BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) telah mendesingkan peluru tajam. Dengan bidikan yang jitu, tembakannya tepat mengenai sasarannya. “Presiden Joko Widodo sebagai The King of Lip Service.” Kira-kira artinya: raja pembual. Begitu bunyi peluru itu. Anak-anak muda yang prihatin melihat tingkah pemimpinnya dan nasib bangsanya itu melontarkan kritik tajamnya melalui akun Twiter @BEMUI Official. Mereka tak gentar dengan risiko yang akan balik menyerangnya.

Benar saja perkiraan mereka. Baru beberapa menit menyebarnya hasil riset anggota BEM itu, pihak rektorat UI pun panik. Cemas. Mungkin stres. Dengan gaya ketakutan–seperti anak buah yang bakal dimarahi oleh atasannya–pihak rektor memanggil anggota BEM UI menghadap. Gentarkah mereka? Tidak! Lantaran apa yang disampaikan telah diyakini sebagai kebenaran.

Banyak pihak menilai mahasiswa kini telah tertidur pulas di saat bangsanya terluka. Luka parah. Namun munculnya peluru-peluru yang didesingkan oleh para mahasiswa dari Kampus Salemba–anggota BEM UI–itu membuat sejumlah pihak berdecak kagum. Sementara pihak lain melontarkan perlawanan dengan jurus mabuk. Mabuk karena reaksi mereka tak keluar dari akal sehat. Mereka ini termasuk golongan orang-orang alergi dengan kritik. Boleh jadi mereka ini terserang penyakit jiwa. Tak mampu menerima perbedaan pandangan. Beda dengan Joko Widodo, meski diserang peluru tajam oleh lawan-lawan politiknya, dia tetap tersenyun tuh…


PASTI yang kau tulis tentang penyebaran wabah yang kini makin meluas yang membuat rakyat seakan hanya menunggu giliran penjemputan kematian.” Kawanku di kedai kopi itu tiba-tiba menyimpulkan tentang tulisanku.

“Bukan masalah itu, Bung. Betul, kini wabah covid makin menggila. Bahkan dapat membuat bangsa besar ini terpuruk. Terjatuh. Dan sulit untuk dapat bangkit kembali. Namun kali ini aku memilih menulis tentang gagasan aktual yang cukup berani dari adik-adik kita mahasiswa.”

“Tentang apa itu?”

“Mereka, anggota BEM UI berani mengkritik Presiden Joko Widodo.”

“Kritik kan soal biasa.”

“Kali ini tidak biasa. Coba bayangkan, Bung. Mereka menuduh Presiden Joko Widodo sebagai The King of Lip Service.”

“Wah, pasti presiden kita tersinggung dan marah besar.”

“Justru terbalik. Presiden kita biasa-biasa saja menerima kritik yang bagaikan desingan peluru tajam menyerangnya itu. Pak Joko Widodo menilai kritik dari anak-anak BEM UI sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Presiden menyebut kebebasan berekspresi tak perlu dihalangi.”

“Menurutku respon presiden itu fatal.”

“Fatal bagaimana, Bung?”

“Seharusnya presiden kita itu mencatat kritikan-kritikan mahasiswa yang pikirannya masih murni. Misalnya, apa betul tuduhan mahasiswa itu? Apa betul KPK telah dilemahkan? Bila tuduhan adik-adik kita itu benar, ya dengar dan lakukan perbaikan, dong. Jangan diam!”

Seperti biasa bila kawanku itu sudah mengeluarkan statemen yang mengundang diperdebatkan, buru-buru pamit. Pulang duluan. (#)

Ayo tulis komentar cerdas