HAMPIR semua orang tercengang. Kaget. Matanya seperti menatap setan di depannya. Nafasnya tak beraturan. Jantungnya berdetak kencang. Terutama sebagian rakyat Indonesia. Kecuali Jusuf Kalla atau JK. Wakil Presiden RI dua periode itu tetap tenang. Tersenyum-senyum di kediamannya. JK paham siapa Taliban, kini.

Begitu mudahnya Taliban merebut negerinya dari kaum penjajah yang dimotori Amerika Serikat dan NATO. Presiden Ashraf Ghani yang memimpin negeri ini sejak 2014, tiba-tiba lari terbirit-birit. Seperti begal sedang diburu Satpol PP. Meninggalkan istananya yang megah. Wajahnya pucat. Seakan darahnya berhenti menjalar. Ketakutan teramat sangat menghantuinya. Gemetar. Menuju pesawatnya.

Pesawat yang penuh uang itu terbang membawa tuannya ke tempat persembunyiannya. Menteri-menterinya marah melihat pemimpinnya meninggalkannya.

“Presiden kita pengecut,” teriak seorang menterinya yang berusia muda. Begitu kabar yang berkembang.

Militernya pun bingung harus bersikap bagaimana. Sementara tentara Taliban terus merangsek dengan senjatanya yang dipamerkan. Diangkat tinggi-tinggi ke angkasa dengan moncong siap memborbardir lawannya. Menantang siapa berani melawannya. Menguasai kota-kota provinsi, hingga ibu kota Afghanistan, Kabul. Akhirnya militer bermental rapuh, kader-kader Amerika Serikat, itu menyerah. Tanpa syarat. Angkat tangan, tanpa senjata di tangan. Meminta ampun kepada penguasa baru bernama Taliban.


Pada mulanya Ashraf tak mau kabur dari negeri yang dipimpinnya. Dengan kekuatan militernya, meski tanpa bantuan tentara Amerika Serikat, dia merasa yakin mampu melawan kelompok fundamentalis ini. Namun tentara Taliban, dengan cepat merebut sejumlah kota di Afghanistan. Ashraf ciut nyalinya.

Malam itu di istananya, dia mondar-mandir. Keluarganya memandangnya dengan wajah cemas. Tak bisa lagi tidur. Kegelisahan mengoyak batinnya. Sejumlah orang dekatnya dihubungi. Semuanya tak memberinya semangat perlawanan. Sementara Taliban sudah menguasai Kandahar. Dari kota Kandahar Taliban merangsek ke utara. Tak lama lagi Taliban merebut kota Kabul.

Ashraf pun bingung. Dia mengingat-ingat sepak-terjang Taliban. Di awal kemunculannya di negeri ini pada 1996, Taliban menggulingkan Presiden Afghanistan, Burhanuddin Rabbani. Bukan hanya itu, Taliban pernah menggantung Presiden Mohammad Naji Bullah, yang dicap sebagai bonekanya Uni Soviet. Merenungi semua itu, Ashraf bersama keluarganya memilih kabur dari negerinya dengan pesawat. Menuju negeri yang mengasihaninya.

Akhirnya, Taliban pawai di Kabul. Merayakan kemenangannya. Mengibarkan bendera Panji Islam. Kini negeri Afghanistan tidak lagi berbentuk Republik Islam. Telah menjelma menjadi: Emirat Islam Afghanistan (AIA). Sealiran Iran dan Arab Saudi.

“Apakah dinda tahu mengapa Ashraf sangat mudah ditumbangkan dari negerinya oleh tentara Taliban?” Kawanku di kedai kopi mendekat lalu bertanya.

“Tidak tahu, Bung.”

“Mau tahu?”

“Tentu, Bung.”

“Ashraf itu Presiden Boneka. Boneka itu gampang ditumbangkan. Makanya jangan mau jadi Presiden Boneka, dinda.” Kawanku mengerdipkan mata kanannya. Melemparkan senyum simpulnya. Entah bermakna apa. (#)

Ayo tulis komentar cerdas