Ambotuwo. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Ambotuwo mengharapkan para guru memberikan penugasan kepada para peserta didik secara proporsional. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan dan mengurangi beban para siswa dalam mengikuti proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Wali Kota juga memiliki harapan yang sama agar peserta didik tidak begitu dibebani dalam mengikuti PJJ. Kami juga tidak ingin membebani orangtua dalam mendampingi anaknya selama melakukan PJJ dari rumah,” kata Ambotuwo, melalui ponselnya, belum lama ini.

Sebenarnya, kata Ambotuwo, yang paling utama proses pembelajaran di masa pandemi tetap berjalan lancar, meskipun hanya dilakukan secara terbatas dan tidak terlaksana dengan maksimal.

“Harapan Wali Kota Palu agar bapak dan ibu guru nantinya dalam memberikan penugasan kepada peserta didik dilakukan secara proporsional sehingga para peserta didik maupun orangtuanya tidak merasa begitu terbebani. Untuk itu saya harapkan agar hal ini nanti disampaikan kepada para bapak dan ibu guru,” ujarnya.

Menurut Ambotuwo, dalam kondisi seperti ini capaian target tidak terlalu diutamakan, tetapi yang paling utama adalah proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik dan para peserta didik tetap melakukan aktivitas pembelajaran.

Sebelumnya, Ambotuwo mengatakan, sebanyak enam SMP di Kota Palu terpaksa melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas, yakni SMPN 8 Palu, SMPN 11 Palu, SMPN 22 Palu, SMP Alkhairaat 2 Palu, SMP IT Qurrata A’yun, dan SMP IT Imam Muslim.

“Kebijakan tersebut diputuskan pada rapat tindak lanjut hasil pertemuan dengan Walikota Palu terkait perpanjangan PPKM. Rapat bersama kepala sekolah itu membahas tentang mekanisme pembelajaran di sekolah pada masa perpanjangan PPKM, di ruang kerja Kadisdikbud Kota Palu, baru-baru ini,” ungkapnya.

Kata Ambotuwo, kebijakan untuk mengizinkan pelaksanaan PTM terbatas terhadap keenam sekolah tersebut diputuskan dengan mempertimbangkan beberapa hal, yakni karena keterbatasan akses jaringan dan juga keterbatasan fasilitas untuk penunjang pembelajaran daring.

“Sehingga pembelajaran terpaksa harus dilakukan secara tatap muka terbatas dengan sistem shiftI atau bergantian, dengan penerapan protokol kesehatan ketat,” ujarnya.

Kata dia, ada beberapa sekolah yang sulit untuk melaksanakan pembelajaran daring, karena beberapa kendala.

“Sehingga saya menyarankan untuk beberapa sekolah tersebut untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistem shift dan tidak dilakukan secara daring,” katanya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas