Sulteng lebih dari 100 ribu ini baru SMA/SMK. Belum lagi siswa dari SMP karena usia vaksin untuk anak-anak 12 tahun. Jadi pemerintah harus menyiapkan vaksin untuk ribuan siswa,” katanya.

Hatija mengaku, belum memiliki data real terkait jumlah guru yang sudah divaksinasi. Namun sesuai laporan masih sangat minim guru divaksin di beberapa daerah. Misalnya saja di Banggai, pelaksanaan vaksinasi Covid untuk guru baru mulai. Begitu juga Luwuk, di Toili juga baru dilakukan.

“Untuk guru-guru di Kota Palu lumayan progresnya sudah di atas 80 persen. Hanya saja kabupaten lainnya ini belum, sementara harus semuanya guru di Sulteng mengikuti vaksinasi. Kita sudah sampaikan sesuai surat edaran pak gubernur, bahwa guru yang bisa tatap muka di sekolah, adalah guru yang sudah divaksin. Bagi guru yang belum divaksin tidak boleh ke sekolah,” tegasnya.

Pelaksanaan vaksinasi Covid terhadap guru dan siswa tergantung dari ketersediaan dosis vaksin di Sulteng.

“Saya mengimbau kepada para guru agar segera mendatangi posko-posko vaksinasi, sehingga proses PTM ini kita bisa lakukan. Begitupun vaksinasi kepada siswa jika sudah dilakukan, maka segera melakukan komunikasi orangtua dan siswa itu sendiri, agar percepatan pelaksanaan PTM yang kita sudah rindukan bersama-sama dapat segera berlangsung,” ujarnya.

Menurut Hatija, vaksinasi ini merupakan syarat untuk melakukan proses PTM, sementara banyak di antara guru di Sulteng pada saat melakukan vaksinasi imunitasnya tidak bagus.

“Banyak kendala yang terjadi terhadap guru ketika ingin mengikuti vaksinasi. Contohnya ada guru yang sudah mau divaksin tetapi setelah diperiksa tekanan darahnya naik, sehingga tidak jadi lagi divaksin. Inilah yang terjadi di lapangan terkadang kami tanya kenapa tidak 100 persen gurunya divaksin, menurut mereka memiliki penyakit bawaan (komorbid),” katanya.

Olehnya itu, kata Hatija, hal-hal yang seperti itu menjadi kendala di lapangan, sehingga masih banyak guru yang belum divaksin.

“Kami sangat berharap semoga vaksinasi ini dapat terselesaikan dengan secepatnya, sehingga PTM segera diberlakukan,” ungkapnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas