Bino A Juwarno. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Kerukunan Warung Sari Laut Palu (KWSLP) mengambil langkah strategis untuk membantu anggotanya yang mengalami penurunan omset sebagai dampak dari diberlakukannya PPKM Mikro di Kota Palu.

Ketua Umum KWSLP, Bino A Juwarno SH MKn mengatakan, sejak awal-awal tahun lalu, dampak pandemi Covid kepada usaha warung sari laut alias warung “Mas Joko” sudah sangat luar biasa.

“Semenjak Covid ini, luar biasa memang dampaknya ke usaha kami. Terasa sekali omsetnya menurun,” katanya menjawab Metrosulawesi, Kamis 15 Juli 2021.

Penerapan PPKM kata Bino, makin memperparah usaha ‘Mas Joko’. Faktanya terbukti, penurunan omset sangat drastis karena pembatasan atau penerapan waktu jam berkunjung.

“Ini yang sangat memberatkan kami,” ujar Bino.

Namun KWSLP sebagai organisasi tempat di mana pemilik usaha “Mas Joko” itu bernaung telah memberikan sejumlah strategi untuk mengantisipasi agar omset bisa menaikkan kembali.

“Srategi-strategi untuk menaikkan omset, baik secara perorangan maupun kelembagaan terus kami sampaikan. Termasuk bagaimana bisa meningkatkan kualitas pelayanan,” jelas Bino.

Beruntung lanjut Bino, KWSLP sudah memiliki lumbung atau koperasi. Lumbung atau koperasi memberikan manfaat yang sifatnya timbal balik. Semua kebutuhan-kebutuhan warung sari laut “Mas Joko” baik, beras, minyak goreng dan sebagainya disuplai oleh koperasi. Keuntungan yang diperoleh koperasi sebagian diberikan kepada anggota dan sebagian lagi disimpan ke kas koperasi.

Di masa pandemi Covid dan PPKM saat ini, koperasi KWSLP memberikan keringanan. Misalnya, kelonggaran dalam hal membayar pembelian kebutuhan lewat lumbung atau koperasi.

“Kelongaran pembayaran inilah yang dirasa mungkin bisa memberikan angin segar sedikit, supaya bisa bernapas, sehingga dana yang dimiliki untuk modal terutama bisa diputar,” jelas Bino.

Kelonggaran pembayaran yang dimaksud kata Bino, yakni jangka atau waktu pembayaran diperpanjang. Yang biasanya dibayarkan per dua minggu, kini ditambah hingga tiga minggu, bahkan ada yang sampai sebulan.

“Anggota koperasi itu, ada yang belanja sampai 5 juta, 3 juta dan sebagainya. Pembayarannya itulah yang agak diperlonggar, ada yang tiga minggu, kadang-kadang ada sampai satu bulan akhir-akhir ini,” jelasnya.

Bino mengatakan, pihaknya terus berpesan kepada pengola lumbung untuk terus memberikan kelongaran kepada anggota dalam hal membayar pembelian kebutuhan digunakan ‘Mas Joko’. Saya rasa, ini saatnya kerukunan atau KWSLP, untuk selalu tak berhenti memberikan manfaat, memberikan kemudahan, memberikan kelonggaran dan perhatiannya kepada anggota.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejak bencana alam 28 September 2018 ditambah lagi bencana non alam Covid-19 yang hampir dua tahun, menyebabkan kian sulitnya usaha sari laut.

“Apalagi di masa pandemi ini dengan adanya pembatasan tentu semakin menyulitkan dan membuat pendapatan menurun,” kata Bino.

Dia berharap pemerintah Kota Palu memberikan kebijakan agar usaha tetap berlangsung dengan baik.

“Pada dasarnya kami mendukung PPKM mikro ini untuk memutus rantai penyebaran corona tapi kami juga meminta agar tetap diberikan ruang untuk berusaha,” kata Bino.

Alasannya, usaha sari laut itu juga turut memperkejakan banyak orang dan tentu membantu secara ekonomi.

“Misalkan ada 400 usaha sari laut dengan minimal dua orang tenaga kerja, maka ada 800 orang yang terbantu secara ekonomi,” ujar Bino.

Sementara itu, Kasat Polisi Pamongpraja Kota Palu Trisno Yunianto DP mengatakan, pembatasan dilakukan bagi pelaku usaha agar tidak menimbulkan kerumunan.

“Kalaupun tetap melayani sampai 24 jam boleh saja tetapi tidak boleh ada kursi dan meja. Silakan melayani dengan cara bungkus dan bawa pulang atau take away,” kata Trisno.

Dia juga menyebutkan setidaknya ada 14 usaha yang didenda karena melanggar protokol kesehatan seperti jaga jarak dan tidak mengenakan masker.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas