TERBENGKALAI - Beginilah kondisi rumah ibu Warna tidak selesai dibangun. Dana stimulan sebesar 50 juta diduga dibawa kabur oknum. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Duka Pasangan Sahudin-Warna Penerima Dana Stimulan di Donggala

Sudah dua tahun ini, Sahudin dan Warna, pasangan suami istri warga Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Donggala itu terpaksa tinggal di pondok. Impiannya untuk menempati rumah baru tak kesampaian. Rumahnya yang dibangun dari dana stimulan tak selesai. Sementara dananya sudah habis.

Laporan: Tamsyir Ramli

ADALAH pasutri (pasangan suami istri) Sahudin dan Warna warga Dusun Marale Desa Lalombi Kecamatan Banawa Selatan, menjadi korban pembodohan dari seorang warga berinisial AS yang selama ini mengurusi proses pencairan bantuan Stimulan untuk korban bencana Gempa/tsunami 2018.

Ahad pagi 22 Agustus 2021 wartawan mengunjungi kediaman pasutri Sahudin dan ibu Warna di Dusun Marale Desa Lalombi Kecamatan Banawa Selatan. Jaraknya, satu jam lebih perjalanan, melewati jalan yang tak mulus, dan harus menyeberangi sungai.

“Silakan masuk pak, maaf pak ini rumah saudara saya, hanya menumpang di sini sementara. Rumah saya yang sana (sambil menunjuk) ke rumah ukuran 4×6 yang belum selesai dibangun. Maaf ini pak suamiku ada di gunung (kebun) kalau kita panggil lagi jauh naik ke sana,” kata ibu Warna.

Warna. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Setelah dipersilakan masuk, Wartawan pun memulai perbincangan yang penuh rasa haru. Betapa tidak pasutri yang buta aksara ini menjadi korban pembodohan dari oknum warga Lalombi berinisial AS.

Ibu tiga anak ini menceritakan awalnya ia dan suami didatangi AS. AS mengatakan dana stimulan rusak berat sebesar Rp50 juta yang diterima sudah cair dan harus segera digunakan secepatnya.

Saat didatangi itu, Warna mengaku tak ada rasa kecurigaan sama sekali terhadap AS. Bahkan dia dan suaminya merasa bersyukur ada yang membantu menguruskan pencairan bantuan stimulan. Selama ini katanya, dia dan suaminya lebih banyak tinggal di kebun, dan tidak mengerti persoalan proses pencairan dana stimulan.

“Saya ba terima bantuan stimulan Rp50 juta, tapi dana yang besar itu saya dikasih Cuma Rp1,1 juta. Pertama dia kasih saya Rp500 ribu, baru Rp600 ribu  lagi dia kasih,” kisah Warna.

“Dua kali pencairan. Pertama Rp20 juta, yang kedua Rp30 juta, tapi rumahku tidak selesai dibangun. Suamiku marah kepada AS pak. Kami ini memang tidak punya pendidikan. Uang bantuan sudah habis, tapi rumah kami tidak selesai dibangun. Tolong kami pak. Kami bersama keluarga selama dua tahun tinggal di pondok di kebun. Kalau mau memasak harus turun ke rumah saudara,” kata Warna.

Ibu yang berprofesi petani Nila ini mengatakan selama membangun rumah itu, dia harus mengeluarkan uang hasil bertani sebesar Rp4 juta. Padahal katanya lagi uang Rp4 juta itu untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk diberikan juga ke adiknya yang akan menikah.

Ia berharap AS memiliki niat baik menyelesaikan pembangunan rumahnya, karena jika memang tidak ada terpaksa kami akan mengadukan ke pak polisi saja.

“Kami tidak tahu apa jabatan atau pangkat AS di pemerintah. Selama ini AS yang urus rumah ku pak, kwitansi pembelian barang atau bahan tidak pernah dia kasi lihat kami. Dia cuma bilang uang tukang sudah lunas,” tukasnya.

Sayangnya hingga berita naik cetak, belum diperoleh konfirmasi dariAS. Wartawan berusaha menemui AS di kediamannya yang bercat orange itu tertutup.

Selanjutnya wartawan mengkonfirmasi via ponselnya 0852-4260-02XX, pria yang sering berpenampilan rapi berkacamata hitam ini tidak memberikan tanggapan. (*)

Ayo tulis komentar cerdas