Suaib Djafar - Norma Mardjanu. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Dewan Pakar Badan Musyarah Adat (BMA) Provinsi Sulteng, H Suaib Djafar, mengungkapkan Sulawesi Tengah dianugerahkan kekayaan atas keberagaman suku memperkaya kearifan lokal seni dan budaya yang ada.

“Keberagaman tersebut merupakan warisan secara turun temurun. Beragam wujud warisan budaya lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Masalahnya kearifan lokal tersebut seringkali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan,” ungkapnya didampingi Hj Siti Norma Mardjanu, Senin, 2 Agustus 2021.

Dampaknya kata Suaib banyak warisan budaya yang lapuk dimakan usia, terlantar, terabaikan bahkan dilecehkan keberadaannya. Selain itu, perkembangan atau kemajuan teknologi yang semakin pesat dapat berpengaruh negatif terhadap pelestarian seni dan budaya.

“Tanpa kita sadari begitu mudah terpengaruh arus globalisasi modern yang berdampak pada gaya hidup kebarat-baratan khusunya para generasi muda. Lambat laun, secara tidak sadar kita telah meninggalkan bahkan melupakan budaya yang kita miliki, nilai-nilai luhur pun mulai tergerus oleh arus globalisasi,” ucapnya.

Oleh karena itu perlu adanya langkah-langkah didalam pemajuan dan pelestarian kebudayaan sehingga perkembangan dan kemajuan teknologi berdampak positif yang dapat dimanfaatkan untuk lebih mengenal serta melestarikan kearifan lokal seni dan budaya.

Norma melanjutkan pemajuan dan pelestarian kebudayaan bukan semata-mata dibebankan kepada pemerintah semata. Karena proses pemajuan dan pelestarian seni dan budaya tidak terlepas dari kelembagaan adat. Atas hal itu, Norma menyebut BMA Sulteng mengambil peran menjadi mitra pemerintah dalam pemajuan dan pelestarian seni budaya.

“Badan Musyawarah Adat Sulteng adalah lembaga adat Provinsi Sulawesi Tengah yang melindungi, menjaga, memelihara dan melestarikan nilai-nilai adat istiadat yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah,” ujar Norma.

Mantan Staf Ahli Gubernur Sulteng itu menjelaskan BMA berbentuk konfenderasi dari kelembagaan-kelembagaan adat yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun kelembagaan adat asli yang memiliki wilayah keadatan dalam wilayah administrasi Porvinsi Sulawesi Tengah.

Adapun visi BMA Sulteng yaitu “Terwujudnya Masyarakat Sulawesi Tengah Yang Sejahtera, Beradab Berbasis Nilai-Nilai Adat”. Sementara misinya membangun silaturahim dan jaringan kerjasama yang sinergis antar sesama lembaga adat, antara lembaga adat dengan pemerintah dan pihak-pihak lainnya.

Kemudian memperjuangkan eksistensi, peran, hak-hak dan kesejahteraan lembaga/masyarakat adat serta nilai-nilai kearifan lokal berbasis adat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Misi selanjutnya menggali, melestarikan, menumbuhkembangkan, menegakan dan memanfaatkan nilai-nilai, norma serta hukum adat yang dianggap sesuai untuk kemajuan bangsa dan negara,” tandas Norma.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas