Home Artikel / Opini

Risma, Offside!

MARAH itu tidak sehat, nasihat seorang dokter. Marah itu dekat dengan sakit jiwa, kata seorang psikiater. Marah itu setan, kotbah seorang ustaz. Marah itu mengeluarkan energi negatif, ujar kawanku di kedai kopi. Entah benar atau salah, mari merenunginya. Namun yang aku tak meragukan kebenarannya: marah itu dapat menurunkan imun. Bila imun lemah, tentu covid gampang menyerang.

Mbak Risma tahu kan kini pemerintahan Joko Widodo sedang resah–mungkin juga panik– melihat kenyataan bertambahnya korban Covid-19, kematian sekitar seribu orang, tiap hari? Dan Mbak Risma bagian dari pemerintahan ini. Perannya luar biasa loh…: Menteri Sosial Republik Indonesia. Karena itu ciptakanlan solusi. Tingkatkan kinerja stafnya di kementeriannya dengan bijak. Bukan menaburkan benih sakit hati. Kalau itu terjadi, jangan heran bila mbak menuai badai.

Mbak Risma, kalau tak penting benar, ngapaian harus marah. Kalau Mbak Risma rutin menaburkan senyum kepada staf, selain membuat wajah mbak awet muda, juga para staf akan bergairah dalam bekerja sesuai perannya masing-masing. Juga–masih berkaitan dengan senyum itu–mbak akan tampil berwibawa. Disegani. Bukan ditakuti. Karena telah tercipta nuansa kharismatik indah itu.


SELASA, 13 Juli 2021, di Jawa Barat, melihat staf yang tidak becus, mbak marah lagi. Lagi. Saat itu wajah mbak benar-benar…, apa ya? Sulit menggambarkan. Tak etis rasanya. Saat itu suara mbak melengking. Nyaring terbungkus dengan kemarahan yang teramat sangat. Memekakkan telinga bagi yang mendengarnya. Di hadapan sejumlah staf Kemensos, mbak Risma memamerkan kemarahan. Selain menjadikan staf itu sebagai tertuduh, mbak juga mengancamnya. “… sekarang saya enggak mau lihat seperti ini. Kalau saya lihat lagi, saya pindahkan ke Papua. Saya enggak bisa mecat, tapi saya bisa pindahkan ke Papua sana…,” geram Mbak Tri Rismaharani atau Mbak Risma, Menteri Sosial, itu.

Sadarkan mbak telah offside, keluar garis? Andaikan mbak mau memindahkan staf yang berprestasi ke Papua, mbak hebat! Artinya, ingin melihat Papua lebih maju lagi. Tapi tidak. Mbak justru mau memindahkan staf tak becus, tak punya prestasi, ke Papua. Dalam pandangan banyak orang, mbak telah melecehkan Tanah Papua. Lawan-lawan politik dan kaum oposan pun menangkapnya itu sebagai puluru tajam untuk membidikkan ke posisi mbak, termasuk ke pemerintahan Joko Widodo.

Itulah mbak buah kemarahan. Lantaran emosi meledak-ledak. Tak terkontrol. Papua dalam benak Mbak Risma pun terungkap. Sulit mbak menolak pandangannya tentang Papua yang telah keluar secara spontan itu. Itulah kebenaran dan kejujuran yang tersimpan dalam pikiran mbak tentang Papua, selama ini. Sebelum meluas, menjadi santapan kaum oposan, tentu saja juga rakyat Papua, hanya satu kalimat: minta maaflah ke rakyat Papua!

“Hanya satu nasihatku ke Mbak Risma.” Kawanku di kedai kopi tiba-tiba ingin menasihati Menteri Sosial, itu.

Mataku memelototinya. “Apa nasihatmu, Bung?”

“Mbak Risma, berhentilah marah-marah. Lebih baik senyum-senyum.”

Aku mengulum senyum mendengar nasihat kawanku itu. Aku pun mencoba membayangkan raut wajah Mbak Risma andaikan nasihat itu sampai pada dirinya. (#)

Ayo tulis komentar cerdas