TAMBAH KEKUATAN - Sejumlah personel dari Polri yang memperkuat Operasi Madago Raya di wilayah Kabupaten Poso. Kali ini, Polri menambah jumlah personel untuk memperkuat pos sekat dalam pengejaran DPO MIT. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Operasi Madago Diperpanjang, Kekuatan Pos Sekat Ditambah

Palu, Metrosulawesi.id – Operasi Madago Raya di Poso diperpanjang lagi pada Kamis 1 Juli 2021. Selain diperpanjang, jumlah personel juga ditambah. Sampai saat ini operasi tersebut diperkuat 1.500 personel untuk memburu sembilan DPO kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol.Didik Supranoto SIK, yang juga sebagai Kasatgas Humas Ops Madago Raya, menjelaskan, perpanjangan Operasi Madago Raya itu, tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: STR/556/OPS.1.3/2021 tanggal 26 Juni 2021, ditanda tangani Asisten Operasi Kapolri, Irjen Polisi Drs Imam Sugianto, M.Si.

“Dalam telegram tersebut menegaskan bahwa operasi kepolisian kewilayahan Polda Sulteng backup Mabes Polri dan TNI dengan sandi Ops Madago Raya-2021 tahap II, berakhir pada tanggal 30 Juni 2021, dan akan dilanjutkan dengan Ops Madago Raya tahap III, yang dimulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 September 2021,” kata Didik kepada wartawan, Senin 5 Juli 2021.

Didik mengatakan, Ops Madago Raya tahap III, pelibatan kekuatan pasukan dalam pelaksanaan tidak jauh beda dengan tahap II, dan fokus Satgas Ops Madago Raya adalah melakukan pencarian, pengejaran, penangkapan dan penegakan hukum terhadap sembilan orang DPO MIT Poso.

Pada Ops Madago Raya tahap III ini, ada ketambahan sebanyak 190 personel dari Polri. Dengan penambahan itu, maka jumlat TNI/Polri dalam operasi Madago sebanyak 1.500 personel.

Didik mengatakan, penambahan ke-190 personel tersebut dimaksudkan untuk penebalan personel di pos-pos sekat.

“Untuk wilayah operasi masih difokuskan di tiga wilayah, yakni Poso, Sigi dan Parimo,” tambahnya.

Kasatgas Humas Madago Raya itu mengatakan, masih adanya dukungan dari simpatisan kelompok Ali Kalora menjadi salah satu kendala dalam pengejaran kelompok itu.

“Kunci dari orang gerilya adalah dukungan. Andaikan mereka (Kelompok MIT) tidak dapat dukungan dari mana pun, mereka akan kelaparan dan tidak akan mendapat informasi. Jadi diperkirakan masih ada beberapa wilayah dan orang yang mungkin menjadi simpatisan yang menyuplai logistik dan informasi,” urainya.

“Inilah mengapa dilakukan penyekatan, dan mempertebal pasukan di pos-pos penyekatan, agar tidak ada lagi bantuan kepada kelompok DPO MIT Poso, dari simpatisanya,” tambahnya.

Kombes Pol Didik juga menegaskan, Operasi yang dilaksanakan ini, dalam rangka penegakan hukum terhadap kejahatan teroris, untuk mewujudkan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Sulawesi Tengah.

“Teroris musuh bersama. Negara tidak boleh kalah dengan teroris,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu Kasatgas Humas juga mengimbau kepada para pelaku tindak pidana terorisme yang ada di Kabupaten Poso dan tergabung dalam MIT Poso yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sebaiknya agar menyerahkan diri.

“Polda Sulteng bersama tokoh agama akan menjamin keamanan, keselamatan dan perlakuan sesuai dengan Hak Asasi Manusia,” tutupnya.

Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol. Abdul Rakhman Baso mengimbau seluruh pihak untuk tidak pernah membantu kelompok tersebut.

Dari beberapa logistik yang ditemukan, kata Kapolda, ditengarai berasal dari simpatisan kelompok itu.

“Yang paling penting jangan simpati kepada teroris yang melakukan teror kejahatan kepada masyarakat,” katanya menegaskan.

Hingga kini, keberadaan Ali Kalora belum diketahui. Dari data kepolisian, sisa kelompok tersebut berjumlah sembilan orang.

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas