Haliadi Sadi. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)

Oleh: Haliadi Sadi, Ph.D*)

“Civilization and Culture is Power,” pernyataan ini bukan hanya sebagai isapan jempol semata, tetapi hal ini memang nyata bahwa kekuatan peradaban dan kebudayaan menjadi kekuatan yang merubah kehidupan sosial, ekonomi, politik dan seni suatu bangsa. Civilization atau peradaban merupakan daya cipta rasa dan karsa yang masih berada dalam diri manusia, sementara culture atau kebudayaan adalah wujud daya cipta, rasa dan karsa yang kelihatan secara nyata sebagai produk kreativitas manusia. Pada dasarnya peradaban dan kebudayaan akan menjadi kekuatan kalau diolah sesuai prinsip-prinsip berdasarkan kaidah akademik secara baik, indah dan benar untuk hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara di tingkat Provinsi.

Jumat, pukul 14.00, secara daring ada sebuah diskusi Molibu Ntodea yang digagas oleh Dr. Ahlis Djirimu dan kawan-kawan untuk merancang secara dini strategi kebudayaan di Provinsi Sulawesi Tengah. Kami memberikan pokok pikiran berupa ulasan singkat untuk melihat secara nyata dalam perspektif sejarah tentang peradaban dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah. Catatan ini adalah buah pemikiran kami mengenai topik yang dibicarakan. Pertanyaannya adalah bagaimana bentuk sejarah peradaban dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah?  Menjawab pertanyaan ini musti kita lacak dalam dua hal, yakni: Perdaban dan kebudayaan Sulawesi Tengah secara diakronik dan secara sinkronik.

Peradaban dan kebudayaan dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tengah secara diakronis (memanjang dalam waktu) telah berkembang dalam lima tahapan utama, yakni: Tahapan Peradaban Megalithikum,  Tahapan peradaban 16 Kerajaan Besar di Wilayah Sulawesi Tengah, Tahapan peradaban Kolonialisme dan imperialism di Sulawesi Tengah oleh Belanda dan Jepang antara tahun 1901-1945, Tahapan Peradaban Orde Lama dan Orde Baru sejak tahun 1950-1998, dan tahapan peradaban masa Reformasi mulai 1999 hingga sekarang. 

Tahapan Megalithicum yang telah berlangsung sejak 400,000 tahun yang lalu di wilayah Napu dalam Lembah Bada, Besoa, dan Napu, serta Lore Lindu akan menjadi branding peradaban di Sulawesi Tengah.  Peninggalan arkeologi prasejarah yang memuati peradaban dan kebudayaan di Sulawesi Tengah telah dieksplorasi oleh Adriani dan A.C. Kruyt dalam “Van Poso naar Parigi  een Lindoe” pada tahun 1898 dan 1938 Kruyt menulis “De West Toradjas in Midden Celebes” menyebut juga tinggalan arkelogis di Kulawi seperti kalamba di Gimpu, batu dulang di Mapahi, dan peti kubur kayu di Danau Lindu. Demikian juga Walter Kaudern, peneliti Swedia 1938 menulis “Megalithic  Finds in Central Celebes” dan “Structure and Settlements in Central Celebes”.

Penelitian arkeologi tahun 1976 oleh Tim Proyek Penelitian dan Peninggalan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pimpinan Haris Sukendar mengekskavasi situs Suso di Padang Tumpuara Lembah Bada Kabupaten Poso dan situs-situs megalitik di Sulawesi Tengah terkonsentrasi di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang meliputi Lembah Napu, Lembah Besoa, Lembah Bada, Danau Lindu, Kulawi, dan Gimpu di wilayah Kabupaten Poso dan Kabupaten Donggala. Kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan kawasan perlindungan benda cagar budaya dan perlindungan serta konservasi keanekaragaman hayati yang endemik. Penelitian terakhir adalah tim delienasi dari Balai Arkeologi Indonesia tentang potensi Cagar Budaya di Lembah Bada, Besioa, dan Behoa.

Intinya peradaban dan kebudayaan zaman ini mengandung  artefak berupa Kalamba, Arca Menhir, Menhir, Batu Dakon, Batu Dulang, Lumpang Batu, Batu Kerakal, Altar, Dolmen, Tetralit, Temu Gelang, Tiang Batu, Tumulus, Punden Berundak, Tempayan Kubur, Batu Gores, Palung Batu, Peti Kubur Kayu, dan Jalan Batu. Lokasi penemuan tinggalan kalamba di Sulawesi Tengah meliputi wilayah Lore yang terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Lore Utara atau Lembah Napu, Lore Tengah atau Lembah Behoa, dan Lore Selatan atau Lembah Bada. Selain di Lore, temuan kalamba hanya di temukan di wilayah Kulawi.

Tahapan peradaban 16 Kerajaan Besar di Wilayah Sulawesi Tengah yang berlangsung sejak abad ke-15 merupakan tahapan peradaban dan kebudayaan yang soft karena melalui keraton kerajaan peradaban dan kebudayaan kita akan menemukan peradaban adiluhung bukan peradaban yang muncul di pinggir jalan. Kemudian pada tahapan peradaban kolonialisme dan imperialism di Sulawesi Tengah oleh Belanda dan Jepang antara tahun 1901-1945 juga kita  menemukan peradaban Eropa yang ada di wilayah ini terutama arsitektur bangunan dan semacamnya. Demikian juga pada tahapan peradaban Orde Lama dan Orde Baru sejak tahun 1950-1998 kita akan menemukan peradaban dan kebudayaan nasionalisasi sebagai unit peradaban dan kebudayaan keindonesiaan. Pada akhirnya pada tahapan peradaban dan kebudayaan masa reformasi mulai 1999 hingga sekarang kita akan menemukan suatu perubahan peradaban dan kebudayaan yang demokratis. Setiap tahapan peradaban ini mesti kita gali potensinya secara akademik secara massif untuk dijadikan sebagai modal peradaban dan kebudayaan yang dimiliki patennya oleh Sulawesi Tengah.

Selain hal tersebut di atas, ada juga peradaban dan kebudayaan dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tengah secara sinkronis (melebar dalam ruang) yakni: Sulawesi Tengah merupakan keragaman Suku yang tinggi sebagai pemilik peradaban dan kebudayaan, Sulawesi Tengah memiliki persebaran wilayah peradaban dan kebudayaan yang beragam, Pusat-pusat peradaban dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah juga tersebar dalam kerajaan-kerajaan yang besar dan kecil serta Sulawesi Tengah memiliki keragaman agama yang berbeda-beda mengembangakan peradaban dan kebudayaan agamanya masing-masing. Demikianlan secara sosiologis dan antropologis peradaban dan kebudayaan Sulawesi Tengah kita menemukan keragaman yang tinggi. Boleh jadi Sulawesi Tengah akan menjadi semacam miniatur Indonesia dalam hal peradaban dan kebudayaan.

Berdasarkan catatan ini secara diakronis dan sinkronis, potensi peradaban dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah memiliki kandungan yang sangat besar. Kandungan ini akan nampak ke permukaan ketika ada langkah-langkah konkrit dilakukan secara akademik  dan sistematik didukung political will yang tinggi pula. Kemudian dikemas dalam sebuah program berdasarkan regulasi yang ada, misalnya mulai dari pendaftaran, pengkajian, penetapan, pencatatan, pemeringkatan, hingga penghapusan (UU No.10/2011) oleh bagian Kebudayaan atau Provinsi Sulawesi Tengah akan membentuk “Dinas Peradaban dan Kebudayaan” sendiri.

Demikian juga dengan pelestarian, perlindungan, penyelamatan, pengamanan, zonasi, dan pemugaran. Aspek pengembangan juga diperhatikan dengana langkah penelitian, revitalisasi, adaptasi, dan pemanfaatan obyek peradaban dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah. Kuncinya adalah peradaban dan kebudayaan Sulawesi Tengah sebagai sebuah kekuatan harus menjadi dasar yang mempengaruhi perkembanagn sosial, perkembangan ekonomi, dan perkembagan politik Sulawesi Tengah kini dan masa mendatang. (*)     

*) Penulis adalah  Dosen Sejarah Universitas Tadulako dan  Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Tengah.

Ayo tulis komentar cerdas