SALAM CORONA - Sebelum menuju Puncak Tanah Tajio singgah membeli kebutuhan di sebuah toko. (Foto: Istimewa)
  • Yang Tersisa dari Upacara HUT Kemerdekaan di Puncak Tanah Tajio

Upacara puncak Peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan juga digelar di Puncak Tanah Tajio, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Upacara pagi itu, berlangsung sederhana namun hikmat. Berikut laporannya.

PUNCAK Tanah Tajio merupakan sebuah kampung yang dihuni warga suku dalam. Ada banyak kepala keluarga yang mendiami kampung itu. Mereka tinggal terpencar-pencar. Dan mereka masih kurang tersentuh oleh layanan pemerintah.

Pada momen HUT Kemerdekaan 17 Agustus, Selasa pekan lalu, sejumlah komunitas menggelar upacara di sana.

“Kami melaksanakan upacara di sana. Ini sebagai bentuk kepedulian kami kepada anak-anak suku dalam di Puncak Tajio,” kata Dedy Bedolo kepada Metrosulawesi, Kamis 19 Agustus 2021.

Dedy yang lebih akrab dipanggil “Puang Tajio” itu mengatakan, awalnya kegiatan upacara HUT Kemerdekaan itu digagas oleh inisiator pembangunan Pondok Pesantren Cyber. Belakangan katanya, teman-teman dari PHDI dan trail Parimo ingin ikut bergabung.

“Jadi kita ajak saja. Mereka juga yang membawa kami ke atas,” ujar Dedy.

Selain upacara HUT Kemerdekaan, mereka juga menyalurkan bantuan sosial berupa pakaian layak pakai untuk anak-anak suku dalam Tajio.

Namun, karena kondisi jalan yang hanya bisa ditempuh dengan mobil trail, maka terpaksa bantuan itu kami titip di salah satu rumah.

Usai upacara kata Dedy, dia mendapat video call dari Wakil Ketua Umum Partai Nasdem, H Ahmad Ali.

Waketum Ahmad Ali (kiri) memberi tanda hormat saat berpapasan dengan Presiden Joko Widodo yang mengenakan pakaian suku Baduy. (Foto: Istimewa)

“Beberapa jam setelah bertemu pak Jokowi yang pada saat itu memakai pakaian adat suku Baduy, Pak Ahmad Ali langsung melakukan video call dengan anak suku dalam untuk menyemangati anak suku dalam dalam rangka HUT RI ke-76 di Puncak Tanah Tajio,” jelas Dedy.

“Ahmad Ali meminta kepada kami untuk melakukan pendampingan secara konsisten kepada anak-anak suku dalam Tajio di Puncak Tanah Tajio,” tambahnya.

Selain Ahmad Ali, kata Dedy, mereka juga mendapat supor dari advokat kondang, Elsa Syarif. Elsa kata Dedy, menaruh atensi yang cukup besar terhadap anak suku dalam Tajio.

“Ibu Elsa juga melakukan video call kepada kami,” ujarnya.

Dedy mengatakan, ada beberapa agenda yang akan dilakukan di Puncak Tanah Tajio. Salah satunya adalah pembangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Cyber Indonesia. Ponpes ini nantinya akan terintegrasi dengan agrowisata edu wisata yang berbasis IT (Informasi dan teknologi)

“Mendekatkan pendidikan berkualitas kepada anak dalam Tajio menjadi concern. Begitu pinta pak Ahmad Ali kepada kami Komunitas AAC. Inilah yang akan menjadi perjuangan kami kedepan — pendidikan berkelanjutan yang berkualitas adalah hak dasar semua anak Bangsa — BBM saja bisa satu harga kok masaka pendidikan tidak…?! Yg memungkinkan akan hal itu adalah pendidikan berbasis IT ujar,” pemuda yang sering disapa Puang Tajio itu

Anak suku dalam Tajio di Kabupaten Parigi Moutong boleh dibilang belum “merdeka”. Mereka baru bisa terakses dunia luar pada tahun 2003 lalu. Mereka belum bisa mengakses pendidikan, apalagi layanan kesehatan gratis.

“Nah, insyallah melalui Pondok Pesantrean Cyber ini bisa mendekatkan mereka ke layanan pendidikan,” aku Dedy.

Dikutip dari berbagai sumber, masyarakat Suku Tajio dikenal dengan masyarakat Tajio atau orang Tajio asli. Istilah Tajio berasal dari bahasa Suku Tajio yang artinya “Tidak”. Jadi peneliti bisa menyebut bahwa Tajio adalah salah satus uku yang tidak dengan mudah terpengaruh oleh kehidupan sosial budaya masyarakat lainnya dan tetap menjunjung tinggi nilai sosial budaya masyarakat yang telah diwariskan nenek moyang mereka yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal ini terbukti dengan masih adanya suku Tajio dan masyarakatnya masih sangat melestarikan budayanya.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas