Emi Indra, S. Ag., M.Pd. (Foto: Istimewa)
  • Strategi Guru Emi Mendidik Siswa di Masa Pandemi

Laporan: Moh. Fadel

EMI Indra, S.Ag.,M.Pd, seorang guru SMP Negeri 1 Palu, mempunyai strategi tersendiri dalam mengajarkan siswa-siswinya di masa pendemi ini. Namun menurutnya yang utama adalah melibatkan Allah dalam mendidik di situasi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia saat ini.

Guru, menurut Emi, tidak hanya sekadar mentrasfer ilmu pengetahuan, namun lebih penting bisa menjadi pendidik dan inspirasi bagi peserta didik.

“Dalam melaksanakan tugas sebagai guru, banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah mengubah perilaku peserta didik dari yang dicap malas, tidak disiplin, tukang bolos, dan biang keributan di kelas menjadi anak yang patuh, ” kata Emi, melalui ponselnya,  Minggu, 22 Agustus 2021.

Menurutnya, tantangan itulah yang harus dihadapi sejak kepindahannya dari SMPN 3 Moutong Kabupaten Parigi Moutong ke SMPN 1 Palu pada 2017.

“Peserta didik yang saya hadapi aman-aman saja. Tidak ada peserta didik yang perilakunya memicu adrenalin dalam menghadapinya. Pada tahun pelajaran 2017 – 2018, saya diberi jadwal mengajar di kelas 9. Salah satu kelas yang dijadwalkan ke saya yaitu kelas 9 Ki Hajar Dewantara. Di kelas inilah saya diuji kesabaran dalam menghadapi salah satu peserta didik,” ujarnya.

Kata Emi, di masa pandemi saat ini, semua aktivitas belajar mengajar diberlakukan secara daring. Tentunya berbagai strategi yang dilakukan guru, selain melibatkan Allah dengan selalu memberikan suport lewat doa sebelum belajar yang bertujuan agar selalu dimudahkan selama mengikuti pembelajaran secara daring.

“Dalam pembelajaran di masa pandemi, guru dituntut untuk bisa menguasai IT dan berbagai strategi dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menyenangkan tetap menjadi suatu keharusan bagi seorang guru. Mengajar online bukan hanya sekadar mengajar konvensional dengan menggunakan IT, tetapi bagaimana guru mengemas pembelajaran yang disamping menyenangkan juga bisa mengeksplor kemampuan peserta didik,” jelasnya.

Kata dia, salah satu strategi dalam pembelajaran daring ini adalah menerapkan model-model pembelajaran abad 21. Misalnya problem based learning dan project based learning. Model pembelajaran ini mampu merangsang peserta didik untuk memecahkan persoalan yang diberikan serta bisa menghasilkan karya nyata. Satu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh guru adalah selalu memberikan reward kepada peserta didik yang mampu menyelesaikan tantangan atau tugas.

“Bagi saya tangkap basah kebaikan dan tempa besi selagi masih panas, merupakan salah satu upaya meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. Reward yang sangat sederhana yang selalu saya berikan kepada peserta didik yaitu dengan memberikan tepuk tangan atau jempol. Karena jempol seorang guru sangat dinanti oleh peserta didik. Jempol guru jangan hanya disimpan dalam kantong,” katanya.

Sementa itu Kepala SMPN 1 Palu, Farida Batjo mengungkapkan, mendidik anak, baik anak saat berada di rumah maupun di sekolah hendaknya tidak melulu memarahinya.

“Apalagi memarahi di depan teman-temannya. Karena sejatinya, anak butuh untuk dihargai dan dilindungi perasaannya. Mendidik mereka harus dilakukan dengan penuh cinta. Mengajari mereka lewat hati agar apa yang disampaikan akan sampai ke hatinya, ” kata Farida.

Olehnya itu, Farida berharap, guru harus selalu menghargai dan mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan oleh peserta didik.

“Apresiasi sangat penting dalam menumbuhkan rasa percaya dirinya. Dan yang paling penting yaitu melibatkan Allah dalam mendidik mereka. Selalu mendoakan mereka agar menjadi anak saleh dan saleha yang kelak berguna pada negara, orang tua, dan agamanya. Karena Allahlah yang Maha Membolak Balikkan Hati Manusia, ” ungkapnya.

“Tugas kita sebagai guru hanyalah mengajak peserta didik kepada kebaikan, hasilnya kita serahkan ke Allah. Semoga salah satu dari mereka akan menarik tangan kita masuk dalam surga-Nya,” tambahnya.

Ayo tulis komentar cerdas