Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah, M Abd Majid Ikram pada webinar Talkshow Festival Ekonomi Syariah KTI 2021, Rabu, 28 Juli 2021. (Tangkapan layar: Pataruddin)
  • Ekonomi Syariah

Palu, Metrosulawesi.id – Bank Indonesia selaku Bank Sentral, selain melaksanakan tugas dan wewenangnya di bidang moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran, juga berperan aktif dalam pengembangan perekonomian keumatan yang diharapkan dapat menjadi sumber pemberdayaan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi baru melalui diversifikasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah M Abd Majid Ikram pada webinar Talkshow Festival Ekonomi Syariah KTI 2021, Rabu, 28 Juli 2021.

Menurut Majid, salah satu fokus pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia yakni melalui pelatihan UMKM dan Local Economic Development (LED) pengembangan ekonomi kreatif (tenun dan kerajinan lokal) yang merupakan warisan budaya bernilai ekonomi tinggi, serta pengembangan UMKM IKRA (Industri Kreatif Syariah) dan mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui unit usaha.

“Ekonomi syariah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia dimasa yang akan datang mengingat potensi yang cukup besar dengan dukungan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia,” katanya.

Lanjut Majid, kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh Bank Indonesia ini dilaksanakan secara komprehensif dan berkelanjutan dengan berkoordinasi dan bersinergi dengan Otoritas dan instansi terkait serta pemerintah, termasuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

“FESyar KTI ini telah diselenggarakan untuk ke lima kalinya oleh Bank Indonesia untuk mendukung pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah. Sebelumnya, FESyar KTI diadakan di Makassar, Balikpapan, Banjarmasin dan terakhir 2020 di Lombok, NTB,” ujar Majid.

Penyelenggaraan FESyar KTI menuju ISEF 2021 ini menandai era baru dengan penggunaan media virtual, suatu upaya bersama untuk menggerakan ekonomi dan usaha syariah dalam masa COVID-19. Adapun kegiatan difokuskan untuk mendorong pengembangan usaha syariah melalui fasilitasi seritifikasi halal produk UMKM Syariah dan Pondok Pesantren, serta pemanfaatan pembayaran secara digital.

Selain itu juga sebagai sarana edukasi dan peningkatan literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah melalui webinar, sehingga akan meningkatkan Halal lifestyle yang bermaslahat bagi masyarakat,

“Bicara mengenai Ekonomi Syariah, ada baiknya kita mulai melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Jika kita lihat visi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dunia, seperti Inggris yang memiliki visi untuk menjadi Islamic Finance Hub, Malaysia sebagai global halal and Islamic Finance Hub ataupun Thailand yang memiliki visi untuk menjadi Halal Kitchen di dunia. Kita perlu memiliki tujuan atau visi yang lebih besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia Indonesia perlu memikirkan posisinya sebagai “pemain utama” dalam perkembangan ekonomi syariah di dunia,” jelas Majid.

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memiliki karakter masyarakat yang beragam. Terdapat beberapa agama yang hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakatnya.

Tambah Majid, dari 270 juta penduduk, 87 persennya atau sekitar 230 juta penduduk beragama Islam dan 40 juta lainnya merupakan penduduk agama lain. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia tentu memiliki potensi budaya yang berbeda dengan negara lain. Kebudayaan yang beragam yang tidak terlepas dari nilai-nilai agama membuat negara ini kaya akan potensi seperti pariwisata berbasis syariah, industri makanan halal, dan halal fashion yang mampu menjadi daya tarik wisatawan muslim untuk berkunjung.

Hal ini pula yang mendorong pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat perkembangan perekonomian syariah dunia.

Potensi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia perlu dilihat sebagai kekuatan yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai pasar bagi para pemain ekonomi syariah lainnya.

Posisi Indonesia dalam pangsa pasar industri halal terhadap pasar global contohnya untuk industri makanan halal mencapai 13% pangsa pasar dunia dan dengan nilai yang mencapai USD 200 miliar. Pengembangan dan penguatan ekosistem rantai nilai halal diperlukan dalam upaya mengoptimalkan potensi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. (*/ptr)

Ayo tulis komentar cerdas