BERI KETERANGAN - Danrem 132 Tadulako Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf dalam suatu kesempatan memberikan keterangan kepada wartawan. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Danrem: Mereka Bukan Kelompok Mujahidin

Poso, Metrosulawesi.id – Hingga kini Daftar Pencarian Orang (DPO) teroris Poso masih menyisakan enam orang, mereka terus diburu aparat gabungan dalam operasi Madago Raya.

Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 132/Tadulako Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf menegaskan kelompok Ali Kalora di hutan Poso adalah kelompok penjahat teroris, bukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur atau MIT.

“Saya ingin tegaskan bahwa kelompok Ali Kalora adalah kelompok penjahat teroris, mereka bukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) seperti yang selama ini mereka kelompok Ali Kalora klaim,” kata Farid Makruf, di Poso, Rabu 18 Agustus 2021.

Menurutnya, aksi Ali Kalora tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Apalagi, membawa lebel Islam seperti Mujahidin. Sebab, kata Mujahidin terlalu mulia untuk kejahatan yang dilakukan Ali Kalora selama ini.

“Mujahidin ini adalah kalimat untuk para mujahid yang mulia, seperti para pembawa kebenaran dan kebaikan, bukan penjahat. Jadi kalimat Mujahidin ini tidak bisa digunakan sebagai lebel membenarkan cara-cara kriminal membunuh orang tak berdosa,” tegas Danrem.

Dengan membawa lebel Mujahidin, kelompok Ali Kalora berusaha merebut simpatisan dari kelompok Islam. Padahal, kegiatan yang dilakukan kelompok ini tak mencerminkan nilai-nilai Islam sama sekali.

Olehnya, Danrem meminta warga Poso terutama umat Islam agar tak terpengaruh dengan paham-paham yang diajarkan kelompok Ali Kalora ini.

Diakuinya, kelompok Ali Kalora ini terbagi dalam dua kelompok. Yaitu kelompok di atas dan dibawah.

“Di atas yaitu kelompok Ali Kalora, melakukan kejahatan dengan bersembunyi di hutan membunuh warga, lalu kelompok kedua ini ada di bawah yang merupakan simpatisannya,” urainya.

Nah, simpatisan inilah, sebut Danrem yang sulit diberantas karena mereka berbaur dengan masyarakat, mereka mengajarkan paham yang bertentangan dengan nilai Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kelompok di bawah ini, membantu kelompok yang di atas dengan menyuplai logistik dan informasi. Sehingga kelompok di atas masih terus bertahan.

Satgas Madago Raya yang terlibat dalam operasi ini, urai Danrem tak bisa sepenuhnya memantau aktifitas masyarakat Poso terutama yang menjadi simpatisan Ali Kalora.

Kelompok ini masih menyamakan kondisi Poso saat konflik komunal tahun 1999 lalu dengan saat ini. Padahal kondisi saat ini sudah jauh berbeda dengan masa lalu Poso.

“Kelompok di bawah ini terus mengelola konflik, kecemburuan sosial, dendam masa lalu, dan mendoktrin anak-anak untuk naik ke atas melakukan kekacauan,” jelasnya.

Padahal masyarakat Poso sudah hidup damai dan berdampingan. Tapi kelompok ini tidak menginginkan Poso damai, mereka terus menebar teror dan ketakutan dengan bersembunyi di hutan.

Ditambahkan oleh Danrem, satu-satunya kekuatan yang bisa mengalahkan kelompok Ali Kalora ini adalah soliditas dan kekompakan masyarakat Poso, saat ini situasi semakin kondusif dimana warga menginginkan Poso seperti sedia kala, hidup rukun dan damai dalam bingkai NKRI.

Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas